oleh

11 Orang Tewas Tertimbun Tanah Longsor Tanah Tambang

3 Penambang Selamat dari Maut

MUARA ENIM – Aktivitas penambangan batubara liar atau ilegal yang dikemas tambang rakyat (TR) di Desa Desa Penyandingan, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim menelan korban jiwa. Sebanyak 11 penambang tewas setelah tertimbun tanah longsor saat membuat jalur galian tambang dan 3 orang pekerja selamat.

Adapun 11 korban tewas tersebut yakni Darwis, Hardiawan, Rukasih, Zulpiawan yang keempatnya adalah warga Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung, Muara Enim. Lalu Joko Supriyanto dan Purwadi warga Desa Penyandingan, Kecamatan Tanjung Agung, Muara Enim. Sandra warga Jawa Tengah, Sumarli warga Desa Muara Kisam, Oku Selatan, Hapron warga Lampung, dan Umardani warga Desa Sukaraja dan Labisun warga Lampung Utara.

Sedangkan tiga orang lainnya selamat yakni Bambang (36), warga Desa Sumber Agung, Kecamatan Kepoh Baru, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Mahmud (26), warga Desa Batu Menyan, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan dan Dadang Supriatna (56), warga Desa Pengalengan, Kecamatan Pengalengan, Kabupaten Bandung Selatan.

Informasi dihimpun dilapangan, peristiwa tersebut terjadi Rabu (21/10) sekitar pukul 15.00 WIB. Awalnya para penambang yang sebagian besar masyarakat desa setempat hendak melakukan aktivitas tambang diareal tambang rakyat yang berada di Desa Penyandingan. Karena areal tambang berada ditengah kebun sawit milik berinisial H, 14 pekerja tambang rakyat ini membersihkan lumpur tanah bekas kupasan tanah sebagai lokasi tambang baru menunggunakan alat berat lebar 4 meter dan kedalaman 9 meter.

Sebelum kejadian tersebut Dadang Supriatna diperintahkan Purwadi selaku mandor untuk membeli makanan diwarung. Sementara 13 pekerja tetap melakukan aktivitas pembersihan lumpur mekakai alat tradisional. Nahasnya, dinding tanah tempat mereka memberisihkan lumpur tersebut tiba-tiba longsor dan menimpah 11 penambang hingga tewas. Sedangkan dua orang pekerja lainnya yakni Bambang dan Mahmud berhasil selamat karena posisi kedua jauh di lokasi longsong tempat 11 korban yang tertimbun.

“Pak Dadang disuruh mencari makanan oleh Purwadi. Sedangkan saya dan Mahmud bersama 11 orang lainnya gotong rotong membersihkan lumpur. Namun waktu itu, saya sama Mahmud posisinya diujung, sedangkan 11 orang lainnya posisinya tepat ditengah timbunan longsor. Waktu kejadian itu sangat cepat, tiba-tiba tanah diatas longsor sehingga menimbun 11 orang yang berada dibawah. Tidak ada suara teriakan yang keluar dari 11 orang tersebut, saya sama Bambang panik teriak minta tolong. Kemudian pak Dadang tiba usai belanja makanan dan kemi bertiga minta pertolongan warga,” ujar Bambang kepada awak media.

Ke 11 korban berhasil di evakuasi satu jam pasca kejadian setelah satu unit alat berat didatangkan untuk melakukan pengupasan tanah longsong dan dibawa ke Puskesmas Tanjung Agung. Setelah identitas korban diketahui semua 11 jenazah korban langsor tanah tambang diambil pihak keluarnya masing-masing.

Kapolres Muara Enim AKBP Donni Eka Syaputra SH SIK MM, mengatakan menyebut penyebab banyaknya korban meninggal dilokasi tambang ilegal desa Penyandingan karena pekerja minim dibekali ilmu keselamatan (safety) dalam bekerja. “Safety tidak ada, penambang tanpa skil keamanan dan ditambah lagi musim hujan sehingga rawan longsor,”kata Kapolres.

Kapolres menegaskan pihaknya telah melakukan penyelidikan terhadap kejadian tersebut. Dirinya memastikan jika memang terbukti ada pihak yang bertanggung jawab penuh kejadian nahas tersebut maka kepolsian tak segan memproses lebih lanjut. “Kita sudah lakukan olah TKP, memasang police line, terus kita kembangkan dengan mencari informasi dan keterangan pada orang-orang terkait dilokasi,”ujarnya.

Terpisah, Jamaludin paman korban Supriyanto, mengatakan pihak keluarga mengetahui kejadian tersebut longsor yang menimpah keponakannya tersebut pukul 16.00 WIB. Begitu mengetahui informasi tersebut, kata dia, dirinya selama keluarga lainnya langsung menujuh lokasi kejadian. “Begitu keponakannya ditemukan saya kaget dan sempat pingsan. Apalagi dua anak keponakannya tersebut masih kecil.

Diceritakannya, hahwa Supriyanto berprofesi sebagai petani kopi di bukit barisan yang berbatasan Muara Enim-Lahat. Berhubung kopi berbuah, kata dia, keponakannya tersebut bekerja ditambang rakyat sebagai ojek angkutan karung dan menerimah upah akut Rp2000 per karung. “Dari lokasi tambang sampai kelokasi penumpukan mendapat upah Rp2000 per karung,” jelasnya. (ozi)

Komentar

Berita Lainnya