oleh

Almarhum H Suparno Wonokromo, Tak Suka Banyak Alasan, Pantang ABS

Dik Dwi, sedihnya jangan kelamaan. Kita semua berduka, tapi dengan terus menjalankan apa yang menjadi warisan Almarhum Pak Mahtum dulu, juga bentuk duka yang paling baik dan membangun.”
————————-

Kata-kata itu kembali tergiang di kepala Dwi Nurmawan, Direktur Wahana Semesta Group (WSM) ketika mendapat kabar duka berpulangnya H Suparno Wonokromo. Nasihat itu pernah disampaikan Almarhum Pak Parno dalam rapat grup WSM, 2006 silam.

Pak Dwi, begitu Dwi Nurmawan akrab disapa, pertama kali bertemu Pak Parno saat Almarhum Pak Mahtum (ayah Pak Dwi) meninggal dunia. Saat Pak Dwi dan segenap keluarga dalam keadaan sedih kehilangan sosok ayah.

Dan (Alm) Pak Parno yang datang melayat bercerita dengan ceria kenangan semasa Pak Mahtum hidup. “Cerita-cerita lucu beliau selama ini seakanakan dia ingin menyampaikan kepada kami untuk mengingat masa-masa bahagia ayah kami dulu,” kata Pak Dwi.

Kesan pertama yang didapat Pak Dwi, (Alm) Pak Parno orangnya sangat ber-api api dalam berbicara. Selalu tertawa lepas dan bercerita dengan intonasi yang ‘meledak’. “Awalnya saya bingung bapak ini siapa? Perawakannya sederhana saja dan hanya memperkenalkan diri sebagai anak buah almarhum ayah. Tapi di saat itu dia sudah punya visi yang jauh ke depan untuk bagaimana membuat WSM Grup menjadi besar. Saya baru tahu setelah tanya ke Pak Arif (selaku orang dekat almarhum ayah saya) kalau Pak Parno adalah CEO Sumeks dan Radar Group Wilayah Sumbagsel. Dua hari setelah itu, beliau mengundang saya ikut hadir dalam rapat grup WSM.”

Saat ini, setelah Pak Parno meninggal, 9 Desember 2021, Pak Dwi pun teringat kembali pesan almarhum 14 tahun yang lalu. “Saya sangat berduka dan kehilangan, namun dengan terus bekerja dan melanjutkan apa yang menjadi warisan Pak Parno saat ini. Itu bentuk penghargaan tertinggi yang bisa kita berikan kepada beliau,” imbuhnya.

Di mata Pak Dwi, (Alm) Pak Parno terlihat sebagai sosok yang selalu ceria. Setiap bertemu, punya ciri khas bersalaman sambil tertawa dan mendekap erat tangan kita atau menepuk nepuk pundak sebagai tanda almarhum merupakan orang yang hangat kepada siapa saja. Almarhum juga orang yang sangat memegang teguh janjinya. Hal sederhana saja dalam janji jika bertemu, Pak Parno tidak pernah terlambat satu kalipun selama hampir 14 tahun mengenalnya. Bagi Pak Parno, janji bertemu tepat waktu adalah suatu keharusan. Apalagi janji bertemu datang terlambat, beliau tidak respect terhadap orang tersebut. Apalagi karyawan yang tidak hadir tepat waktu. “Menurut almarhum, jika janji untuk hadir tepat waktu saja tidak bisa ditepati, bagaimana dia bisa percaya untuk dia menepati janjijanji bisnis yang lain,” beber Pak Dwi mengungkapkan salah satu hal yang tak disukai Pak Parno.

  Almarhum Pak Parno juga dikenal sangat gigih. Dalam mengembangkan perusahaan, almarhum merupakan orang yang sangat cekatan. Pria yang mahir mendalang ini merupakan orang yang memegang prinsip “lebih cepat lebih baik”. Kalau bisa segera untuk apa di tunda tunda. Almarhum mempunyai insting bisnis dan penilaian yang terkadang di luar nalar kita. Ini beberapa kali terlihat dalam keputusan almarhum memutuskan untuk menerbitkan koran di wilayah baru ataupun jadi tidaknya perusahaan terjun dalam sebuah unit usaha.

“ Saya yang berlatar belakang pendidikan bisnis dan keuangan terkadang juga tidak selalu sependapat dengan Pak Parno. Biasanya dalam keputusan terjun ke suatu bisnis, saya lebih kepada pendekatan analisa market, model bisnis, dan studi kelayakan. Namun saya harus mengakui insting bisnis Pak Parno benar-benar tajam,” ucapnya.

