oleh

Bayi Lahir dengan Kelainan Kelamin, Muncul Penis pada Bibir Vagina

SUMEKS.CO – Memiliki buah hati tentunya merupakan sebuah anugrah terindah bagi pasangan suami istri (pasutri). Begitu pula yang dirasakan oleh I Dewa Made Rai Sudarsana, 36 dan Made Giriantini, 25, pasutri dari Banjar Dinas Kerobokan, Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, Bali. Sayangnya, kebahagiaan keduanya tak sempurna. Sebab, anak ketiganya lahir dengan alat kelamin yang tidak jelas.

Keluarga kecil ini tinggal di pelosok desa Sepang. Untuk menuju rumahnya harus menempuh jarak 5 kilometer dari jalan utama Desa Sepang. Namun akses jalan masih bisa dilalui sepeda motor meski kondisi jalan berliku dan cukup curam. Di tempat inilah I Dewa Made Rai Sudarsana, 36 dan Made Giriantini, 25 dikaruniai tiga buah hati. Anak pertama I Dewa Ayu Candra Dewi, 8 tumbuh menjadi anak yang cantik dan santun. Begitu pula dengan adiknya Dewa Made Citra Mahendra, 5 tumbuh dengan normal dan anggota tubuh yang lengkap.

Namun takdir berkata lain saat melahirkan anak ketiga. Pasutri ini tidak seberuntung saat melahirkan dua buah sebelumnya. Dewa Rai dan Jro Giriantini melahirkan seorang anak pada 16 Februari 2021 lalu sekitar pukul 18.00 Wita di Rumah Sakit Karya Dharma Husada (KDH). Ketika itu diketahui bayi tersebut memiliki kelainan pada alat kelaminnya. Sementara kondisi bayi normal dan sehat dengan berat 3,2 kilogram saat lahir.

Saat dikunjungi, di sebuah rumah sederhana nampak si bayi terlelap di pangkuan ibunya Jro Girianti. Dengan terbalut selimut berwarna merah, raut bayi yang baru berusia 10 hari itu nampak teduh. Sesekali ia terjaga untuk meminum ASI ibunya. Jro Girianti menjelaskan kondisi kelamin anak ketiganya itu masih tidak jelas. Disebutkan si bayi memiliki jenis kelamin seperti penis. Penis itu tumbuh di antara kulit yang menyerupai bibir vagina. Ia pun mengaku saat anaknya buang air kecil, dikeluarkan dari kelamin yang menyerupai penis itu.

Ditanya perihal kondisi bayi saat dalam kandungan, Dewa Rai dan Jro Girianti mengaku tidak ada keanehan apa pun. Hanya saja ketika itu bayinya sungsang sehingga Jro Girianti melahirkan dengan cara Caesar. Mereka pun mengaku ketika lahir anak ketiganya itu sama sekali tidak rewel ataupun merasakan sakit saat buang air kecil.

“Waktu kelahirannya anak saya ada kelainan. Dari dokter kami disarankan untuk menunggu tiga bulan untuk melakukan USG untuk identifikasi jenis kelamin. Kondisi bayi kami sehat dan normal tapi lahirnya operasi. Kalau buang air kecil tidak ada merasakan sakit apa-apa. Normal-normal saja, tidak rewel,” kata Dewa Rai.

Peristiwa yang dialami oleh I Dewa Made Rai Sudarsana dan Jro Made Giriantini ini diketahui oleh aparat desa beberapa hari lalu lewat jejaring perpesanan WhatsApp. Pihak desa pun segera mengambil tindakan agar si bayi mendapat bantuan pengobatan. Kondisi yang dialami oleh warga Desa Sepang ini selanjutnya dikoordinasikan ke Dinas Sosial Kabuapaten Buleleng agar mendapat penanganan.

“Kabar ini kami terima sekitar 3 hari lalu lewat WA. Dari desa kami langsung koordinasikan ke Dinas Sosial. Ternyata dari pihak Dinsos sudah langsung mendatangi warga kami. Jadi kami selesaikan di tempat. Setelah mengajukan permohonan bantuan pelayanan kesehatan ke Dinas Sosial, kami juga memohon tindakan secepatnya untuk si bayi ini. Dan kami pun belum mengetahui berapa besaran biaya yang akan dibutuhkan untuk serangkaian tes dan pemeriksaan yang dilakukan. Kami berharap warga kami bisa mendapat bantuan untuk itu,” ujar I Putu Agung Mahardika, Kepala Desa Sepang.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Kabupaten Buleleng Putu Kariaman Putra menerangkan, keluarga tersebut telah memiliki kartu jaminan kesehatan KIS PBI. Namun, untuk anak ketiga dari keluarga itu belum terdaftar dalam jaminan kesehatan. Sehingga dari Dinas Sosial melakukan pendampingan KIS terhadap si bayi yang belum memiliki nama ini agar proses pengobatan dapat dilakukan dengan gratis.

“Langkah cepat kami adalah memberikan pendapingan untuk kepesertaan kartu KIS untuk memudahkan yang bersangkutan mendapat pelayanan kesehatan secara gratis. Kalau orangtuanya sudah terdaftar tapi si bayi belum terdaftar. Maka dia butuh pendampingan KIS. Dan kami sudah selesaikan itu. Sesuai ketentuan fungsi pendampingan KIS itu mulai dari pemeriksaan, tindak lanjut kebutuhan dan rujukan kesehatan. Nanti akan kami kawal juga untuk selanjutnya agar pelayanan kesehatan untuk si bayi bisa dilakukan. Kami akan berkoordinasi dengan RSUD dan Dinas Kesehatan untuk penanganan selanjutnya,” ungkapnya.

Akan tetapi Dinas Sosial juga menyayangkan keluarga tersebut tidak masuk dalam DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial). Dengan kondisi itu, bantuan-bantuan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat belum bisa menjakau ke keluarga Dewa Rai. “Kedepan kami juga akan upayakan agar warga ini terdaftar di DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) sehingga tersentuh bantuan dari program-program pusat maupun daerah. Dari data yang kami terima ternyata keluarga ini belum terdaftar di DTKS, jadi belum bisa masuk dalam Calon Keluarga Penerima Manfaat (CKPM). Kami juga sudah meminta kepada pendamping PKH yang bertugas agar keluarga ini di data sehingga bisa masuk dalam CKPM PKH nantinya,” terangnya.

Untuk mengetahui jenis kelamin si bayi, pihak rumah sakit menyarankan untuk menunggu selama tiga bulan untuk melakukan tes USG. Tes tersebut dimaksudkan sebagai langkah identifikasi apakah dalam tubuh si bayi terdapat rahim atau tidak. Dan tentu saja selain itu si bayi juga harus melakuka serangkaian tes lainnya untuk mengindetifikasi identitas jelasnya. Menurut rencana hari ini, Jumat (26/2) bayi ketiga dari Dewa Rai dan Jro Giriantini akan melakukan kontrol pertama di Rumah Sakit Karya Dharma Husada.(BE/jawapos.com)

Komentar

Berita Lainnya