oleh

Begini Sosok Rinaldi Harley Korban Mutilasi di Mata Keluarga, dan Fakta Terbaru

SUMEKS.CO- Sosok korban pembunuhan di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, Rinaldi Harley Wismanu dikenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua dan keluarganya. Pria berusia 32 ini merupakan anak pertama dari empat bersaudara dan berperan sebagai tulang punggung keluarga.

Salah seorang kerabat keluarga korban, Hendro menuturkan, sebelum bekerja di Jakarta, Rinaldi sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Terdaftar sebagai angkatan 2006 Jurusan Sastra Jepang.

“Setelah lulus langsung lanjut kuliah S2 dan S3 di Jepang. Lalu kerja di Jakarta di bidang kontraktor,” jelasnya, ditemui di kediaman rumah duka, Nologaten Caturtunggal Depok Sleman.

Sebagai anak pertama, lanjut Hendro, korban dikenal sangat peduli dengan adik-adiknya. Tak hanya itu sosok ini juga dikenal perhatian kepada keluarganya. Hampir semua kebutuhan keluarga dipenuhi oleh pria ini.
Pasca pandemi Covid-19, sosok Rinaldi tak pernah pulang ke rumah. Pertimbangannya adalah kesehatan orangtua dan keluarganya di rumah. Walau begitu komunikasi jarak jauh tetap berlangsung intens dan rutin.

“Terakhir itu ke Bromo bersama keluarganya. Kalau tidak salah antara Januari atau Februari. Pokoknya sebelum Covid-19,” katanya seperti dikutip Radar Jogja (Jawa Pos Group), Senin (21/9).

Walau bekerja di Jakarta namun KTP Rinaldi masih Sleman. Hendro menceritakan Rinaldi juga telah menikah 2019 lalu. Istrinya berstatus warga negara Jepang. “Tahun 2019 sudah nikah sama orang Jepang. Kenal sama istri waktu sekolah di Jepang,” ujarnya.

Diketahui, Dua pembunuh Rinaldy Harley Wismanu ternyata sempat tidur 1 kamar dengan 11 potongan tubuh Rinaldi di Apartemen Kalibata City. Saat itu mereka tidur 1 malam.

Hal itu diungkap Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus. Pembunuh Rinaldi adalah sepasang kekasih. Laeli Atik dan Djumadil Al Fajri. Yusri menjelaskan, Laeli dan Djumadil mengeksekusi Rinaldy di salah satu apartemen di bilangan Jakarta Pusat.

Jenazah Rinaldy sempat ditinggalkan selama 3 hari di sana. Pada tanggal 12 September 2020, kedua sejoli itu memutilasi jenazah korban dan memasukkan bagian badan dan tangannya ke dalam koper, lalu menuju ke Kalibata City. Pada 13 September 2020, kata Yusri, kedua tersangka itu kembali memutilasi tubuh korban bagian atas.

“Bahkan sempat menginap di situ (Apartemen Kalibata City) satu malam bersama-sama dengan jenazahnya. Alasannya kecapean, ketiduran di situ,” ujar Yusri. Djumadil Al Fajar alias DAF (26) dan Laeli Atik Supriyatin alias LAS (27) belajar membunuh dan  mutilasi  Rinaldi Harley Wismanu (32) dari Youtube.

Kedua pelaku diketahui telah belajar lebih dulu ihwal bagaimana cara memutalasi mayat manusia sebelum akhirnya mereka praktikan langsung usai menghabisi nyawa Rinaldi Harley Wismanu (32).

“Ada temuan-temuan baru. Kemarin sudah saya sampaikan contoh dengan ada yang ditemukan. Rupanya yang bersangkutan belajar mutilasi pakai YouTube. Dia lihat dari YouTube,” kata Yusri.

Temuan selanjutnya ialah berkaitan dengan latar belakang kedua pelaku. Di mana LAS memiliki pendidikan tinggi namun nasib dan takdir berkata lain.

Setelah ia bertemu DAF, mereka justru merencanakan perbuatan keji untuk membunuh sekaligus mutilasi Rinaldi. “Kemudian terdapat identitas tersangka L itu ternyata dia adalah orang yang berpendidikan tinggi dan pernah kerja di tempat yang bagus, cuma karena masalah pandemi ini dia menganggur kenalan DAF. Kita dapat lagi DAF ternyata punya keluarga. Itu yang kita dapat temuan-temuan,” ujar Yusri.

