oleh

555.906 Peserta Ikut UTBK Tahap Pertama, Bisa Ikut Susulan dengan Catatan

SUMEKS.CO- PALEMBANG- Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK)-Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 diadakan di 73 pusat UTBK. Setidaknya ada 555.906 peserta yang mengikuti tes pada tahap pertama yang diadakan hingga 14 Juli 2020.

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) Jamal Wiwoho menegaskan bahwa seluruh PTN yang menjadi pusat UTBK telah 100 persen siap. Meskipun, satu PTN akhirnya memutuskan tidak ikut dalam pelaksanaan UTBK tahun ini. ”Memang ada satu yang tidak siap, yaitu Unesa. Jadi, tidak ikut dalam pelaksanaan tahun ini yang kemudian pesertanya dipindah ke ITS dan Unair,” tuturnya kemarin.

Segala persiapan ujian, kata dia, telah dimatangkan. Mulai skema peserta datang, sarana dan prasarana cuci tangan, proses pergantian sesi ujian hingga mitigasi bila ada kondisi force majeure. Lebih detail dia memaparkan, pintu masuk universitas hanya ada satu yang difungsikan. Tujuannya, memastikan seluruh protokol kesehatan benar-benar diterapkan.

Peserta juga wajib memakai masker saat masuk. Suhu tubuh mereka pun harus dites dengan thermo gun. ”Kemudian, bagi yang diantar, hanya akan didrop di depan. Pengantar dilarang turun, apalagi mengantar sampai ruang tes,” tegasnya.

Peserta yang terdeteksi demam dengan suhu di atas 38 derajat Celsius akan langsung dilarang masuk. Yang bersangkutan tidak diizinkan mengikuti ujian di hari tersebut. Sebagai ganti, peserta diberi kesempatan untuk mengikuti tes susulan. ”Boleh susulan, boleh di tahap II. Kita tunggu sampai suhu turun,” jelas rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut.

Menurut dia, yang paling penting saat ini ialah menjamin keselamatan dan keamanan peserta, pengawas, panitia, pengantar, dan masyarakat pada umumnya. Pihaknya tidak ingin ada klaster baru dalam pelaksanaan UTBK kali ini.

Karena itu, ada perubahan-perubahan yang dilakukan dalam pelaksanaan UTBK di masa pandemi saat ini. Di antaranya, perubahan jadwal ujian yang dilaksanakan dua kali.

Tahap pertama pada 5–14 Juli 2020 diselenggarakan di 73 pusat UTBK dan tahap kedua pada 20–29 Juli 2020 dilaksanakan bekerja sama dengan SMA/SMK, termasuk perguruan tinggi swasta tempat peserta UTBK berada. Tahap kedua, diakui Jamal, diputuskan agar tidak menyebabkan perpindahan peserta dari satu tempat ke tempat lain. Terutama antarpulau dan antarprovinsi. ”Karena itu, yang mengambil pusat UTBK luar mengikuti di tahap II yang dikondisikan oleh LTMPT,” paparnya.

Di UNS, misalnya, setidaknya ada 5 ribu peserta dari 24 ribu peserta yang dipastikan mengikuti UTBK tahap II karena berada di luar wilayah Solo. Jamal mengatakan, pihaknya hanya menerima peserta dari Solo, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, dan Boyolali karena dinilai lebih aman dari penularan Covid-19.

Selain itu, ada pengurangan sesi ujian dari empat sesi menjadi dua sesi dalam sehari. Cara itu diharapkan bisa mengurangi kerumunan dan pengumpulan massa. Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) juga telah mengatur jarak setiap sesi agar tidak terlalu berdekatan. Sesi I diselenggarakan pukul 09.00–11.15 WIB, kemudian sesi II pukul 14.00–16.15. Jeda tersebut digunakan untuk melakukan pembersihan ruang kelas hingga komputer.

”Setelah sesi I selesai, langsung dilakukan pembersihan dengan protokol Covid-19, baik meja, kursi, komputer, maupun keyboard,” ungkapnya.

Seluruh pusat UTBK telah bekerja sama dengan satgas Covid-19 di daerah masing-masing. Satgas menjadi leading sector untuk menjaga kesehatan dan keselamatan seluruh peserta dan panitia saat tes berlangsung. Mereka bakal stand by selama tes. ”Satgas ini yang juga memberikan rekomendasi soal boleh tidak daerah tersebut menyelenggarakan UTBK di sana,” tutur Jamal.

Konferensi Forum Rektor Indonesia

Presiden Joko Widodo kembali mendorong kampus untuk memanfaatkan momentum naik kelasnya Indonesia menjadi middle income country. Targetnya, Indonesia bisa masuk jajaran negara berpenghasilan tinggi pada 2045 atau saat usia seabad NKRI.

Kebutuhan utama untuk menaikkan level Indonesia adalah SDM yang unggul, produktif, inovatif, dan kompetitif. ”Di sinilah posisi strategisnya pendidikan tinggi, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi,” terang Jokowi. Tugas kampus, papar dia, mencetak anak-anak muda produktif dan kompetitif untuk ikut andil memajukan Indonesia.

Untuk itu, kampus harus mengembangkan cara-cara dan strategi baru dalam menyiapkan SDM unggul. Menggunakan jalan pintas yang cerdas dan out of the box. Sebagian mulai terealisasi saat ini di tengah pendemi, yakni dengan menjalankan kuliah secara daring.

Cara lain, kampus-kampus harus berbagi dan bekerja sama. Mulai berbagi pengalaman, berbagi kurikulum dan silabus, berbagi koleksi perpustakaan, bahkan bila diperlukan berbagi dosen hingga perkuliahan secara daring. Dia yakin forum rektor mampu merumuskannya.

Presiden juga mendorong para rektor untuk memfasilitasi mahasiswa belajar kepada siapa saja. Bukan hanya dari dosen. ”Mahasiswa juga belajar kepada pelaku industri, wirausahawan, praktisi pemerintahan, praktisi hukum, dan para pelaku lapangan lainnya,” lanjut Jokowi. Dengan begitu, mahasiswa bisa segera menangkap perubahan di luar yang begitu dinamis.

Langkah konkret yang bisa dilakukan, misalnya, kampus bekerja sama dengan industri. Termasuk, kawasan industri yang terdekat dengan lokasi kampus. Bentuk kerja samanya bisa dengan membuka fakultas atau program studi yang karakternya dekat dengan jenis industri di kawasan tersebut. Selain itu, kampus bisa melakukan kerja sama penelitian dan pengembangan dengan kawasan industri.(jpg/jawapos)

 

Komentar

Berita Lainnya