oleh

Ambisi Besar Menyatukan Langit Sumatera

Sriwijaya Air kini tengah jadi sorotan. Maskapai nasional terbesar ketiga itu kini tengah berjuang untuk terus mengangkasa pasca kecelakaan SJ-182. Dan memulihkan kepercayaan para penumpang.

Tidak banyak yang tahu, sejatinya, Sriwijaya Air awalnya adalah wujud dari ambisi besar para gubernur se-Sumatera untuk menyatukan langit di seluruh Sumatera. Dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Lampung.

Mimpi untuk menjadikan pembangunan di Sumatera melesat maju, menyusul gegap gempitanya pembangunan di Pulau Jawa.

Sejak dulu, akses transportasi di Sumatera memang menjadi kendala utama. Bahkan sampai sekarang.

Untuk mencapai Medan dari Palembang saja misalnya,
yang jaraknya 753 km, harus menempuh perjalanan darat selama 18 jam. Kedua kota utama di Sumatera itu belum terhubung jalur kereta api.

Jika memilih naik pesawat terbang, harus mengeluarkan biaya ekstra karena harus transit dulu ke Jakarta. Setidaknya harus merogoh kocek Rp 1 jutaan lebih, itu pun tarif tiket promo.

Bandingkan dengan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya yang jaraknya hampir sama. Dengan tol lintas jawa, perjalanan darat bisa ditempuh hanya dengan 9 jam. Perjalanan kereta api tersedia banyak. Dengan Agro Anggrek, kereta kelas eksekutif, hanya butuh sekitar 11 jam.

Bahkan saat ini sedang direncanakan ada kereta semi cepat yang bisa mengantar penumpang dari Jakarta ke Surabaya hanya 5,5 jam saja.

Pilihan keretanya pun banyak, dari kelas ekonomi yang tiketnya Rp100 ribuan sampai yang paling mewah Rp500 ribuan.

Perjalanan dengan pesawat lebih banyak pilihan. Rute Jakarta ke Surabaya adalah rute pesawat paling gemuk, paling banyak penumpangnya.

Semua airlines nasional pun tentu membuka rute ini. Perang harga tiket pun terjadi. Pada masa promo, tiket pesawat bahkan bisa lebih murah dari tiket kereta api.

Jomplangnya pembangunan infrastruktur transportasi ini sudah dirasakan para pemimpin daerah di Sumatera sejak dulu sekali. Padahal, Sumatera potensinya luar biasa. Sumatera adalah pulau terbesar keenam di dunia. Luasnya bahkan lebih luas dari seluruh wilayah negara Jepang.

Potensi sumber daya alamnya pun berlimpah. Di atas bumi Sumatera berbagai hasil alam seperti kopi, sawit, rotan, karet dan lainnya, tumbuh subur. Di dalam bumi Sumatera pun tersedia komplet, minyak dan gas bumi, batu bara, emas, timah dan lainnya.

Namun, akses tranportasi yang payah, mahal, dan tidak terkoneksi membuat potensi-potensi itu ibarat jalan di tempat. Sulit berkembang.

Dua dekade lalu, tepatnya 1999, para gubernur se-Sumatera sudah memulai ikhtiar. Para gubernur pun berembuk, lalu melalui beberapa pertemuan, terciptalah blueprint pembangunan Pulau Sumatera.

Sebuah rencana besar, yang isinya antara lain upaya membangun Sumatera Shipping Line (tol laut antar sumatera), railway sytem (jaringan kereta api), dan Sumatera Airlines.

Dengan sistem transportasi yang terintegrasi, para gubernur optimis, pembangunan di Pulau Sumatera akan melesat maju. Apalagi, Sumatera pun relatif dekat dengan Singapura, pusat perdagangan dunia. Ini tentu mendatangkan banyak peluang perdagangan bahkan transaksi internasional.

Ditolak DPRD

Pemprov Sumsel pun digadang mendirikan maskapai perintis. Sumsel dipilih, selain karena H Rosihan Arsyad, gubernur Sumsel saat itu adalah seorang penerbang TNI AL, juga karena Pemprov Sumsel sudah memiliki pesawat sendiri. Namanya Serunting Sakti.

Pesawat kecil berjenis Cassa 212 itu dibeli pada 1997 saat Gubernur Sumsel dijabat H Ramli Hasan Basri. Operasionalnya di bawah perusahaan daerah Prodexim.

Pesawat ini dulunya melayani penerbangan antara Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dengan bandara perintis yang ada di Sumsel, seperti di Lubuklinggau dan Banding Agung, Ogan Komering Ulu (OKU) yang merupakan kawasan wisata Danau Ranau.

Pada tahun 2000, pesawat Cassa 212 Serunting Sakti ini banyak membantu penanganan korban gempa di Bengkulu.

