oleh

2021, Ekonomi Sumsel Meningkat Sekaligus Pengangguran dan Kemiskinan

SUMEKS.CO – Pandemi COVID-19 membuat perekonomian Sumatera Selatan (Sumsel) anjlok negatif pada triwulan ke dua 2020. Merujuk pada tabel periodik proyeksi PDRB Bank Indonesia perwakilan Sumsel. Yakni, bertengger pada -1.00 setelah sebelumnya capai 5,50 pada triwulan pertama.

Mekipun demikian, diprediksi perekonomian Sumsel akan capai tingkat optimis 5,2 – 5,6 pada triwulan ke empat 2021 mendatang.

Hal tersebut dikatakan Kepala kantor perwakilan Sumsel Bank Indonesia, Hari Widodo. Menurutnya, perekonomian Sumsel menunjukkan perbaikan yang ditandai mulai membaiknya komponen pengeluaran. Itu terlihat dari indeks aktifitas masyarakat, rencana investasi dan ekspor luar negeri.

Berdasarkan hasil survei Bank Indonesia, pada sektor investasi yang dilakukan pelaku usaha di Sumsel, menunjukkan optimisme. Tertuang dalam skala linkert perkiraan investasi triwulan ke dua. Mulanya pada posisi 0,45 di triwulan ke tiga 2020 meningkat menjadi 0,5.

“Juga dapat dilihat konsumsi rumah tangga kita (Sumsel) mulai membaik. Itu terlihat dari pergerakan masyarakat yang meningkat. Pada tabel periodik mobilitas masyarakat menuju pusat perbelanjaan dan pasar. Merangkak mendekati posisi normal (0) dari -10 hingga -20 di triwulan 3 2020,” katanya saat Public Expose arah implementasi kebijakan fiskal dan moneter tahun 2021 di Sumsel. Yang tepusat di Aula Badan Keuangan Negara, Jalan Kapten A Rivai, Palembang. Selasa (22/12/2020).

Maka itu, mengartikan, sirkulasi peredaran uang dipasar melaju produktif. Telebih, dilihat dari berkurangnya kontraksi menjadi 1,4 persen (yoy) dari sebelumnya terkontraksi sebesar 1,53 persen (yoy). “Dari sisi permintaan seluruh komponen mengalami peningkatan, kecuali konsumsi Pemerintah,” bebernya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan. Pihaknya menawarkan kebijakan yang akomodatif. Untuk menopang pertumbuhan ekonomi Sumsel dimasa kenormalan baru ini. Seperti penurunan suku bunga pada level 3.75, percepatan realisasi belanja APBN dan APBD, dan stimulus moneter macroprodensial.

Pasalnya, cara berbisnis masyarakat di era kenormalan baru telah berubah. Yang condong memberdayakan inovasi teknologi terbarukan, yang disebutnya digitalisasi perbankan.

“Itu untuk mendorong instrumen pembayaran non tunai, yang selama kondisi pandemi ini sangat relevan. Kami melakukan kebijakan penurunan suku bunga, kebijakan ini yang akan dilakukan untuk menginjeksi likuiditas. Maka itu di prediksi pinjaman akan meninggat hingga US$ 19,6 miliar,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Regional 7 Otoritas Jasa Keuangan Sumbagsel, Untung Nugroho, mengatakan. Dalam arah implementasi kebijakan 2021. Pihaknya mendorong lembaga keuangan melakukan relaksasi perhitungan modal. Sekaligus proaktif terhadap kebijakan digitalisasi yang sudah dilakukan. Seperti halnya, telah dilakukan perpanjangan restrukturisasi pada lembaga keuangan hingga maret 2022.

“Lembaga keuangan menilai kualitas kredit, hanya pada ketepatan pembayaran. Tahun ini kita tutup mata kalau dia bayar dianggap lancar,” katanya.

Lanjutnya, OJK mencatat. Progres realisasi kebijakan stimulus restrukturisasi per november 2020 menunjukkan 72 ribu debitur dengan OS Rp 6,4 triliun di sektor perbankan dan pada perusahaan pembiayaan 128 ribu debitur OS Rp 5,0 triliun. Itu mengartikan, berstimulus dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.

Kendati demikian, Dia meminta lembaga keuangan untuk melakukan biaya pencadangan dan dapat mengantisipasi dampak krisis.

Pasalnya, OJK tidak bisa terus melakukan restrukturisasi kredit (pembiayaan) kepada lembaga keuangan. “Kebijakan tahun depan harus ada penciptaan permintaan kredit lebih ke sektor riil,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu, Kepala BPS Sumsel, Endang Tri Wahyuni, juga mengindikasikan Perekonomian Sumsel akan terus membaik.

Bahkan pihaknya mencatat, laju pertumbuhan ekonomi Sumsel berada diatas persentase nasional. Yakni per triwulan ke tiga bertengger di -1,40 sedangkan nasional 3,49.

“Reaksi pemerintah membuat program PEN, dan PES di Sumsel. Tampak di Triwulan ketiga membuat pertumbuhan kita sebesar -1,4. Itu artinya lebih baik. Program tersebut berhasil bisa menaikkan dari yang belum ditetapkan,” sampainya secara virtual.

Kendati demikian, tantangan Sumsel kedepan. Menurutnya bagaimana penciptaan lapangan kerja. Sebab, tercatat Sumsel per agustus 2020, tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebanyak 5.51 persen dibawah nasional 7,07. Itu terjadi di rentang usia dewasa 25 – 59 tahun dengan persentase 79,10 persen.

“Jumlah penduduk usia kerja yang terdampak COVID-19 mencapai 597,88 ribu orang. Sebanyak 49,8 ribu orang pengangguran di Sumsel. Mereka mengalami dirumahkan, PHK di beberapa industri dan perusahaan,” ungkapnya.

Disamping itu yang menjadi catatan tantangan Sumsel kedepan, mengatasi kemiskinan. Diketahui angka kemiskinan di Sumsel sempat meningkat pada 2019, 12.71 ribu. Sementara dapat ditekan Per maret 2020 menjadi sebanyak 12,66 atau mencapai 1.081,58 ribu orang dari total jumlah penduduk.

Dalam hal ini yang menjadi kendala, menurutnya, kebijakan bantuan sosial belum tepat sasaran. itu dikarenakan data terpadu kesejahteraan sosial (dtks) belum akurat terintegrasi dan adiptif.

“Kita harus optimis, dalam arah implementasi kebijakan fiskal 2021, kondisi demikian membuka siapapun untuk dapat membangun daerah,” pungkasnya. (Bm)

Komentar

Berita Lainnya