oleh

Bekerja Pukul 06.00 Pulang Jam 17.30 WIB

Melihat Buruh Pengupas Kelapa di Desa Sumber Jaya

MEMBANTU suami mencari nafkah bagi warga Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumber Marga Telang, Kabupaten Banyuasin adalah biasa. Bagi ibu-ibu warga desa tersebut, bekerja setiap hari adalah kewajiban dalam membantu suami. Mereka bekerja sebagai buruh pengupas kulit kelapa di desanya.

DENDI ROMI – Banyuasin

Selama ini kebanyakan orang mendengar, mengupas kulit kelapa banyak dilakukan kaum laki-laki. Namun bagi ibu-ibu warga Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumber Marga Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumsel, menjadi buruh pengupas kulit kelapa adalah hal yang lumrah. Mereka melakoni pekerjaan itu sudah belasan tahun.

Tangan-tangan ibu warga Desa Sumber Jaya dengan lincahnya mengupas kulit kelapa yang dimulai dari pukul 06.00-17.30 WIB setiap harinya. Dalam sehari, kaum ibu tersebut bisa mengupas kulit kelapa sebanyak 1.000 buah.

Sugiarti, salah satu buruh pengupas kulit kelapa di Desa Sumber Jaya menuturkan bahwa dirinya bekerja sebagai buruh tidak lain karena membantu suami dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Suaminya sendiri bekerja sebagai buruh naik dan mengangkut kelapa milik tauke di desanya, Wayan Sudirma.

Sebagai buruh pengupas kulit kelapa, dirinya mendapat upah Rp110 per buah kelapa. Upah tersebut didapat dari suaminya yang bekerja sebagai buruh naik kelapa dan menurunkan serta mengangkutnya sampai ke tempat pengupasan.

“Jadi saya ini dapat upah Rp110 per buah dari suami yang mendapat upah Rp340 per buah kelapa yang dinaik dan diangkut sampai tempat pengupasan. Upah tersebut diterima dari tauke yang punya kebun kelapa atau pengepul. Pendapatan suami setelah dipotong upah saya hanya Rp230 per buah kelapa,” jelas Sugiarti kepada SUMEKS.CO, Jumat (11/10).

Dalam sehari, dirinya bisa mengupas 1.500 buah kelapa yang dimulai dari pukul 06.00-17.30 WIB. Lamanya jam kerja dan banyaknya kelapa yang berhasil dikupas setelah dipotong makan siang, istirahat, dan bekerja sambil ngobrol.

“Kalau tidak ngobrol, bisa lebih dari 1.500 buah sehari pak,” ujarnya.

Bekerja di musim kemarau, bagi buruh pengupas kulit kelapa, bisa maksimal. Karena kulit kelapa tidak licin saat dikupas. Di musim hujan, harus dikeringkan dulu kulit kelapa yang basah. Belum lagi saat hujan tidak bisa bekerja. “Mana ada pekerja yang mau bekerja sambil hujan-hujanan,” tukas Dewa Putu, salah satu tauke kelapa lainnya.

Sebutir kelapa yang dikupas menggunakan besi runcing, hanya butuh waktu sekitar 2 menit. Kelapa yang sudah dikupas dari semula berat, akan berkurang. Sebutir kelapa yang sudah dikupas, beratnya tidak sampai 1 kg. Beda jika kelapa itu besar. Beratnya setelah dikupas bisa mencapai 1 kg.

“Kita dibayar hanya berdasarkan butir kelapa yang sudah dikupas, bukan menghitung kilogram,” tukasnya.

Pekerjaan mengupas kulit kelapa juga dilakoni Tik, ibu rumah tangga yang bekerja di pengepul Wayan Sudirma. Hanya saja Tik dalam sehari hanya mampu mengupas 1.000 butir kelapa. “Sama pak, saya bekerja mulai dari pukul 06.00 sampai setengah enam sore,” pungkasnya.

Bagaimana dengan peran mengasuh anak dan ibu rumah tangga? Baik Sugiarti maupun Tik kompak menjawab bahwa anaknya yang masih kecil-kecil ikut mendampingi bekerja dan bermain di sekitar lokasi bekerja. “Kami bawa nasi dari rumah dan anak-anak main di sekitar kita,” tukasnya.

Baik Sugiarti maupun Tik menyatakan bahwa mereka bekerja sebagai buruh pengupas kelapa semata-mata karena membantu pendapatan suami. “Kalau pendapatan suami kami besar, kami tidak akan menjadi buruh,” tandasnya. (*)

Komentar

Berita Lainnya