oleh

Banyak Klub Bubar, PT LIB Tutup Mulut

Sumeks.co – Nahas benar nasib klub Liga 1 dan Liga 2. Selain menghadapi ketidakjelasan kapan kompetisi dimulai, mereka harus menerima kenyataan subsidi bulan ini belum juga cair. Padahal, bulan ini sudah memasuki pekan terakhir.

Tentu itu sangat menyulitkan. PS Hizbul Wathan yang berstatus klub baru di Liga 2 terpaksa membubarkan tim. Tidak bisa meneruskan latihan karena tidak ada biaya.
Presiden PSHW Dhimam Abror mengatakan, latihan PSHW di lapangan Unesa kemarin adalah latihan terakhir.

Para pemain hari ini terpaksa dipulangkan ke rumah masing-masing. ’’Kayak warung kehabisan modal. Ini terpaksa warung saya tutup dan anak-anak saya pulangkan,’’ ujar Abror.

Padahal, PSHW sebenarnya bisa sedikit bernapas seandainya subsidi yang dijanjikan PT LIB cair. Yakni, subsidi Oktober ini senilai Rp 150 juta. ’’Padahal sudah tanggal segini tidak ada tanda-tanda sama sekali,’’ terang Abror.

Selain subsidi, LIB sejatinya menjanjikan subsidi tambahan lain senilai Rp 25 juta sebagai kompensasi tertundanya Liga 2 yang seharusnya diputar Oktober ini. ’’Satu paket tidak cair. Padahal, kewajiban kami akhir bulan sudah numpuk. Sedih rasanya kondisi seperti ini,’’ tuturnya.

Bukannya tanpa bertindak, Abror mengaku sudah berusaha mempertanyakan perihal subsidi Oktober ini kepada LIB. Sudah menanyakan langsung kepada pihak-pihak yang bersangkutan.

’’Jawabannya masih proses. Kami akhirnya memutuskan untuk off dulu sampai ada kepastian kompetisi,’’ paparnya.

Keterlambatan subsidi juga dibenarkan Sekretaris PSMS Julius Raja. Padahal, setiap bulan Ayam Kinantan harus keluar biaya minimal Rp 750 juta selama masa persiapan. Subsidi dari LIB pun baru cair sebulan saja pada September lalu sebesar Rp 150 juta. Itu pun belum dipotong pajak.

’’Kami rugi Rp 600 juta. Tapi, mau bagaimana lagi, kami tetap harus konsisten, karena target kami naik kasta,’’ jelasnya.

Julius menyebut klub seperti PSMS cukup beruntung. Beberapa sponsor yang masuk masih memercayakan uangnya bisa dipakai untuk tim. ’’Tapi, bagaimana klub lain yang tidak punya sponsor? Bisa-bisa mereka nanti hanya asal ikut kompetisi ketika liga bergulir,’’ paparnya.

Apalagi, musim ini tak ada degradasi di Liga 2. Artinya, klub-klub merasa tidak perlu takut akan turun divisi walaupun main dengan seadanya. Dengan pemain lokal murah dan persiapan yang minim.

Belum lagi adanya ancaman jual beli pertandingan. Julius menuturkan, hal itu jadi pertimbangan PSSI dan LIB untuk segera memutuskan kapan kompetisi bergulir. ’’Nanti klub-klub yang tidak niat itu malah cari untung. Pemain murah-murah. Bisa jadi kontraknya satu tim kurang dari Rp 100 juta tiap bulan. Malah untung kalau dapat subsidi, tidak bisa dibenarkan ini,’’ tegasnya.

Sayang, Jawa Pos yang berusaha mengonfirmasi terkait belum cairnya subsidi tidak mendapat tanggapan dari LIB. Direktur Utama LIB Akhmad Hadian Lukita yang biasanya begitu ramah menjawab pertanyaan wartawan memilih tutup mulut.

Direktur Keuangan LIB Anthony Chandra juga senada dengan Lukita. ’’Saya sempat tanya ke Direktur Keuangan Anthony, katanya LIB sulit mencairkan subsidi karena sponsor tidak mau bayar selama kompetisi tidak jelas,’’ ujar Julius.(jawapos.com)

Komentar

Berita Lainnya