oleh

55 Wanita Muda Cantik Akan Dikirim ke Timur Tengah

-Dunia, Hukum-431 views

SUMEKS.CO-Sebanyak 55 wanita muda Indonesia berhasil diselamatkan Direktorat Tindak Pidana kriminal Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri. Mereka rencananya akan dikirim ke Timur Tengah untuk kebutuhan bisnis esek-esek.

Wanita-wanita umumnya berusia 20-30 tahun ini diselamatkan dari dua lokasi berbeda yaitu Jakarta Timur dan Cianjur, Jawa Barat pada Senin (28/10). Mereka merupakan korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau human trafficking yang rencananya akan dikirim ke Arab Saudi, UEA, dan Abu Dhabi.

Wakil Direktur Ditipidum Kombes Pol Agus Nugraha mengatakan sebanyak 48 wanita muda diselamatkan ketika polisi menggerebek sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja ilegal atas nama PT HKN di Perumahan Cibubur Indah, Ceger, Jakarta Timur. 48 wanita tersebut mengaku akan diberangkatkan ke Abu Dhabi dan Arab Saudi. Mereka dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

“Ya, dari hasil penyelidikan kami pastikan di rumah tersebut ada 48 perempuan yang hasil interogasi. Sebanyak 34 orang asal Jawa Barat, seperti 13 dari Cianjur, 3 orang dari Purwakarta, 5 orang dari Sukabumi, 3 dari Majalengka. Sisanya, 5 dari Lampung, 2 dari Lombok, 1 dari Samarinda, dan 6 dari NTT,” kata Agus saat konferensi pers di Bareskrim Polri, Selasa (29/10).

Selain menyelamatkan 48 wanita muda, polisi juga mengamankan 6 orang pengurus perusahaan.

“Dari introgasi itu kami pun telah mengamankan pengurus perusahaa HKN sebanyak 6 orang. Hal ini karena mereka patut diduga akan menjadi pelaku pengiriman secara non-prosedural atau ilegal,” ungkap Agus.

Keenam orang yang diamankan, terdiri dari Direktur utama berinisial AR, lalu bendahara yang bertugas mendistribusikan dana kepada calon korban maupun keluarga, kemudian koordinator lapangan yang menampung calon korban dari berbagai wilayah di rumah tersebut.

“Selain itu, kita amankan juga bagian administrasi berinisial AM, dan bagian ticketing berinisial TM, serta yang bertugas menjaga rumah penampungan berinisial MM,” terangnya.

Agus menjelaskan untuk melancarkan aksinya, para pelaku menjerat korbannya dengan menjanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi.

“Hasil penyelidikan sementara, para pelaku ini menjanjikan kepada korban bekerja di Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji sekitar gaji Rp5 juta per bulan atau 1200 real. Adapun dari pengungkapam ini kita berhasil mengamankan beberapa barang bukti, berupa 25 paspor, 25 visa, 25 printout e-ticket dan 1 komputer,” ujarnya.

“Perusahaan ini sudah beroperasi sejak 2014 sampai tadi malam, dan para pelaku mengaku telah mengirimkan sebanyak 1.200 orang ke Timur Tengah,” sambung sosok perwira menengah Polri berpangkat melati tiga tersebut.

Agus menambahkan, 48 wanita tersebut rencananya akan diberangkatkan pada Selasa (29/10) dan Rabu (30/10). Namun, dia mengaku, bersyukur malam tadi berhasil digagalkan, sehingga 48 orang yang merupakan calon korbannya bisa diselamatkan.

“Jadi, rencananya hari ini dan besok 48 calon korban ini diberangkatkan. Tapi Alhamdulillah malam tadi kami gagalkan, sehingga ke-48 calon korban ini bisa kami selamatkan dan kini mereka masih dalam pengamanan kami di Mako Bareskrim, selanjutnya akan kami limpahkan ke Kemensos ke rumah perlindungan center,” tambahnya.

Selain itu, Agus mengatakan pihaknya juga membongkar lokasi wisata khusus bagi lelaki Timur Tengah di wilayah Cianjur atau Kota Bunga, Jawa Barat.

“Kami telah melakukan penyelidikan, dan hasilnya didapatkan dugaan tindak pidana, kita langsung tindak. Dari hasil penindakan yang kami lakukan memang benar, patut diduga ada praktik TPPO dengan modus merekrut dan pekerjakan beberapa perempuan guna melayani atau mengadakan perbuatan cabul dengan oknum masyarakat khususnya tamu atau WNA di Kota Bunga,” ungkapnya.

Disampaikan Agus, dalam kasus ini diamankan empat pelaku yang diduga mempermudah terjadinya perbuatan cabul dengan modus merekrut dan mempekerjakan beberapa perempuan.

“Kita sendiri dalam hal ini telah mengamankan 7 orang sebagai korban, diantaranya 6 warga negara lokal dan 1 WNA dari Maroko. Dan untuk enam korban warga lokal saat ini sudah kita kembalikan ke orangtuanya,” imbuhnya.

Agus menuturkan, untuk empat pelaku dalam kasus ini yakni KJ atau disana terkenal dengan nama Om Grace dan Tante Onel, serta dua lainnya berinisial NS dan YD. Mereka diduga lakukan aksinya dengan menjanjikan korban ke tamu-tamu yang berwisata ke Kota Bunga.

“Intinya, ada tamu yang ada di sana, bisa jadi tamu yang berwisata, ada yang lokal ada yang dari wilayah timur tengah juga,” ucapnya.

Dari penyelidikan, pihaknya dapat data dan fakta bahwa korban WNA Maroko inisial HK mengaku sudah datang berulang kali ke Indonesia sejak 2010. Untuk memenuhi biaya hidup di Indonesia, yang bersangkutan berkenalan dengan salah satu pelaku untuk dijajakan diri.

“Untuk tarif HK itu khusus, Rp10 juta short time. Dan untuk harga long timenya tergantung hasil negosiasi. Sementara untuk lokal, Rp1 juta sampai Rp3 juta. Adapun dari hasil penyelidikan kita mendapatkan fakta, bahwa korban tidak menerima sepenuhnya, mereka menerima 70 persen, dan 30 persennya untuk para pelaku,” tuturnya.

“Kini, atas perbuatan para pelaku yang kita amankan sudah kita proses, kita terapkan tidak hanya pasal 2 UU RI Nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dan atau pasal 296 KUHPidana dengan ancaman pidana penjara maksimal 15 tahun dan juga pasal 26 KUHP,” tandasnya.

(Mhf/gw/fin)

Komentar

Berita Lainnya