oleh

60 Tewas di Irak, Demo Korupsi dan Banyaknya Pengangguran

-Dunia-93 views

IRAK – Sebanyak 60 orang tewas dalam aksi unjuk rasa yang dilakukan di Irak semenjak 4 hari terakhir. Para korban berasal dari kepolisian dan masyarakat. Para pendemo bentrok dengan polisi. Mereka memprotes jumlah pengangguran dan para koruptor di negara tersebut.

Aksi ini memicu ulama Irak, Moqtada Sadr buka suara. Ia meminta pemerintah untuk mundur diridaripada korban terus bertambah. “pemerintah harus mengundurkan diri dan pemilihan awal harus diadakan di bawah pengawasan PBB,” kata Sadr dilansir AFP, Sabtu (5/10). Dia menambahkan, tak bisa bisa diam melihat darah Irak ditumpahkan.

Pada Jumat (4/10) kemarin, aksi unjuk rasa telah memakan sebanyak 16 korban jiwa. 4 diantaranya berasal dari pihak keamanan. Unjuk rasa terus memanas hingga pada sabtu (5/10), total korban yang tewas mencapai 60 orang. Menurut pasukan keamanan, para korban tewas ditembak oleh pasukan penembak jitu yang tidak dikenal. Wartawan AFP melaporkan, ikut mendengar tembakan senapan otomatis yang cepat di seluruh ibukota.

Pemimpin spiritual Syiah Ayatollah Besar Ali Sistani mendesak pihak berwenang dalam pidatonya untuk segera mendengar tuntutan pata pendemo. Ia memperingatkan pemerintah, bahwa protes tak dapat meningkat kecuali jika langkah segera dan jelas diambil.

Sementar itu, Perdana Menteri Adel Abdel Mahdib ikut meredamkan para pendemo. Dalam pidato pertamanya sejak protes dimulai Selasa lalu, perdana menteri meminta kesabaran dari para penganggur muda yang terlibat dalam aksi protes. Ia mengatakan, pemerintahannya belum berusia setahun, hingg harus membutuhkan lebih banyak waktu untuk melaksanakan reformasi.

AFP melaporkan, meskipun internet dan listrik dimatikan, warga Irak memadati Lapangan Tahrir yang ikonik pada hari Jumat kemarin, hingga terlibat bentrok dengan polisi anti huru hara..

Pasukan keamanan menghalang para demonstran dengan rentetan tembakan dan wartawan mengatakan mereka melihat beberapa orang terkena peluru, beberapa di kepala dan perut.

“Kami bukan penyusup,” teriak pengunjuk rasa di ibukota, menanggapi tuduhan dari pejabat Irak bahwa “agresor” berada di belakang protes.

Demonstran Sayyed mengatakan kepada AFP bahwa protes akan berlanjut “sampai pemerintah jatuh”. Protes pertama kali pecah di Baghdad pada hari Selasa dan sejak itu menyebar ke selatan yang didominasi Syiah.

Sumber-sumber medis mengatakan bahwa sebagian besar dari para demonstran yang tewas terkena peluru, tetapi tidak menentukan siapa yang menembak. Komisi hak asasi manusia Irak mengatakan pengunjuk rasa yang terluka ditangkap dari rumah sakit, oleh pasukan keamanan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Amnesti Internasional mendesak pemerintah Irak untuk menghormati hak berkumpul secara damai.

“Kami khawatir dengan laporan bahwa pasukan keamanan telah menggunakan amunisi hidup dan peluru karet di beberapa daerah, dan juga telah menembakkan tabung gas air mata secara langsung pada pengunjuk rasa,” Kay Marta Hurtado, juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, mengatakan kepada wartawan di Jenewa (AFP/fin)

Komentar

Berita Lainnya