oleh

Atai Balak dan Rencana Lebaran Korona

Penulis; Guntur Alam, Pali, Sumsel

ATAI Balak meringkuk di bawah Jembatan Ampera. Hanya berjarak kurang dari seratus meter, Pasar 16 Ilir Kota Palembang berdiri tegar dalam guyuran hujan deras. Laki-laki bertubuh kerempeng dengan rambut keriting itu melirik jam di pergelangan tangan kirinya.

Embun membuat jarum jam itu terlihat kurang jelas. Atai Balak sedikit memicingkan matanya, sudah pukul delapan belas lewat. Perutnya kembali melilit. Perih. Tadi dia sudah menadahkan tangan pada air hujan untuk berbuka puasa, meneguknya untuk sedikit menghalau rasa lapar. Namun, sia-sia. Sebanyak apa pun dia minum, perutnya masih akan tetap lapar.

Hari ini sudah puasa Ramadan hari kedua puluh tiga. Seminggu lagi Idul Fitri. Seharusnya Pasar 16 Ilir sedang ramai-ramainya. Orang-orang akan berjejal, berdesak- desakan, untuk membeli baju dan kue Lebaran. Namun, tidak tahun ini. Sejak awal puasa, toko-toko di sini dipaksa tutup. Orang-orang juga dilarang berbelanja.

”Palembang menerapkan PSBB, Bang.” Itu ucapan Mat Jail ketika Atai Balak terheran-heran melihat Pasar 16 Ilir yang sudah seperti tanah kuburan.

”Apa itu PSBB, Mat?” tanyanya.

”Pembatasan sosial berskala besar, Bang.” Mat Jail menjawab sambil merapikan uang dua ribu yang hanya empat lembar. Lahan parkir yang dia jaga kosong melompong. Padahal, ruang terbuka hijau yang ada di samping Jembatan Ampera ini biasanya selalu penuh sesak oleh motor dan mobil yang parkir.

”Kenapa pula dibatasi?” dengus Atai Balak. Dia menggaruk-garuk rambut keritingnya, gatal dan kesal. Atai Balak sudah berkeliling mengecek semua lahan parkir yang dia kuasai di wilayah Pasar 16 Ilir. Semua bernasib sama. Kosong melompong.

”Gara-gara korona, Bang,” terang Mat Jail lagi. Laki-laki pendek bertubuh gempal dengan tato memenuhi kedua lengan itu berdiri dari duduknya. ”Semakin banyak saja korban korona di Palembang. Dengar-dengar, sudah seratus orang lebih. Katanya, wali kota takut kalau-kalau ada yang kena korona belanja ke 16. Bisa mati semua orang di sini.”

”Ah, akal-akalan,” gerutu Atai Balak. ”Kalau waktunya mati, ya mati saja. Mau terkena korona atau cuma bisul, sama saja.”

Mat Jail tidak berkomentar. Laki-laki yang sudah dua kali masuk penjara itu tahu, bosnya itu tengah pening kepala. Mungkin tak banyak yang tahu, selain anak buahnya di Pasar 16 ini, Atai Balak mengasuh beberapa anak yatim piatu dan manula. Semua ditampung di rumahnya, daerah Pakjo sana. Melihat tampang Atai Balak yang seram; bekas luka codet di pipi kanan, tato memenuhi leher, gigi menguning oleh tembakau, bibir hitam legam, siapa sangka laki-laki sangar itu punya hati yang peka. Mat Jail merasakan sendiri kebaikan Atai Balak. Selepas dia keluar dari penjara karena kasus pembunuhan, tak ada siapa pun yang mau menampungnya. Dia bisa mati kelaparan jika Atai Balak tak mengulurkan tangan kepadanya.