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya rampung melaksanakan rekonstruksi kasus pembunuhan berencana dan mutilasi yang dilakukan sepasang sejoli, Djumadil Al Fajar alias DAF (26) dan Laeli Atik Supriyatin alias LAS (27) terhadap Rinaldi Harley Wismanu (32).

Sebanyak 37 adegan diperagakan oleh kedua tersangka dari tahap perencanaan, eksekusi pembunuhan dan mutilasi, hingga rencana pemakaman jasad korban.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan ada 13 tempat kejadian perkara (TKP) dalam serangkaian aksi pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan oleh kedua tersangka. Salah satu TKP yakni Apartemen Pasar Baru Mansion, Jakarta Pusat yang menjadi tempat tersangka Fajar membunuh dan memutilasi korban.

“Dari ke 37 adegan ini, kami penyidik membagi menjadi tiga tahapan. Tahapan pertama adalah tahapan perencanaan, tahapan kedua adalah tahapan pelaksaanan, dan yang terakhir ke tiga adalah pasca pelaksanaan yaitu pembersihan TKP dan pembuangan barang bukti lainnya,” kata Calvijn usai rekonstruksi di Apartemen Pasar Baru Mansion, Jakarta Pusat.

Berdasar hasil rekonstruksi, Calvijn mengemukakan setidaknya ada enam fakta baru yang berhasil terungkap dalam kasus pembunuhan berencana dan mutilasi tersebut. Fakta pertama diketahui bahwa sepasang sejoli tersebut awalnya merencanakan untuk melakukan pemerasan terhadap calon korban. Mereka memancing calon korbannya dengan menggunakan aplikasi kencan Tinder untuk melakukan persetubuhan dengan tersangka Atik dan di saat bersamaan tersangka Fajar akan datang dengan mengaku sebagai suami untuk kemudian melakukan pemerasan terhadap korban. “Apabila tidak terlaksana pemerasan terjadi, maka disepakati oleh kedua tersangka dilakukan eksekusi sampai dengan dilakukan pembunuhan,” ungkap Calvijn.

Fakta kedua yang berhasil terungkap yakni tersangka Atik sempat memaksa meminta password handphone milik korban sebelum akhirnya tewas dan dimutilasi. Dari handphone milik korban tersebut lah kemudian kedua tersangka menguras habis harta milik korban. “Karena di HP korban tersebut ada beberapa catatan yang dimiliki, sehingga pelaku ini dengan leluasa mengambil harta korban,” katanya.

Fakta ketiga yang berhasil terungkap yakni diketahui bahwa tersangka Fajar belajar memutilasi secara autodidak. Pembelajaran tersebut dilakukannya dengan melihat di media sosial. “Karena pelaku ini kebingunan tidak bisa membawa korban keluar dari TKP, sehingga dilakukan mutilasi,” tutur Calvijn. Fakta kelima yang baru diketahui yakni jenazah korban disimpan di dalam kamar mandi apartemen selama tiga hari pada tanggal 9 hingga 11 September. Selanjutnya, tersangka Fajar memutilasi tubuh korban menjadi 11 bagian selama dua hari.

“Di tanggal 12 dan 13 dua hari, disitulah pelaku melakukan mutilasi-mutilasi,” ucap Calvijn.

Selanjutnya, fakta kelima yang terungkap yakni kedua tersangka memindahkan potongan tubuh korban dari Apartemen Pasar Baru Mansion ke Apartemen Kalibata City dalam dua kali pengiriman. Mereka menyimpan potongan tubuh korban yang telah termutilasi itu di dalam dua koper fan satu ransel. “Koper pertama adalah milik korban tetapi koper satunya lagi adalah dibeli pelaku untuk memasukan bagian jenazah yang tidak muat,” jelas Calvijn.

Fakta keenam diketahui bahwa kedua tersangka telah merencanakan mengubur potongan jenazah korban pada 17 September di sebuah kontrakan yang mereka sewa selama satu bulan di Permata Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Namun, kedua tersangka terlebih dahulu tertangkap oleh polisi pada 16 September. “Rangkaian ini begitu rapi dipersiapakan dengan matang dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan pembersihan lokasi dengan cara mencat kemudian mengganti seprainya kemudian berbagai macam yang ada,” pungkas Calvijn. (jawapos/suara)

Komentar

Berita Lainnya