Masa Gubernur Rosihan Arsyad, Sumsel menambah satu unit lagi Cassa 212 dengan sistem sewa.
Dua pesawat ini banyak melakukan penerbangan untuk mengangkut logistik ke daerah-daerah di Sumsel yang relatif jauh dari Palembang, seperti Pagaralam dan Bangka Belitung (saat itu masih masuk provinsi Sumsel).

Pemprov Sumsel lalu merancang pendirian sebuah maskapai, nama yang dipilih yaitu Sriwijaya Airlines. Sayangnya, pendirian Sriwijaya Airlines tidak disetujui DPRD Sumsel.

“Saat itu, modal awal untuk mendirikan Sriwijaya Airlines butuh sekitar Rp 6 miliar,” ujar H Rosihan Arsyad, Gubernur Sumsel periode 1998-2003 saat ditemui Sumeks.Co di kediamannya, kawasan Kemang Jakarta Selatan, Minggu (17/1/2020).

Dengan APBD Sumsel sekitar Rp 300 miliar, mengeluarkan anggaran sebanyak itu untuk mendirikan sebuah maskapai dirasa berat.

Padahal Sriwijaya Airlines inilah yang diharapkan menjadi maskapai yang menjadi pilot project pendirian Sumatera Airlines. Yang menurut Rosihan Arsyad, rencananya menggunakan pesawat-pesawat kecil berjenis baling-baling (propeller) untuk menerbangi kota-kota di Pulau Sumatera. Pemerintah daerah pun berencana akan memberikan subsidi harga tiket pada awal-awal operasionalnya.

Pupuslah harapan Sumsel memiliki airlines sendiri. Kegagalan itu ternyata disambut pengusaha lokal, Chandra Lie. Pengusaha travel agent asal Bangka Belitung itulah yang kemudian melanjutkan rencana pendirian maskapai itu. Masih dengan nama yang sama. Sriwijaya pun kemudian tetap mengangkasa bahkan berkembang pesat menjadi maskapai nasional.

“Nama Sriwijaya itu tentu dengan harapan, maskapai ini bisa membangkitkan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang menguasai sebagian besar nusantara,” tambah Rosihan Arsyad yang lulusan US Navy Flying School ini.

Dilanjutkan
Riau Airlines

Soal maskapai ini, Pemprov Riau ternyata terus maju. Gubernur Riau saat itu, Saleh Djasit, mengajak sejumlah pemerintah daerah di Riau urunan memulai bisnis atas angin itu pada 2002. Didirikanlah maskapai penerbangan Riau Airlines.

Pemprov Riau menjadi satu-satunya pemerintah daerah yang memiliki maskapai penerbangan.

Riau Airlines pada awalnya juga menggunakan pesawat baling-baling Fokker 50. Yang menerbangi kota-kota dalam provinsi Riau yang memang banyak memiliki bandara perintis. Termasuk ke Kepulauan Riau.

Armada udara Riau Airlines yang berlambang perahu lancang kuning inilah yang kemudian mewujudkan impian Sumatera Airlines yang tak tercapai.

Mereka melayani rute-rute penerbangan jarak pendek antar kota di Pulau Sumatera. Juga rute ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura.

Pemprov Bangka Belitung dan Bengkulu kemudian ikut menanamkan sahamnya di maskapai ini, dengan harapan membuka keterisoliran wilayah mereka.

Sayangnya, setelah berkembang dan menjadi kebanggaan rakyat Riau selama 9 tahun, Riau Airlines stop operasi karena didera masalah finansial.

Pada 2002 juga, Pemprov Aceh memiliki armada komersial Seulawah NAD Air yang diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Niatan Aceh tentunya mengulang kejayaan masa lalu, tatkala rakyat Aceh menyumbangkan dana untuk membeli armada udara pertama Republik Indonesia, pesawat Seulawah.

Namun tidak sampai setahun, pada tahun 2003, Seulawah sudah tidak mampu terbang dan meninggalkan utang besar.

Namun kegagalan Seulawah tidak membuat seisi Aceh, putus asa. Pada tahun 2008, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyewa sebuah pesawat Fokker F28 berkapasitas 80 penumpang dengan nama armada North Aceh Air.

Nasib penerbangan itu lebih tragis lagi, karena hanya sekali terbang lalu padam.

Sampai saat ini, para pemerintah daerah di Sumatera memang masih berjalan sendiri-sendiri. Namun kabar baiknya, maskapai nasional mulai melirik kota-kota di Sumatera dalam rute penerbangan regular mereka.

Beberapa maskapai seperti Wings, Garuda Indonesia (Xplorer), dan Sriwijaya Air sendiri sudah terbang menghubungkan antar kota di Sumatera.

Namun kita berharap, pembangunan infrastruktur transportasi di Sumatera kian bergeliat. Dan Sumatera bisa makin berjaya.

Dan untuk mencapai itu memang memerlukan inovasi dan kolaborasi antar pemimpin daerah.(*)

Oleh: Masayu Indriaty Susanto
Penulis adalah Jurnalis  Sumeks.Co Wilayah Jakata

Komentar

Berita Lainnya