Meskipun di atas kertas perhitungan tersebut tidak masuk, namun hasilnya terkadang berkata lain. Dan Pak Parno punya jawaban soal itu. “Yang penting kita tetap terus ikhtiar Dik, soal hasil Allah Swt sudah atur,” kata Pak Dwi menirukan penjelasan almarhum. Meski begitu, bukan berarti Pak Parno otoriter. “Untuk beberapa hal, beliau selalu mendengarkan fakta ataupun analisa yang saya sampaikan. Dan dia terbuka sekali untuk menerima masukan itu,” imbuhnya.
Pak Dwi masih mengingat gurauan Pak Alwi Hamu, Komisaris Utama WMS Group saat rapat holding. Dia mengibaratkan pada mobil “Ferari”, Pak Parno ini bagiannya gas. “Sedangkan saya disebut bagian rem. Keduanya harus berfungsi dengan baik. Dan selama 14 tahun ini saya bekerja dengan beliau hal itulah yang kami terapkan. Sangat transparan, saling mendukung dan komunikatif,” tuturnya.

Hal lain yang diingat Pak Dwi tentang sosok almarhum yakni suka menilai orang berdasarkan hasil kerjanya (result oriented). Menurut Pak Parno, sesulit apapun usaha pasti ada jalan untuk berhasil. “Kata beliau, usaha itu harus “ditiduri”. Jadi kalau sudah ditiduri, segala hal yg terjadi pada perusahaan tersebut baik yang terlihat atau tidak pasti tahu.”

Pak Parno juga paling tidak suka dengan karyawan yang banyak beralasan. Alasan akan bisa selalu menjadi kambing hitam untuk kegagalan. Dia sangat paham ada orang yang sangat pintar berbicara tapi hasil kerjanya buruk. Almarhum sering bilang kepada seluruh karyawan “Anda mau bicara kepada saya kalau Anda bekerja sekeras apapun di kantor, sekalipun tidur di kantor tapi kalau hasil kerja Anda buruk, saya anggap Anda tidak bekerja. Begitupun sebaliknya, sekalipun Anda tidak pernah datang ke kantor, tapi hasil kerja Anda baik, saya yakin Anda bekerja dengan benar”.

“Jadi, untuk Pak Parno, cukup buktikan dengan hasil kerja. Tidak perlu jadi orang yang ABS (Asal Bapak Senang). Jika karyawan berhasil, perusahaan berjalan baik, almarhum sudah pasti senang,” tutur Pak Dwi.

Ada banyak hal dari sosok Pak Parno yang bisa ditiru. Misalnya sikap semangat untuk terus bekerja keras, kerendahan hati dan kejujuran beliau. Itu merupakan contoh teladan untuk semua. Seluruh keluarga besar WSM grup sering mendengar beliau berbicara dalam bekerja harus clean and clear. Dan (Pak Parno memegang teguh slogan ini. Sampai waktu terakhir bertemu almarhum, beliau masih menerapkan prinsip itu.

Ceritanya sekitar sebulan sebelum beliau meninggal, Pak Dwi sedang berada di Indramayu menengok salah satu tambak udang di sana. Kemudian mendapat informasi dari putri almarhum kalau Pak Parno sedang berada di Cirebon dan mau makan sop gombyang (makanan favorit beliau berupa sop ikan manyung dengan bumbu kuning) di Indramayu.

Ary, putri Pak Parno yang sulung itu bertanya alamat restoran tersebut. Pak Dwi langsung menelepon almarhum dan bertanya kenapa tidak ngomong kalau ada di Cirebon. Lalu, Pak Dwi telepon teman-teman Radar Cirebon untuk menemani Pak Parno selama berada di Cirebon. Sebenarnya, untuk seorang dirut, sangat mudah untuk beliau untuk meminta segala fasilitas selama di sana. “Tapi dia larang saya. Katanya, ‘Jangan Dik, saya ini pergi sama keluarga untuk urusan keluarga. Kantor tidak boleh membiayai saya, biar saya bayar sendiri’.”

