oleh

Alat manual Sulit Standarisasi

Hanya 5 Persen Teknologi Modern

PALEMBANG – Potensi kopi di Sumsel sangat besar . Hanya saja, untuk bersaing kopi produksi bumi Sriwijaya ini terkendala pada produksi yang masih manual sehingga tidak memenuhi standar.

Hal tersebut diungkapkan Haryanto (Kantor Layanan Teknis Badan Standardisasi Nasional Wilayah Palembang), kemarin usia Festival Kopi SNI di SMK Sumsel.

Dikatakan, produksi kopi di Sumsel yang masih di sangrai menggunakan kayu bakar ataupun pengeringan (enjemuran ditengah jalan. Hal ini tentu perlu tidak sesuai standar karena mengandung logam berat lebih banyak. “Bahkan berdasarkan data 95 persen menggunakan manual (tradisional) dan 5 persen modern, ”

Karenanya, ketika dilakukan quality kontrol tidak memenuhi standar. *Ini yang perlu diedukasi dan penemuan standar termasuk kerja sama pihak terkait dalam memenuhi standar produksi, ”

Dikatakan, potensi produk di Sumsel untuk SNI sangat besar termasuk pempek dan kopi. Khusus kopi sudah ada dua SNI kopi benua dan kopi Tunggu Tubang. Saat ini yang proses SNI Pagar alam 3, Lahat 1 dan Palembang 1. “Tahun ini, kami targetkan ada 11 UMKM , yang ber SNI, ” ucap dia.

Ia menjelaskan, Sumsel penghasil biji kopi terbesar di Indonesia, sebanyak 110 ribu – 150 ribu ton pertahun dengan luas lahan terluas jugo 250 ribu hektar yang 100% adalah kebun rakyat dikelola oleh sekitar 204 ribu KK Petani Kopi.

Kopi memiliki rantai nilai ilmu dan ekonomi. Banyak keahlian, ilmu dan teknologi yang bisa dikembangkan, dipelajari dan dikuasai oleh anak-anak SMK seperti pertanian kopi, proses pasca panen, teknologi penyangraian, sampai ilmu dan teknik seduh kopi yang enak. Itu semua ilmu. Yang menguasai rantai nilai ilmu akan menguasai rantai nilai ekonomi.

Dalam setiap rantai nilai ilmu kopi ada Standar Nasional Indonesia yang bisa diacu, bisa dari Sistem Pertanian Organik, Biji Kopi, Kopi Bubuk sampai SNI mesin pengupas biji kopi basah atau kering, mesin sortasi dan mesin Sangrai.

SNI dapat digunakan sebagai acuan agar setiap produk teknologi pertanian kopi yang dikembangkan dan dibuat anak-anak SMK bisa berkualitas dan berdaya saing.

Kegiatan yang diikuti oleh 500 siswa SMK di sekitar Palembang ini dapat dikatakan sebagai langkah awal mengenalkan atau mengedukasi siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan untuk mendalami Kopi atau bisa menguasai rantai nilai, ilmu dan ekonomi dari Kopi.

Diisi dengan edukasi proses Kopi Sumsel berSNI dengan mendatangkan narasumber Petani Kopi dari salah satu wilayah penghasil kopi terbaik, yakni Semendo, narasumber dari Kedai Kopi dan UKM Kopi yang berSNI serta Barista Kopi Sumsel yang telah bersertifikasi BNSP.

Kegiatan dimeriahkan juga dengan lomba stand up comedy Kopi, Karaoke Lagu Kopi, dan Foto serta video tiktok dengan tema Kopi Sumsel sebagai upaya memviralkan Kopi Sumsel di generasi muda di kalangan SMK. “Jadi selain mengedukasi bahwa Sumsel adalah produsen biji kopi Robusta terbesar di Indonesia, juga sebagai upaya mengembalikan kejayaan kopi Sumsel dimana pada tahun 1800-an Kopi Sumsel merupakan salah satu komoditas utama perdagangan dunia,”

Mulai hari ini melalui kegiatan Festival Kopi Sumsel berSNI ini, payo kita kembalikan kejayaan kopi Sumsel. Payo Kito Minum Kopi Sumsel.

Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Marko Ginta ini terselenggara atas kerjasama, Badan Standardisasi Nasional, Dewan Kopi Sumsel, UPTD Balai Pengembangan Pendidikan Kejuruan Sumsel, serta kawan-kawan dari Sriwijaya Kedai Kopi Family dan Masyarakat Standardisasi Indonesia DPW Sumsel serta dukungan para sponsor diantarnya Bank Sumsel Babel, PUSRI, Semen Baturaja, Pelindo II Cabang Palembang dan RRI Palembang.(yun)

Komentar

Berita Lainnya