***

HUJAN masih turun dengan deras, Atai Balak mengisap rokok terakhir dengan sangat pelan. Dia berusaha menikmati harta terakhirnya itu. Mat Jail belum ada tanda-tanda muncul. Tadi, jelang berbuka puasa, sekitar pukul tujuh belas, Atai Balak meminta Mat Jail dan Kuyung untuk pulang ke rumah sebentar, membawa makanan berbuka untuk anak yatim piatu dan manula yang diurusnya. Mereka semua orang-orang terbuang. Anak-anak yang tak diinginkan orang tua mereka dan orang-orang tua yang tak diingat lagi oleh anak-anak mereka.

Tadi pagi Rizki, anak yatim piatu yang dia temukan di Pasar 16 Ilir ketika berumur enam tahun, bertanya kepadanya, ”Bang, kita benar-benar tidak beli baju Lebaran tahun ini?”

Atai Balak hanya menyeringai saat bocah laki-laki yang kini berusia sembilan tahun itu bertanya. Dia menyembunyikan air mata yang menghangat di sudut matanya. Semua anak-anak di sini memanggilnya abang. Sejak sekolah diliburkan karena korona, Rizki dan beberapa anak asuhnya meminta izin kepada Atai Balak untuk pergi mencari uang. Mengamen atau mengemis. Namun, Atai Balak melarang. Dia tidak ingin anak-anak itu berurusan dengan dinas sosial dan kerasnya jalanan. Terlebih, sangat repot mengurus bila mereka tertangkap petugas. Selalu butuh uang agar anak-anak bisa kembali ke rumah.

”Abang usahakan,” sahut Atai Balak. ”Lebaran masih seminggu lagi. Bersabar sajalah. Eh, bagaimana tugas sekolah kalian? Mahal-mahal abang belikan paket data HP untuk kalian belajar, bukan untuk main Mobile Legends dan FF. Setiap hari abang lihat, kerja kalian cuma mabar saja.”

Semua anak di ruang itu menyeringai, memamerkan gigi-gigi mereka yang menguning. Walau sudah digosok saban hari, tapi air Sungai Musi yang selalu keruh cokelat telah membuat gigi-gigi itu berkarat.

Atai Balak menghela napas. Hari ini parkiran kosong melompong. Dari toko-toko yang biasanya juga memberi uang keamanan, tidak ada satu pun yang menyetor. Bagaimana mau menyetor, buka saja tidak. Bahkan tadi, untuk membeli makanan buka puasa hari ini, Atai Balak terpaksa menarik sisa uang yang ada di ATM-nya. Sejak PSBB, setiap hari Atai Balak menggerus uang tabungannya. Dan, hari ini uang itu benar-benar habis.

Apa yang harus diceritakan kepada anak-anak? Hatinya bertanya. Untuk orang-orang tua, Atai Balak tahu mereka tidak butuh baju Lebaran. Lima manula yang dia urus hanya butuh tempat berteduh, makan-minum, dan hangatnya keluarga. Mereka tidak pernah meminta lebih dari itu. Sementara anak-anak? Bukan ingin meminta lebih, tapi karena mereka masih anak-anak, bila Lebaran datang, artinya mereka punya baju baru.

Sejak siang, Atai Balak menyusun rencana manis jika korona usai. Jika parkiran motor dan mobil di bawah Jembatan Ampera ini kembali ramai dan sesak, jika toko-toko di Pasar 16 Ilir kembali ramai oleh pembeli, jika penghasilan Atai Balak dan anak-anak buahnya kembali seperti sediakala. Jika… Atai Balak merasa kata itu terdengar penuh harapan. Namun, dia kembali bertanya, kapan kata ”jika” itu bisa terlaksanakan?

”Abang punya cerita untuk kita semua,” Atai Balak mengulangi monolog itu lagi.

”Tapi, ini cerita sedih. Siapa yang mau mendengarnya?”

Atai Balak membayangkan tak ada satu pun dari delapan anak asuhnya yang mengacungkan tangan. Dia tahu persis anak-anak asuhnya, tak ada satu pun dari mereka yang menyukai cerita sedih. Namun, Atai Balak sudah punya kalimat selanjutnya.

”Tapi, kalian harus mendengar cerita abang,” sambungnya. ”Mau dengar ataupun tidak, kalian harus tetap dengar. Jadi, buka lubang cuping kalian lebar-lebar,” perintahnya.

