oleh

Agar Tidak Hilang, Ubah Kemasan Obat-Obat Tradisional

Palembang – Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar seminar hasil kajian koleksi “ Pengobatan Tradisional Sumsel”, Kamis (17/9) di Gedung Auditorium Museum Negeri Sumsel, Palembang.

Acara di buka Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi didampingi Kepala UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan H Chandra Amprayadi SH.

Turut hadir para undangan dari berbagai elemen masyarakat baik dari komunitas, akademisi, budayawan dan masyarakat umum.

Sedangkan nara sumber adalah Dr Wahyu Rizki Andhifani dari Balai Arkeologi Sumsel, budayawan Sumsel, Drs Yudhy Syarofie dan Diajeng Kartika Sari SH (praktisi) .

Dr Wahyu Rizki Andhifani dari Balai Arkeologi Sumsel menjelaskan kalau dalam prasasti –prasasti peninggalan Sriwijaya tidak ditemukan masalah pengobatan tradisional .

“Terbersit aja mungkin di Prasasti Talang Tuo, kayak ada kata-kata enau, sagu dan segala macam, larinya kesitu nanti, apakah dipakai untuk dimakan atau dijadikan untuk obat-obatan,” katanya.
Namun kalau di daerah uluan di Sumsel menurutnya malah banyak masyarakat mempraktekkan pengobatan tradisional ini.

“ kalau dikatakannya orang di uluan sehat-sehat semua , saya enggak tahu karena perlu kajian tentang obat,” katanya.

Budayawan Sumsel, Drs Yudhy Syarofie menilai kalau pengobatan tradisional adalah kearipan lokal Sumsel yang mulai terkikis, orang lebih banyak menggunakan obat moderen berbahan kimia daripada menggunakan obat tradisional.

Untuk itu menurutnya peran masyarakat sangat penting untuk menghidupkan kembali pengobatan dan obat-obat tradisional agar bisa di olah secara moderen dan alami.

Diajeng Kartika Sari SH menilai sehat bukan dari manusia saja tapi juga dari alam semesta.
(Wik/ril)

Komentar

Berita Lainnya