Pak Dwi bersikeras. Setidaknya kirim mobil biar Pak Parno ke Indramayu mudah. Apalagi semua tahu beliau sedang sakit. Tapi dijawab almarhum tidak usah, sebab sudah ada mobil. Pak Parno cuma minta share loc tempat makan yang ingin ditujunya itu. “Akhirnya kami janji bertemu di restoran tersebut. Saya kaget ternyata beliau dari Cirebon ke Indramayu hanya menggunakan taksi online (taksol). Saya sungguh sedih melihatnya. Tapi saya tahu begitu teguh prinsip yang Pak Parno pegang bahwa yang bukan menjadi hak dia tidak akan digunakan hingga di saat-saat akhir hidupnya,” tutur Pak Dwi.

blank

Soal kepemimpinan, Pak Parno orang yang tidak berteletele dan tidak mau membuang waktu untuk masalah yang sama. Sangat gesit dalam bekerja dan tidak kenal lelah. Almarhum tidak mau menghabiskan waktu terlalu lama dalam rapat. Jika ada suatu masalah di perusahaan tersebut dia akan menganalisis apa masalahnya dan mencari solusi dari masalah tersebut dan langsung memutuskan apa yang harus dilakukan. Rapat triwulan grup WSM yang mengevaluasi kinerja lebih dari 50 perusahaan dulu terkadang diatur waktunya bisa sampai tiga hari. Tapi, oleh Pak Parno waktu tersebut bisa dipangkas menjadi satu hari saja.

Pak Parno juga merupakan orang yang sangat mempercayai anak buahnya. Dia sangat yakin orangorang yang dipercaya olehnya dalam mengelola perusahaan di daerah adalah orang yang akan mengemban amanah dengan sebaik-baiknya. Menurut Pak Dwi, almarhum juga tidak ingin terlalu dalam masuk ke dalam urusan suatu perusahaan karena menurutnya orang yang ditunjuk di daerah tersebut pasti lebih tahu urusan luar dalam perusahaan tersebut. “Dia hanya bilang, kalau nanti ada tidak beres dan ada yang nakal baru kita ‘gebuk’ Dik.”
Oleh karena itu manajemen desentralisasi yang diterapkan di Radar Group selama ini bisa berjalan dengan sangat baik. Almarhum juga sangat sederhana dan bersahaja, apa adanya. Sosoknya simpel, tidak pernah berpakaian berlebihan. Ke mana-mana hanya menggunakan kaus polo (itupun tidak bermerek) dan batik (jika dia merasa pertemuan tersebut resmi). Yang unik adalah tidak pernah pakai sepatu. Ke mana-mana selalu mengenakan sandal. Bahkan saat keluar negeri pun tetap menggunakan sandal.

Pak Dwi mengaku sempat penasaran dengan kebiasaan almarhum tak pernah pakai sepatu itu. Apa jawaban Pak Parno? “Dia jawab saya bekerja ingin nyaman bergerak Dik, kalau saya sudah tidak nyaman nanti yang saya pikirkan hanya sepatu saya atau kaki saya yang sakit bukan pekerjaan saya.” Dia juga tidak ingin seperti bos besar kebanyakan. Makan dan tidur pun bisa di mana saja. Menginap di hotel pun tidak pernah menentukan di mana, apalagi bintang berapa. Yang penting ada atap untuk tidur. Dia tidak pernah minta kamar sendiri. Sayang Dik pesan kamar untuk saya sendiri. Biar saya berbagi kamar dengan yang lain,” ujar Pak Dwi mengingat alasan almarhum.
Berbagai cerita tentang sosok almarhum bisa dan patut ditiru. Singkatnya, hiduplah sesuai dengan keperluan. Mau tidur di hotel berbintang 5 ataupun tidur di teras rumah tujuannya adalah untuk tidur. Selama pikiran kita nyaman dan gembira Insya Allah hasilnya akan sama dan juga baik.

Salah satu pengalaman paling berkesan dengan Pak Parno dialami sekitar 2007 lalu. Waktu itu, baru mengenal almarhum beberapa bulan. Sore itu baru selesai rapat di Cirebon dan esok harinya sudah harus ada rapat kembali di Jogjakarta. Meskipun teman-teman bilang bermalam saja dulu di hotel Cirebon dan akan diantar subuh besok naik mobil, tapi almarhum tidak mau.

“Dia bilang kepada saya, kami tidur di kereta saja Dik. Besok pagi sampai Jogja bisa langsung rapat dan kita tidak terlambat. Itupun keretanya ekonomi karena yang eksekutif tidak ada. Pada saat itu belum ada AC seperti sekarang. Jadilah kita tidur di kereta malam itu. Tidak ada kesan keluh kesah atau sengsara dari perjalanan itu. Saya sungguh salut dengan sikap merakyat yang beliau tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari,” kenang Pak Dwi.

Secara pribadi, Pak Dwi sejak dulu sudah mendapat pesan dari Pak Parno. Kata almarhum, di balik kesuksesan sebuah perusahaan ada teman-teman yang bekerja dengan hati. Oleh karena itu, pimpinan dan pemilik, juga harus memikirkan kesejahteraan mereka. “Kita yang paling akhir merasakannya. Jika karyawan sejahtera, itu juga sudah bentuk kebahagiaan dan keberhasilan untuk kita,” tambah Pak Dwi mengingat-ingat pesan tersebut.