Dalam benaknya lagi, anak-anak itu hanya mengangguk dengan muka lesu. Atai Balak tak pernah suka melihat wajah-wajah sedih. Bila melihat wajah sedih, dia teringat pada wajah almarhum adiknya dulu. Saban adiknya itu kepengin makan ayam goreng, kepengin baju baru, kepengin mainan baru, orang tua mereka tak pernah bisa memberikannya. Atai Balak memendam rasa marah. Dia marah pada ketidakmampuan dirinya dan orang tuanya untuk mewujudkan keinginan adiknya. Sampai pada satu titik, adiknya sakit dan orang tuanya tidak mampu membawanya berobat. Bila melihat anak-anak telantar di Pasar 16 Ilir, Atai Balak selalu ditarik ingatan pada wajah adiknya yang sedih.

”Tahun ini,” ujar Atai Balak, ”Abang tak dapat membelikan kalian baju Lebaran. Parkiran sepi. Toko-toko di Pasar 16 Ilir tutup semua. Korona tidak hanya meliburkan sekolah kalian, tapi juga pasar.”

Atai Balak membayangkan Rizki tertunduk lesu. Dia menggeleng cepat, mengusir bayangan buruk itu.

”Tapi, Abang janji,” ucapnya cepat-cepat, berusaha menghalau kesedihan di wajah anak-anak itu. ”Usai korona ini, kalau Pasar 16 Ilir sudah dibuka lagi dan abang dapat duit, kalian semua akan abang belikan baju. Dua tiap-tiap orang.”

Di benaknya lagi, anak-anak itu mengangkat wajah, tersenyum semringah kala mendengar kata-kata ”dua tiap orang”. Atai Balak tersenyum senang. Rencananya terdengar cukup sempurna. Dia mengangguk-angguk. Dia yakin, anak-anak akan senang mendengar rencananya. Tak apa tidak berbaju Lebaran di Idul Fitri tahun ini. Tapi, seusai korona, mereka bisa membeli dua baju Lebaran sekaligus. Hanya berjarak dua bulan usai Idul Fitri, akan ada Idul Adha. Anggaplah baju baru itu untuk Lebaran Haji.

Ya, ya, ya, sebuah rencana yang sempurna, ucap hati Atai Balak.

***

KILAT menyambar, Atai Balak segera menutup kedua telinganya, terdengar dentuman suara guntur. Hujan semakin deras. Perut Atai Balak semakin melilit. Sementara tanda-tanda Mat Jail dan Kuyung belum ada. Mungkin keduanya terjebak hujan deras. Atai Balak menadahkan lagi tangannya, menampung air hujan dan meneguknya.

Laki-laki berambut keriting itu meringis. Usai rencana yang sempurna tadi, dia ditampar kenyataan paling pahit. Dia belum makan apa pun, padahal hari sudah hampir jam delapan malam. Uang di ATM-nya sudah terkuras habis. Lalu, bagaimana anak-anak itu makan sahur besok pagi? Bagaimana dengan makanan berbuka mereka? Setelah nyaris satu bulan PSBB, Atai Balak tak mendapat penghasilan apa pun. Laki-laki itu baru menyadari, dia tidak butuh rencana seusai Covid-19 mereda, tapi butuh rencana baik sekarang. Makan apa mereka besok pagi? Atai Balak melirik jam butut di tangannya. Bila dijual, laku berapa? Batinnya. Mata Atai Balak terasa memanas, dia teringat wajah sedih almarhum adiknya. (*)


GUNTUR ALAM

Menetap di Pali. Buku kumpulan cerpen gotiknya, Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, terbit pada 2015. Buku terbarunya akan terbit Juni mendatang. Dua novel horor untuk remaja, berjudul Ritual dan Teman. Guntur Alam bisa diajak ngobrol di akun Twitter @AlamGuntur.

(terbit ; Jawapos)

Komentar

Berita Lainnya