oleh

‎Petani Cemas Harga Sawit ‘Pecah Seribu’

MURATARA-Jelang perayaan lebaran Idul Fitri 2019, petani sawit di wilayah Kabupaten Muratara, mulai cemas harga komoditas sawit ‘Pecah seribu’. Petani mengaku, lima hari hari jelang lebaran perusahaan sawit akan tutup operasi. Sedangkan buah sawit banjir di pasaran lokal.

Wasir, petani sawit asal Desa Noman Baru, mengaku saat ini harga sawit di pabrik berkisar Rp1,020/Kg. Harga itu diprediksi akan terus alami alami penurunan lagi, seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang harga sawit Rp1,020/Kg, pasti harga itu akan turun lagi dan bisa pecah seribu (turun dari Rp1000, red). Ini yang membuat petani cemas. Kalau harga sudah pecah seribu petani seperti kami tidak akan dapat untung lagi,” katanya, Selasa (28/5).

Dia mengatakan, mau tidak mau proses pemanenan buah sawit harus dipercepat. Sehingga bisa dijual dengan harga di atas Rp1000/Kg. Karena petani membutuhkan tambahan nilai ekonomis lebih untuk menghadapi perayaan Idul Fitri 2019.

Wasir menimpali, penurunan harga komoditas sawit sudah berlangsung bertahap sejak satu pekan terakhir dari kisaran Rp1,200/Kg. Untuk saat ini harga sawit di tingkat pengepul, sudah mencapai Rp600/Kg.”Wong nak rayo hargo barang naek galo, cuma sawit inilah yang selalu turun. Wong biso lebaran megang duit, kami petani sawit gigit jari,” keluhnya.

Sementara itu, Amir pengepul sawit yang sempat dibincangi mengatakan. Penurunan komoditas sawit di 2019 bukan hanya dipengaruhi oleh penutupan oprasional pabrik menjelang lebaran. Namun penurunan sudah berlangsung sudah sejak awal. Karena harga sawit di wilayah Muratara tidak pernah tembus hingga Rp1500/kg di tingkat pabrik.

“La lamo nian idak naik-naik hargo sawit, mentok-mentok di Rp1200 itulah,” tegasnya.

Terpisah, Sohirin perwakilan PT Lonsum Muratara, yang bergerak di bidang komoditas perkebunan sawit mengatakan. Penurunan harga komoditas sawit memang terjadi sejak lama, dan penurunan itu bukan terjadi baru-baru ini saja.

“Memang sudah dari awal sawit di wilayah kita drop. Itu karena banyak juga hasil komoditas di ekspor ke luar negeri. Sedangkan kurs mata uang kita sudah melemah sejak awal di pasaran internasional,” ucapnya. (cj13)

Komentar

Berita Lainnya