Menurut almarhum mengevaluasi hasil kerja itu penting, tapi lebih penting lagi bagaimana ke depannya perusahaan itu berjalan. Bagaimana mencapai proyeksi dan menjalankan program berikutnya itu yang perlu di evaluasi. Saya rasa salah satu kunci utama keberhasilan almarhum mengelola banyak perusahaan di daerah itu adalah kepercayaan.

Almarhum memberikan kepercayaan penuh kepada orang orang yang ditempatkan di perusahaan tersebut. Menurut dia, sehebat-hebatnya kita secara individu tidak mungkin bisa mengetahui masing masing keadaan perusahaan tersebut lebih detail dibandingkan pimpinan lokal disana.

Oleh karena itu dia bisa marah sekali jika ada pimpinan daerah yang tidak paham dengan kondisi perusahaannya. Dia berpendapat jika perusahaan itu maju sekalipun orang tersebut tidak berkantor, maka orang tersebut bekerja. Tapi jika perusahaan itu tidak maju, sekalipun orang tersebut berkantor tiap hari bahkan sampai menyita seluruh waktunya dia anggap orang tersebut tidak bekerja.

Saya dan almarhum termasuk sering bekerja bersama, meskipun secara struktural almarhum adalah partner kerja namun secara pribadi saya merasa beliau adalah mentor kerja saya dalam bisnis. Banyak hal yang saya dapatkan dari cara almarhum selama ini dalam mengelola perusahaan yang mencapai puluhan jumlahnya yg tersebar dari seluruh wilayah Sumatra bagian selatan (Jambi, Palembang, Bengkulu, Lampung, dan Bangka Belitung), hingga ke pulau jawa (Bbanten, Jawa Barat dan Jawa Ttengah).

Di  manajemen WSM, kita bekerja secara ‘kolektif kolegial’. Yang artinya meskipun almarhum pak parno memiliki posisi sebagai Direktur Utama, tetapi almarhum memposisikan saya dalam posisi yang sama seperti dia. Almarhum menganggap kita bekerja berdampingan dalam baris yang sama, memiliki tanggung jawab dan hak yang sama. Sehingga tidak ada keputusan yg kita tidak saling ketahui. Dan kultur kerja ini kita terapkan ke semua anak perusahaan. Yaitu, “Kerja keras, tumbuh bersama dalam kebersamaan”. Meskipun ini hanya sebuah slogan, namun benar benar kita resapi maknanya dalam menjalankan perusahaan.

Kalau saya harus merangkum semua karakter yang terdapat dalam diri almarhum menjadi satu kata, kata tersebut adalah “Ulet”. Seseorang yang kuat, tidak mudah meyerah apalagi putus asa, berkemauan keras dalam berusaha mencapai tujuan dan cita citanya.

Ini terlihat dalam beberapa keputusan bisnis yang diambil almarhum dalam menentukan membuat koran baru di suatu wilayah ataupun memutuskan perusahaaan masuk ke unit usaha baru. Meskipun terkadang perhitungan di atas kertas tidak masuk, namun insting dan kegigihan almarhum agar bisnis tersebut berhasil sangat kuat.

Seringkali untuk memastikan terbangun sistem kerja yang baik dan meningkatkan keberhasilan bisnis, almarhum memberikan contoh untuk para pimpinan yang akan ditunjuk di daerah tersebut untuk “meniduri” perusahaannya. Arti istilah “meniduri” ini mengandung makna seseorang yang diberikan tanggung jawab dan kepercayaan disana harus tahu semua hal yang terjadi di perusahaan tersebut. Kekuatannya, kelemahannya, potensinya, ancamannya sehingga bisa terdeteksi sejak awal jika ada masalah atau kendala yg akan di hadapi.

Menurut almarhum, seseorang yang sudah menerapkan pola kerja seperti ini perusahaannya sudah pasti maju. Jika tidak semua kembali kepada rezeki dari Allah SWT. Tugas kita hanya berikhtiar sekeras mungkin, dan yakin kalau kerja keras tidak akan membohongi hasil. Almarhum juga tidak segan memberikan pembekalan dalam bidang jurnalistik kepada wartawan dan redaktur di daerah.

Almarhum termasuk orang yang sangat hebat membuat berita features. Berita features adalah “jiwa” dari sebuah koran. Di berita features tersebut sebuah kerja jurnalistik diramu menjadi sebuah bacaan yang memberikan ilustrasi, hingga membangkitkan empati dan simpati para pembacanya.

