oleh

8 Siswa Penyumbang Medali

-Edukasi-1 views

PALEMBANG – Prestasi mendunia diraih sejumlah siswa Sekolah Islam Al Azhar Cairo Palembang. Mereka meraih medali dalam olimpiade matematika tingkat dunia, yang bertajuk World Mathematics.

Invitational (WMI) 2019. Kegitan itu berlansung dari tanggal 16-18 Juli lalu, di Fukuoka, Jepang. Seperti apa?

ABDUL KHALID- Palembang

Dari 8 siswa yang dikirim ke ajang tersebut semunya menyumbang medali. Adapun yang meraih medali Silver, M Zhilal Adzikra kelas 1 SD, Jaza Athaullah Dilhaq kelas 2 SD dan Keisha Valiqa kelas 3. Sedangakan peraih medali perunggu atau bronze Faiqa Aqilla Deco kelas 1 SD.

Sementara 4 siswa lain memperoleh medal Merit Prize, yakni Althaf Irwan Firmansyah kelas 2, Alif Al Fadjri kelas 2, M Tasnim Al Ayyubi kelas 2 dan Farras Zhafira Hanifa kelas 3.

8 siswa ini bersaing dengan 3.000 peserta dari 24 negera. Sementara yang mewakili Indonesia sebanyak 387 siswa dari seluruh daerah, Sabang sampai Merauke. Sementara ajang WMI 2019 ini diikuti siswa mulai tingkat TK hingga kelas XII SMA.

Para siswa SD Islam Al Azhar Cairo ini, tidak hanya membawa nama baik sekolah, namun juga ikut membanggakan Kota Palembang, Sumsel bahkan Indonesia. Karena mampu bersaing di kanca internasional.

Para siswa ini baru saja tiba di Palembang 21 Juli lalu. Sejak bertolak ke Jepang 13 Juli

lalu. “Persiapan selama sebulan, dengan materi sesuai dengan standar internasional. Artinya kurikulum yang dipakai kurikulum internasional,” kata salah satu guru pendamping, Laila,

saat koran ini mengunjungi Sekolah Islam Al Azhar Cairo Palembang, kemarin (23/7).

Lanjutnya, ada 7 guru yang menjadi tim untuk persiapan siswa. 4 guru menjadi pengajar dan 3 guru menyiapkan materi.

Sebenarnya, SD Islam Al Azhar Cairo Palembang sudah berpengalaman mengikuti ajang WMI tersebut, bahkan sejak tiga tahun terakhir, 2017 di Ho Chi Minh, Vietnam membawa 1 medali emas, dan pada tahun 2018 di Seoul, Korea Selatan meraih 1 silver, dan 2 bronze.

“Tidak lama lagi anak- anak juga akan mengikuti kejuaraan lain pada tanggal 26 Juli nanti, berupa olimpiade matematika, bahasa inggris dan pertukaran budaya di ajang Asian Culture Exchange, yang diadakan di Kuala Lumpur Malaysia,” tutupnya.

Terlihat jelas wajah fresh dan senang dari para siswa. Betapa tidak, selain mendapat medali mereka juga mendapatkan pengalaman yang luar biasa, yaitu bisa mengunjungi Fukuoka, Jepang.

Seperti diakui Jaza Athaullah Dilhaq, yang merasa sangat senang bisa mengikuti kejuaran olimpiade internasional itu. Apalagi pulang membawa medali perak. “Selain lomba, disana juga ada jalan-jalan. ,” katanya putra dari Siti Rodiah dan Septa ini.

Mengenai persiapan, diakuinya tidak ada persiapan khusus, hanya saja mengikuti pelatihan soal-soal sebelum berangkat, yang disiapkan oleh sekolah. “Kalau di rumah tidak belajar,” kata Jaza, yang bercita-cita menjadi dokter ini.

Kebanggaan juga dirasakan oleh pasanga dr Ida Maya dan dr Ahmad Yuliandri Mustofa, pasalnya Keisha Valiqa anak keduanya juga meraih medali perak atau silver di ajang olimpiade matematikan tingkat dunia itu.

“Kalau kesulitan pada bahasa tidak ada, tapi memang soalnya ada yang menyulitkan, soal yang keluar tidak ada di pelajari di buku,” Keisha sambil memegang medali silver yang ia

kalungkan, juga didampingi peserta lain yang juga mengenakan medali masing-masing.

Berbeda dengan Jaza, Keisha cukup banyak mempersiapkan diri, tidak hanya belajar di sekolah dengan bimbingan guru, dirinya juga menyempatkan diri belajar dirumah. Sedangkan materi atau soal diberikan oleh guru pendamping.

“Soal saat lomba menggunakan dua bahasa yakni Bahasa Inggris dan Mandarin, saya pilih Bahasa Inggris,” kata gadis kecil yang bercita-cita menjadi pengusaha ini.(cj17)

Komentar

Berita Lainnya