oleh

Almarhum H Suparno Wonokromo di Mata Teman Dekatnya (2)

Prinsip Clean dan Clear, Tak Malu Makan di Kaki Lima

Banyak ilmu dan ketauladanan yang ditinggalkan almarhum CEO Sumatera Ekspres Group (SEG) yang juga menjabat Direktur Utama (Dirut) WSM, H Suparno Wonokromo kepada jajarannya. Semua contoh baik itu selalu dikenang, tak mungkin terlupa.

Di tahun 1993, Harian Semarak Bengkulu, koran milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) bekerja sama dengan Serikat Pekerja Surat Kabar (SPS) diambil alih Jawa Pos (JP). Bos Parno lah yang ditugaskan JP untuk itu. Sosok wartawan terbaik JP dan anak emas Bos Nany Wijaya (salah seorang petinggi di JP waktu itu).

Ketika datang ke Bengkulu, persis seperti kebiasaan beliau sampai akhir hayatnya. Pakai kaos dan sandal. Itulah awal jumpa dengan beliau, 27 tahun lalu. “Beliau itu guru. Saya bukanlah alumni sekolah jurnalistik. Ilmu jurnalistik standar saya cuma didapat dari kursus dan pelatihan. Beliaulah yang mengajari cara membuat berita yang baik dan menarik,” kata H Muslimin SH MH, kemarin.

Selain diajari membuat berita yang baik dan menarik, almarhum Bos Parno juga mengajari bagaimana mempersiapkan perencanaan berita, mengedit berita, memilih dan memilah berita. “Saya juga bukan alumni sekolah ekonomi, apalagi bisnis. Dari beliaulah 100 persen ilmu bisnis, terutama bisnis Koran, saya dapatkan,” tambah Pak Min, sapaan akrab Direktur Utama (Dirut) Sumatera Ekspres ini.

Tak hanya sebatas mengajari segala sesuatu terkait pemberitaan dan bisnis surat kabar, almarhum Bos Parno juga mengajarkan banyak hal positif lain. Termasuk bagaimana menjalin hubungan baik denga semua orang. Semuanya, tanpa pandang jabatan, suku, agama, status dan lainnya.

Almarhum mentor, membimbing, mengarahkan, menuntun. Beliau pemimpin, bos yang memberi contoh dari depan. Mendorong dari belakang supaya kita maju. Beliau juga bertindak seperti kakak, menjaga, memperhatikan, sangat peduli. “Pokoknya perfect,” ucap Pak Min.

Bos yang gemar mendalang ini tipe pekerja keras. Pantang menyerah. Penuh semangat. Berprinsip clean and clear. Pak Min ingat betul, dulu, Bos Parno hampir tiap malam tidur di kantor. Terlibat langsung semua proses produksi. Mulai dari proyeksi berita, editing, proses cetak koran hingga jualan koran di lampu merah.

Ada banyak yang patut ditiru. Almarhum clean, jujur, tak pernah memanfaatkan fasilitas kantor dalam bentuk apapun untuk kepentingan pribadi dan keluarga. “Dulu ketika handphone (Hp) belum ada, istrinya mau menumpang menelepon dari telepon kantor, tapi dilarang. Kata beliau, cari telepon umum saja, jangan pakai telepon kantor,” beber Pak Min mengenang momen itu.

Sosok Bos Parno juga clear, obyektif. Salah satu aturan beliau yang masih diberlakukan hingga sekarang, tak pernah merekrut karyawan karena alasan keluarga. Karyawan yang berprestasi didukung dan didorong maksimal. Beliau tidak ingin karyawan yang cuma pandai merapat dan dekat.

Betapa bersahajanya almarhum dari awal sampai akhir hayatnya tidak pernah berubah. Tetap sederhana, sandalan dan kaos. Tetap ramah dan selalu senyum. Tak malu makan di kaki lima bersama karyawan. Selalu memikirkan orang lain.

Tapi ada hal yang almarhum paling tidak suka. Bos Parno akan sangat marah kalau sesuatu yang ditugaskan tidak dikerjakan maksimal. Misalnya gagal mendapatkan berita yang ditugaskan. “Mungkin semua itu sedikit banyak ada pengaruh dari tokoh sentral yang beliau favoritkan yaitu guru beliau, Pak Bozz Dahlan Iskan,” beber Pak Min.

Ada banyak pelajaran yang didapat dari almarhum. “Semua sifat, sikap dan cara-cara beliau semaksimal mungkin saya copy, seperti beliau mengcopy sikap dan cara Pak Dahlan. Walaupun tidak sama persis, ya rasanya ada mirip-miripnya gaya saya dengan Bos Parno,” seloroh Pak Min.

