oleh

2020 Kasus Asusila Tertinggi di Muratara

MURATARA – Di 2020 Kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, meningkat pesat di wilayah Kabupaten Muratara. Data di himpun, sejak Januari-Juli 2020 di dapati 8 kasus pelecehan seksual anak di bawah umur dan di Agustus-Desember kasus itu kembali bertambah 5 kasus baru.

Kapolres Muratara AKBP Eko Sumaryanto melalui AKP Dedi Rahmad Hidayat, Jumat (25/12) mengungkapkan, dari tiga tahun terakhir, di 2020 paling banyak didapati kasus pencabulan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Menurutnya kasus ini lebih menonjol dari kasus lainnya, bahkan untuk jumlah kasus 3 C, (Curas, Curat, Curanmor) terbilang lebih rendah ketimbang kasus asusila. “Sekarang di 2020 justru lebih meningkat kasus cabul dan sosial ketimbang dari kasus kasus lainnya, 3C lebih turun saat ini,” bebernya Kasat Reskrim Polres Muratara.

AKP Dedi Rahmad Hidayat mengatakan, kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur di pengaruhi beragam faktor. Diantaranya, kurangnya interaksi sosial, masalah finansial, pola hidup, hingga pendidikan terhadap anak.

“Rata rata korban merupakan anak di bawah umur dan pelaku merupakan orang dekat korban. Ini artinya perlu adanya proteksi dini terhadap anak di bawah umur yang rentan menjadi korban kekerasan seksual,” timpalnya.

Informasi di himpun, di 2019 di dapati 11 kasus asusila, 2018 ada 7 kasus, 2017 ada 7 kasus dan di 2016 ada 6 kasus. Sebelumnya, Kepala dinas DPMPD-P3A Muratara, Hj Gusti rohmani melalaui sekertaris Linda, mengungkapkan dari beragam permasalahan yang terjadi selain anak di bawah umur rentan menjadi korban pelecehan seksual. Anak anak juga rentan mengindap sindrom phobia, akibat kekerasan dan pengancaman yang dilancarkan pelaku.

“Ada kasus yang kami temui, ada anak yang digauli bapaknya berulang ulang kali. kondisi itu bukan hanya menimbulkan kasus kriminal saja, tapi dampak berkepanjangan. Sehingga membuat korban itu alami penyimpangan prilaku dan mental sehingga menggangapnya biasa,” timpalnya.

Mengatasi masalah itu, DPMPD-P3A Muratara menyediakan tenaga konseling khusus untuk mengobati luka trauma anak anak yang terkena kasus pelecehan seksual, melindungi privasi korban, dan memberikan pendidikan proteksi dini terhadap anak anak agar mereka bisa menjaga diri dari kejahatan pelaku seksual.

“Kita ajarkan anak anak proteksi dini, jangan mau di pegang bagian dada, kelamin bagian pantat, dan mulut. Jika ada yang begitu anak anak kita ajarkan untuk melapor ke orang tua dan lari dari cengkraman pelaku,” timpalnya.

Pihaknya mengaku kerap terkendala, masih banyaknya masyarakat yang beranggapan tabu mengenai masalah pelecehan seksual dilingkungan mereka. Sehingga banyak kasus yang terungkap, sudah terjadi secara berulang ulang.

“Itu karena keluarga korban enggan melapor, mereka masih menganggap tabu dan aib bagi keluarga. Jadi kalau tidak didesak, warga banyak yang tidak mau melaporkan masalah itu,” tutupnya.(cj13)

Komentar

Berita Lainnya