oleh

Aeromodelling Pengusir Hama Burung

Di atas udara hamparan padi yang sudah menguning. Pesawat model (aeromodelling) itu diterbangkan. Tiba-tiba kawanan burung yang tengah makan padi mendadak terbang menjauh. Pada hari-hari selanjutnya, kawanan burung tak mendekat lagi. Petani pemilik tanaman padi senang. Padinya bebas hama burung.

Itulah untuk kali pertama aeromodelling karya Sugeng Haryanto (38 tahun) diterbangkan di area persawahan kampungnya. ”Sejak itu petani di sana sering minta tolong saya terbangkan pesawat di sawah mereka,” ujar Sugeng, ketika dihubungi, Kamis (22/3). Saat dihubungi dia tengah santai di rumahnya. Di Kelurahan Sumberharta, Kecamatan Sumberharta, Kabupaten Musi Rawas (Mura), Sumsel.

Yang membuat kawanan burung kabur tentu karena pesawat itu bisa diterbangkan rendah. Bisa digerakkan kesana-kemari. Bahkan bisa diterjangkan ke kerumunan burung. Kalau mau. Tergantung kecakapan yang memainkannya. Melalui remote controle.

Kebisingan suara mesin pesawat itu juga membuat kawanan burung kabur. ”Dalam radius dua kilomter suara pesawat saya masih terdengar jelas,” kata Sugeng, aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Mura itu, menggambarkan kerasnya suara mesin pesawatnya.

Cerita efektivitas aeromodelling pengusir hama burung itu akhirnya sampai di telinga Bupati Mura dan Gubernur Sumsel. Kebetulan kala itu, Pemprov Sumsel akan mengikuti temu karya teknologi tepat guna (TTG) tingkat nasional. Akhirnya, pesawat buatan Sugeng itu diikutkan pada even nasional yang berlangsung di Bali itu, pertengahan Oktober 2018. Melalui karya Sugeng itu, Mura juara harapan III.

Membuat satu unit pesawat, Sugeng perlu modal minimal Rp 4.500.000. Untuk beli berbagai piranti. Seperti mesin motor penggerak baling-baling, servo untuk menggerakan sayap, receiver untuk menerima sinyal, baterai untuk menyalakan piranti elektronik, dan remote controle.

Foto : Ist

Untuk bodi pesawatnya gampang. Biasanya Sugeng pakai aluminium bekas jemuran pakaian. Atau aluminium bekas etalase. Bodinya cukup dilapisi gabus (stereoform) bekas boks buah. ”Kalau semua bahannya sudah ada, satu minggu selesai,” ujar Sugeng, yang juga petani ikan itu.

Untuk membuat aeromodeling itu sebetulnya sudah ada peralatannya sendiri. Tinggal order. Tapi Sugeng tak melakukannya. Dia memakai mesin yang biasa dipakai untuk mesin penyemprot tanaman. Mesin itu berkapasitas 26 cc. Modelnya 2 tak. Karena itu untuk energinya berupa premium dicampur oli.

Pesawat ”made-in” Sugeng panjangnya 170 cm. Lebar 200 cm. Tinggi 30 cm, dan beratnya tujuh kg. Menyesuaikan besarnya bodi pesawat, tanki BBM hanya berkapasitas 0.5 liter. ”Tankinya saya buat dari kaleng bekas minuman,” ujarnya. Dengan setengah liter BBM, pesawat bisa terbang selama setengah jam.

Dengan mesin 26 cc itu, Sugeng mengaku pesawatnya mampu terbang dalam radius satu km. Atau dalam luasan sawah sekitar 10 ha. ”Kalau kemampuan tingginya, saya nggak berani mencoba-coba. Takut membahayakan pesawat terbang,” ujar lulusan SMA tahun  1998 ini.

Sugeng awalnya hanya hobi menerbangkan aeromodelling biasa. Yang penggeraknya pakai dinamo. Sejak 2014. Dia pun lantas sering kotak-katik pesawat mainan itu. Akhirnya bisa bikin sendiri. Belajar sendiri. Seperti sering membaca di internet.

Awal 2018, dia mulai kotak-kotak aeromodeling dengan penggerak berupa mesin motor. ”Ingin coba-coba saja. Karena bosan pesawat pakai dinamo,” kata Sugeng. Saat diujicoba di atas udara lahan persawahan padi di kampungnya itulah, para petani merasakan manfaatnya.

Ke depan Sugeng berharap bisa membuat aeromodeling yang bisa menyemprotkan obat secara massif. Untuk membantu petani. Agar lebih efektiv melakukan pengobatan terhadap tanamannya.

Saat ini alat bantu pertanian sudah banyak di Mura. Seperti traktor, mesin pencacah tanah atau mesin pemanen sekaligus perontok padi. ”Tapi alat untuk penyemprot obat yang massif belum ada. Padahal itu dibutuhkan,” ujar Sugeng. Dia menggambarkan, aeromodelling penyemprot obat itu seperti drone. (ali fauzi)

 

 

 

Komentar

Berita Lainnya