Secara pribadi, Pak Min memegang terus prinsip almarhum. Seperti konsisten berprinsip “clean dan clear”. Salah satu komitmen almarhum Bos Parno ditunjukkannya ketika menolah usulan untuk menunjuk putri tertuanya, Ary menjadi Dirut Sumatera Ekspres atau Paltv.

“Saya pernah usulkan itu, tapi beliau menolak karena itu KKN dn berarti tidak clear,” ungkap Pak Min. Jawaban almarhum sangat bijaksana dan arif. “Hidup kita jalani biasa-biasa sajalah Dik. Kalau kita terlalu bernafsu mengejar dunia, tidak ada habisnya. Di atas langit masih ada langit. Yang penting perusahaan kita maju, kita bisa membahagiakan karyawan dan keluarganya. Itu berarti membahagiakan kita juga. Cukup itu.”

Penegasan yang menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap semua karyawan itu sering disampaikan Bos Parno. Mungkin beliau banyak mengambil falsafah wayang yang sering dimainkannya. Selama 27 tahun bersama almarhum, Pak Min punya kenangan dimarahi. Sekali.

Ceritanya, dulu almarhum menugaskan untuk mempersiapkan halaman 1 koran Semarak Bengkulu. Berita-berita terbaik dari wartawan dan LKBN Antara dikumpulkan dalam satu disket. Waktu itu, disketnya seukuran kertas A4, dipotong dua tapi hanya bisa menampung 10-11 berita saja. Masih zaman jadul, tapi sudah modern dibandingkan era mesin ketik.

Selanjutnya, akan beliau periksa dan poles lagi. Setelah selesai, barulah diserahkan ke pracetak untuk di-layout. Malam itu kejadiannya beda. “Saya yang biasa memulai kerja untuk halaman 1 dengan mencari disket, kemudian menghapus file lama untuk persiapan file-file baru, malam itu kena batunya. Almarhum sudah duluan. Disket yang saya hapus itu ternyata file yang sudah siap untuk diserahkan ke layout. Rupanya sudah dikerjakan lebih awal oleh Bos,” kenang Pak Min.

Kembali soal perhatian terhadap perusahaan dan karyawan, tak banyak yang bisa menandingi kepedulian almarhum. Di saat-saat sakit beliau tambah parah, Bos Parno tetap saja masih memikirkan karyawannya. Juga perkembangan perusahaan. Baik di Palembang, Bengkulu, juga Lampung. “Beliau minta kita jaga sekuat tenaga dan segala daya agar usaha yang sudah dirintis puluhan tahun ini tetap jaya,” tutur Pak Min menyampaikan pesan almarhum Bos Parno.

Pak Min ingat betul, terakhir kali berkomunikasi dengan almarhum ketika sang meninggal 10 hari sebelum Bos Parno menghadap Ilahi. Ketika itu, beliau sempat kirim WhatsApp.” Pendek isinya. ‘Turut berduka ya Min’. Saya langsung sesak. Beliau dalam kondisi sakit parah masih peduli dengan dukaku.”

Kesedihan mendalam juga dirasakan Ali Fauzi, mantan Pemred Sumatera Ekspres. Pada 20 November, dia sengaja silaturahmi ke tempat tinggal almarhum Pak Parno di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.

“Pak Parno, saya mohon maaf, baik kesalahan yang disengaja mau pun tak disengaja,” kata Ali dengan suara terputus-putus, karena menahan tangis. “Iya Li, sama-sama ya…,” kata Pak Parno kala itu dengan suara parau dan lemah. Rabu 9 Desembernya Ali kaget mendengar kabar duka itu.

Itulah kesempatan komunikasi terakhirnya dengan Pak Parno. Saat itu Ali kaget. Juga sedih. Selama 25 tahun lebih menjadi anak buah Pak Parno, belum pernah mendengar almarhum sakit berat. Selama ini sosoknya selalu tampil bugar, ceria dan energik. “Tiba-tiba saat itu saya melihat beliau dalam kondisi begitu kondisi lemah,” tuturnya.

Suparno –teman-teman memanggilnya Pak Parno— juga maniak kerja dan cekatan. Pak Alwi Hamu, salah seorang direksi WSM Group –holding 60 perusahaan lebih media—dalam rapat evaluasi triwulanan perusahaan sering memuji Pak Parno. “Mas Parno itu gila kerja. Kalau kerja itu cat cat cat cat…. pekerjaan kelar,’’ katanya, sambil mengibas-ibaskan tangannya ke atas secara cepat.

Pak Parno juga disiplin dan tegas. Mungkin karena gaya kepemimpinan yang sedemikian itu, tak sedikit karyawan-wartawan Sumatera Ekspres yang kaget. Mereka gagap. Terutama pada awal-awal beliau pegang kendali manajemen Sumatera Ekspres. Beliau pegang Sumatera Eskpres sejak Agustus 1995, atau dua bulan setelah harian ini diambil alih Jawa Pos Group dan Media Indonesia Group.