Pembekalan ini termasuk mewawancarai narasumber langsung ke daerah terpencil, memimpin dengan memberikan contoh meskipun sudah di posisi pimpinan tidak segan untuk terjun langsung ke lapangan. Dahulu hampir setiap bulan, almarhum berkeliling memberikan pembekalan tentang ini. Dan para wartawan dan redaktur daerah sangat antusias mengikutinya.

Almarhum juga seseorang yang memegang teguh janjinya. Kalimat “Janji adalah Hutang” sesuatu yang sangat sakral dan sangat dia pegang teguh. Dari hal yang sangat kecil seperti waktu janji bertemu, tidak pernah sekalipun saya lihat almarhum terlambat menghadiri waktu pertemuan. Biasanya beliau datang selalu lebih awal dari waktu yg di sepakati.

Bagi almarhum, datang tepat waktu itu sudah terlambat apalagi tidak tepat waktu. Dan seringkali dia menilai karakter seseorang dari hal tersebut. Almarhum berpendapat kalau menepati janji waktu bertemu saja tidak bisa ditepati apalagi perjanjian bisnis nanti ke depannya. Hingga menepati janji yg terkadang orang yang dijanjikan juga sudah lupa. Contohnya untuk orang yang dekat dengan beliau, tentu sudah tidak asing lagi dan tahu kalau almarhum seorang pecinta seni wayang kulit. Bahkan almarhum termasuk orang yang serius mendalami hal tersebut dengan memiliki sanggar sendiri.

Seringkali beliau janjikan ke pimpinan daerah, kalau perusahaanmu maju dan kamu berhasil nanti saya akan mendalang dan buat pertunjukkan wayang kulit di daerahmu. Gratis, tanpa bayar. Untuk yang paham soal wayang, mengadakan pertunjukan wayang semalam suntuk tidak tergolong murah. Bisa ratusan juta biaya yg diperlukan untuk menyiapkan kru, sinden, alat-alat gamelan dan musik, dan wayang itu sendiri.

Terkadang di wilayah yang terpencil yang penontonnya sedikit, beliau tetap penuhi janji itu. Sekali sudah janji, harus ditepati Dik, meskipun tidak ada yang menonton sekalipun. Jika hal tersebut diatas saja almarhum sangat teguh memegang janjinya, apalagi dalam hal janji bisnis.

Saya pernah mendengar beliau memarahi salah satu karyawan di daerah karena tidak menepati janji untuk melakukan pembayaran kepada pihak ketiga. Meskipun karyawan tersebut telah menjelaskan kepada pihak ketiga tersebut alasan keterlambatan pembayaran dan mereka telah menerima penjelasan tersebut. Tapi almarhum mengatakan dengan tegas, kalau sudah janji membayar di tanggal tersebut harus di tepati entah bagaimana caranya meskipun kamu mesti membolak balik bumi sekalipun.

Saya rasa banyak hal lain yang bisa ditiru dari sifat dan prilaku almarhum semasa hidupnya. Saya sangat berharap hal hal yang baik terutama semangat dan kultur kerja almarhum selama hidup bisa menular kepada teman teman semua. Di suatu rapat internal direksi dan komisaris wsm dahulu pernah tercetus kita semua ingin perusahaan ini berjalan “seribu tahun lagi” merujuk pada puisi Chairil Anwar.

Mungkin maksud dari selorohan tersebut adalah, meskipun almarhum pak parno sudah tidak bersama kita namun kita semua masih bisa merasakan “jiwa” petarung dan ulet beliau dalam diri kita masing masing. Saya yakin akan banyak orang orang seperti almarhum ke depannya. Sehingga seakan almarhum pak parno selalu terus hadir bersama kita.

Tentang perusahaan, almarhum hanya berpesan, di masa pandemi ini sungguh akan luar biasa sulit perjuangan generasi penerusnya. Jika dulu beliau anggap sudah bekerja 100 persen, generasi sekarang harus bekerja lebih keras dari itu. Harus banyak inovasi dan kreasi.

Pak Dwi berharap semua teman-teman saat ini akan meniru sifat kerja keras tidak kenal lelah dari Pak Parno. “Karena beliau selalu memimpin dengan memberi contoh. Dan jika kita semua bekerja dengan semangat beliau tentu merupakan bentuk kebahagiaan dan kebanggaan Pak Parno sendiri terhadap generasi penerusnya,” pungkasnya.(zl)

Komentar

Berita Lainnya