oleh

15 Korban Meninggal, 20 Korban Masih Tertimbun

-Nasional-710 views

SUKABUMI – Malam tahun baru, Senin (31/12) kemarin menjadi malam yang tak terlupakan buat warga di Kampung Adat di Dusun Garehong, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Sebanyak 30 unit rumah yang dihuni 32 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 101 jiwa, tertimbun longsor.

Radar Sukabumi melansir, hingga Minggu (1/1) kemarin sudah 15 orang meninggal dunia dari 35 warga yang terindikasi tertimbun di lokasi bencana longsor. Sedangkan, 63 jiwa berhasil selamat dan tiga orang terluka.

“Dari ratusan jiwa ini, 63 jiwa di antaranya selamat. Sedangkan tiga orang luka dan 15 ditemukan meninggal dunia. Sisanya tinggal 20 jiwa lagi belum ditemukan,” Kasi Ops Basarnas Jakarta, Made Oka, Selasa (1/1).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi sendiri menyatakan, lokasi bencana longsor yang menimbun puluhan rumah penduduk tersebut memang merupakan daerah yang rawan bencana alam. Seperti banjir dan longsor.

“Sejak tahun 2010, hampir setiap tahun longsor sering terjadi di daerah ini. Namun, bencana terbesar memang tahun ini,” tutur Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman.

Bukan hanya itu, lokasi bencana tanah longsor di daerah tersebut, merupakan salah satu prioritas BPBD Kabupaten Sukabumi dalam melakukan investigasi bencana.

“Kami sudah melakukan pengamatan sementara, bahwa daerah ini memang sangat rawan dan rentan terjadi pergerakan tanah dan tak layak untuk dihuni,” paparnya.

Menurut Eka, penduduk yang menjadi korban bencana tersebut, memiliki adat yang berbeda dengan warga di kota.

“Jadi, mereka ini suka menempati tempat-tempat yang lokasinya berdekatan dengan area pertanian dan tidak memikirkan dengan kondisi bangunan yang ada. Akibatnya, saat hujan deras, maka bukit itu langsung tumpah dan menggerus tanah dan menimbun rumah penduduk,” tandasnya.

Sementara itu, seorang warga Kampung Cimapag, RT 3/4, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Upad (35) mengatakan, mayoritas mata pencaharian warga bekerja sebagai petani.

“Warga di sini juga tahu, kalau lokasi daerah miring dan berbukit ini merupakan kawasan berpotensi longsor. Namun, mau bagaimana lagi, karena kawasan itu sudah menjadi ladang untuk memenuhi kehidupan keluarganya,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga mengaku sering mendapatkan pemberitahuan dari pemerintah desa melalui kepala dusun dan Ketua RW dan RT mengenai larangan soal membuat rumah di lokasi rawan pergerakan tanah.

“Tapi, warga di sini sudah menjadi budaya jika menanam padi atau kapol pasti lokasinya di daerah perbukitan. Karena, air untuk pengairan lahan pertaniannya sangat baik,” pungkasnya. (den/e)

Komentar

Berita Lainnya