Tak sedikit karyawan-wartawan yang tidak bisa mengikuti langkah Pak Parno. Merekalah yang lantas punya kesan beliau keras. “Kalau lagi marah rambutnya sampai berdiri tegak,” begitu antara lain seloroh mereka.

Tapi justru dengan gaya kepemimpinan demikian, di tangan Pak Parno Sumatera Ekspres berkembang pesat. Dalam waktu singkat. Dari oplah kurang dari 2.500 eksemplar menjadi 60.000 eksemplar. Tahun 1999 Sumatera Ekspres menempati gedungnya sendiri empat lain. Itu sejarah baru bagi koran di luar Jakarta. Tahun-tahun berikutnya melahirkan anak-anak perusahaan media. Hampir merata di semua kabupaten/kota di Sumsel. Karena kapasitasnya itu pula beliau didaulat menjadi Dirut WSM Group. Yang wilayah teritorialnya meliputi delapan provinsi: Sumsel, Jambi, Bengkulu, Lampung, Babel, Banten, Jabar dan Jabar.

Di awal-awal Pak Parno di Sumatera Ekspres dulu, Ali mengaku sering geregetan. Hal itu terjadi bila melihat sesuatu yang semestinya tidak boleh terjadi tapi Pak Parno kesannya membiarkan. Saat itu paling saya ngegerundel/bicara dalam hati, “Kenapaya… Pak Parno membiarkan.”

Di awal-awal berdiri dulu, tak sedikit berita di Sumatera Ekspres sebetulnya tak layak terbit. Itu setidaknya dari sisi Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers. Sisi redaksionalnya juga kacau. Tak jelas mana titik komanya. Tak jelas mana kalimat lengkap dan kelimat tak lengkap.

Karena saking sering dan banyaknya berita-berita de mikian, Ali lantas memberanikan diri ngomong ke Pak Parno. Tapi beliau hanya diam dan tersenyum. Malah ngomong hal lain. “Rendang ini sepertinya enak Li,” kata Ali menirukan perkataan almarhum, sambil nyomot rendang di Rumah Makan Padang Istana Bundo, sekitar 700 meter dari Sumatera Ekspres. Kalau ada di Palembang Pak Parno sering mengajak makan tema-teman redaksi usai mengedit sekitar pukul 01.00.

Belakangan, setelah ditugaskan menggawangi manajemen Jambi Independent, baru dipahami mengapa Pak Parno diam. Kalau saja Pak Parno tegas tentang keredaksian saat itu bisa saja runyam. Beliau saat itu orang baru yang belum diketahui prestasinya. Selain itu juga banyak wartawan lebih senior dari Pak Parno.Baik secara usia maupun jam terbangnya. Itu mungkin sebabnya Pak Parno tak langsung cepat tegas membenahi keredaksian. “ itu pula saya alami di redaksi Jambi Independent,” ucap Ali.

Menjelang ditugaskan ke Jambi, Ali mengaku sering dikritik Pak Parno. “Egomu tinggi Dek,” ucap Ali menirukan ucapan sang bos. Komentar itu dilontarkan almarhum saat santai bareng sambil menonton TV di kantor. “Kenapa Pak,” tanya Ali, penasaran. “Tadi waktu rapat redaksi ada wartawan usul tidak Anda perhatikan,” katanya mengungkap jawaban almarhum. Sekitar dua jam sebelumnya, Ali memang memimpin rapat perencanaan redaksi. Saat itu rupanya Pak Parno sambil menonton televisi memperhatikan jalannya rapat.

Pak Parno lantas memberikan masukan. “Dalam dunia pewayangan ada peribahasa, tirulah bumi. Bumi itu bersedia dipijak (menerima) siapa saja. Makin banyak dan sering dipijak, bumi malah makin kuat, makin liat,’’ jelasnya. Ali pun merenungi dan berusaha menjalani nasihat Pak Parno. Selain fokus manajemen media, beliau juga pintar mendalang. Beberapa kali beliau pernah mendalang seperti di Palembang, Jambi, Solo dan Jakarta.

Ali menegaskan, cukup banyak pelajaran hidup dari Pak Parno. Banyak juga contoh kinerja beliau untuk menjadi sukses. “Hanya sayanya saja yang tidak bisa mencontohnya. Semoga semua nasihat, amal baiknya dan suri tauladannya itu semoga menjadi amal jariyah –amal yang pahalanya mengalir– bagi almarhum. Amiiin“. (*/tim/hiwan/wik)

Komentar

Berita Lainnya