oleh

Subandi : Kalau Boleh Milih, Saya akan Pilih Anak Saya Daripada Harta

MARTAPURA – Isak tangis  mengiringi pemakaman Mahasiswi Keperawatan Unsri Fiwi Anggraini  yang tewas akibat lakalantas yang terjadi Jumat (1/11/2019) di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir.

Jenazah tiba di rumah duka hari Sabtu (2/11/2019) sekitar pukul 03.00 WIB

Anak sulung dari Subandi dan Dewi itu dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Desa Tulang Bawang, Kecamatan Bunga Mayang Kabupaten OKU Timur Sabtu  sekitar pukul 10.30 WIB.

Saat ditemui dikediamanya, ayah dan ibu almarhumah mengatakan, tidak ada firasat apa-apa mengenai anak mereka itu, tanda-tanda akan perginya sang anak memang diakui  sang ayah sudah ada sejak seminggu lalu.

Kenang Subandi, dirinya minggu lalu begitu sibuk membersihkan rumahnya, baik itu kamar almarhumah, garasi mobil, gudang dan juga pekarangan rumahnya.

Hal itu menjadi keanehan bagi dirinya, karena selama ini tidak pernah dilakukannya.

“Kalau firasat, baik saya dan istri saya tidak ada sama sekali, hanya saja saya  minggu kemarin sibuk sekali ingin bersihkan rumah ini,” ungkapnya.

Selain itu, malam sebelum almarhumah pergi untuk selamanya, ayam miliknya saling berbunyi dan bersautan sehingga suasana malam itu terdengar ribut sekali.

“Sekitar jam 11 malam itu, ayam saya ribut terus seperti berbicara dengan ayam lainya, saya juga heran karena tidak seperti biasanya,” terangnya.

Hari  Jumat itu, sambung Subandi, sekitar jam 14.00 WIB, dirinya juga sempat melihat status sang anak di Whatsaap.

“Aku cuman ingin ketemu dia”  yang membuat Subadi lebih bingung lagi, karena tidak biasanya sang anak membuat status seperti itu

“Nah, sekitar pukul 14.30 WIB kalau ngak salah, ada telepon yang masuk ke handphone istri saya, kebetulan saya yang angkat, kalau suaranya saya dengar itu mahasiswa juga, mungkin mereka buka HP anak saya, dan melihat panggilan terakhir  ada nama mamakku, pas saya angkat mereka mengatakan anak saya meninggal dunia karena kecelakaan,” kenang Bandi.

Banyak kenangan yang berbekas dihatinya, terlebih lagi, seminggu yang lalu masih chat dengan anaknya tersebut, dimana sang anak meminta kepadanya agar mengirimkan KK,”sempat saya ajak begurau juga, anak saya itu, saya tanya juga gimana kuliahnya, bagus katanya, pokoknya baguslah kata dia,”ucap Bandi.

Jika boleh memilih tambah dia sambil menangis, biarlah hartanya semuanya habis asal anaknya bisa hidup kembali.

“Kalau boleh memilih, saya lebih memilih anak saya dari pada harta,”ucapnya.

Sementara itu, tampak juga rekan almarhumah dari Unsri saat mendatangi rumah kediaman orang tuanya, mencoba menghibur sang ibu yang begitu trauma, menurut sang ibu dirinya tidak  ada firasat sama sekali, ” hanya status di WA itu saja yang memang agak aneh, selain itu tidak ada lagi,”kata sang ibu kepada rekan almarhumah dan juga perwakilan dari Unsri yang hadir dikediaman orang tua almarhumah.

Almarhumah juga menurut keterangan dari guru SMK Bina Marta Martapura, dimana almarhumah bersekolah mengatakan, mantan murid mereka itu sidik jari saja belum, dan ijazah belum keluar

“Baru tiga bulan dia  lulus dari SMK, jadi sidik jari dan ijazah saja belum diambil, jadi kami  sagat terpukul atas kepergian almarhumah ini,”kata salah seorang guru SMK Bina Marta  bernama teguh saat ikut memakamkan almarhumah.

Selama ini  orang tua almrhumah  memiliki toko sembako dan toke pupuk, pengakuan  warga wanto, mengatakan, selama ini yang sering meladeni mereka kalau belanja adalah almarhumah,  orangnya ramah dan juga periang dan suka bergurau.

“Kalau saya belanja, seperti kucing dan tikus ribut terus pokoknya, nah semenjak dia kuliah, dia jarang kami lihat di toko, dan kapan terdengar kabar  almarhumah sudah meninggal, ” kenang Wanto. (sal)

Komentar

Berita Lainnya