oleh

Begini Skema Kelanjutan Kompetisi Liga 1 dari PT LIB

Sumeks.co – Ada dua opsi yang dimiliki PT LIB (Liga Indonesia Baru) terkait kelanjutan kompetisi. Pilihan pertama adalah meneruskannya pada awal Juli dengan syarat pandemi korona benar-benar hilang. Sementara itu, pilihan kedua adalah mengikuti rencana PSSI membuat ’’kompetisi khusus’’ pada September mendatang dengan posisi LIB tidak jadi operator lagi.

Dua pilihan tersebut beberapa hari terakhir dibicarakan di internal LIB. Hal itu diungkapkan salah seorang komisaris LIB Hasani Abdul Ghani kepada Jawa Pos kemarin (1/5). Dia menjelaskan, sempat ada pertemuan khusus LIB untuk membahas masalah kompetisi di internal.

Meeting itu tidak berjalan sempurna karena pandemi korona. Tidak semua direksi dan komisaris bisa datang. ’’Tapi, pertemuan itu dibahas betul tentang opsi-opsi kelanjutan liga. Baik dari sisi kerugian ataupun keuntungannya,’’ ucapnya.

Hasani menyatakan, ada dua opsi yang saat ini dipunyai LIB. Bahkan, opsi tersebut sudah akan diberikan kepada PSSI untuk diputuskan. ’’Tapi, kami punya opsi ketiga yang sempat dibicarakan juga ketika rapat internal,’’ ujarnya. ’’Opsi untuk Liga 1,’’ lanjutnya.

Opsi tersebut adalah meneruskan Liga 1 September mendatang. Usul itu tentu bakal bertentangan dengan rencana PSSI yang mengusulkan ’’kompetisi khusus’’ di bulan yang sama. ’’Akan ada banyak keuntungan jika kompetisi diteruskan pada September,’’ tuturnya.

Keuntungan pertama didapat LIB dan pemegang saham, terutama klub Liga 1. Jika kompetisi diteruskan, ada kepercayaan dari pihak sponsor mengenai tanggung jawab yang diemban untuk Liga 1. Apalagi, selama ini, proses untuk menjalankan Liga 1 sudah sangat baik. ’’Stepnya sudah baik. Mulai dari jadwal yang disamakan dengan agenda kamtibnas, serta peningkatan kualitas-kualitas lainnya,’’ jelasnya.

Keuntungan lain, jika dimulai September, otomatis kompetisi bakal sama dengan jadwal dimulainya liga-liga di Eropa dan sebagian Asia. Dengan begitu, bakal lebih memudahkan untuk menyamakan waktu FIFA Matchday nantinya. ’’Jadi, Liga 1 tidak selalu paling terakhir memulai kompetisi terus,’’ katanya.

Opsi itu tentu menguntungkan. Apalagi, Liga Super Malaysia juga berencana memulai lagi Liga 2020 September mendatang dengan format separo kompetisi. Begitu juga Liga Thailand yang rencananya juga kembali bergulir September mendatang. ’’Liga-liga di kawasan Asia Tenggara juga rencananya mulai lagi September. Ini justru menguntungkan ke depannya, jadwal bisa beriringan sama,’’ bebernya.

Jika jadwal di Asia Tenggara sudah sama, pria yang juga anggota Exco PSSI itu menyatakan bahwa hal tersebut akan memudahkan untuk penyusunan Piala AFF. Selama ini, Piala AFF tidak masuk agenda FIFA. Artinya, negara-negara yang ikut berpartisipasi kelabakan untuk persiapan karena harus bertanding juga untuk FIFA Matchday di jarak yang cukup dekat waktunya. ’’Kalau semua liga di kawasan Asia Tenggara berjalan dengan waktu yang sama, berbarengan dengan Eropa juga, ini pasti menguntungkan,’’ ucapnya.

Namun, kembali lagi, opsi tersebut nantinya kembali ke PSSI. Federasi pimpinan Mochamad Iriawan itulah yang nanti punya hak memutuskan memilih opsi mana untuk kelanjutan Liga 1. ’’Daripada ribut-ribut tidak jelas, malah mengurangi nilai di mata sponsor. Mending semua duduk bersama lagi untuk bicara soal kelanjutan kompetisi. Banyak hal yang menguntungkan jika rencanannya matang,’’ ungkapnya.

Presiden Klub Persiba Balikpapan Gede Widiade sependapat. Dia menegaskan, momen untuk memutuskan kelanjutan kompetisi jadi bukti kinerja para petinggi LIB maupun PSSI. Apakah kinerja mereka hanya jago soal ribut-ribut ’’nepotisme’’ tak jelas atau memang jago di urusan industri sepak bola. ’’Kalau saya, sepak bola memang tetap harus berjalan bagaimanapun juga. Misal liga berhenti, boleh bikin turnamen. Ini dilihat kepiawaian PSSI dan LIB, apakah mereka betul mengerti soal sepak bola, lalu apakah mereka mengerti bisnis bola dan bisnis murni juga,’’ terangnya. (jawapos.com)

 

Komentar

Berita Lainnya