oleh

Belajar Ngaji tak Harus di Rumah

Nurdin, Belajar Mengaji di sela-sela Mengayuh Becak

BELAJAR mengaji tidak harus dilakukan di rumah atau masjid. Di tengah kesehariannya sebagai penarik becak, Nurdin (55), warga Lr Asam, Kelurahan 27 Ilir, Palembang ini menyempatkan diri belajar mengaji menggunakan buku Iqro lama cetakan huruf Hijaiyah. Berikut penuturan Nurdin kepada wartawan SUMEKS.CO.

DENDI ROMI – Palembang

Suara orang belajar mengaji terdengar dari sebuah becak yang terparkir di depan pagar salah satu sekolah Islam di Jl Dr Wahidin, Jumat (15/11) pukul 17.00 WIB. Saat itu SUMEKS.CO sedang menunggu istri pulang bekerja. Karena penasaran, SUMEKS.CO mendekatkan parkir motor sembari mendengarkan suara orang yang belajar mengaji tersebut.

Karena asyiknya belajar mengaji menggunakan buku Iqro keluaran lama yang halamannya  sudah berwarna coklat, Nurdin tidak sadar jika apa yang dilakukannya sedang diperhatikan. Selama hampir 20 menit dia belajar mengenal huruf Hijaiyah.

Nurdin menuturkan bahwa dirinya sewaktu kecil memang pernah belajar mengaji. Tetapi karena belajar tidak tuntas, dia belum fasih membaca Alquran. Barulah dalam beberapa bulan ini, dia belajar mengaji dari guru ngaji di salah satu rumah di Jl Gersik, Sekip, Palembang.

Setiap Jumat pagi pukul 10.00 WIB, dia bersama sekitar 15 orang lainnya yang belum bisa mengaji, belajar membaca Alquran. Pengajian pun dilaksanakan selama hampir 1,5 jam. Usai belajar mengaji, Nurdin cs diberi uang saku sebesar Rp20 ribu dan nasi bungkus. Rata-rata yang menjadi “santri” tersebut adalah orang menengah ke bawah dan bekerja serabutan.

“Awalnyo kami belajar ngaji. Tapi sekarang banyak diisi dengan tausiyah. Pemilik rumah itu seorang dermawan yang anak-anaknya tinggal di Jakarta. Kabarnyo pemilik rumah nak pindah ke Jakarta, dan rumah tempat kami belajar ngaji nak diwakafkan,” tutur Nurdin.

Kendati menarik becak, Nurdin selalu membawa kain dan baju bersih untuk digunakan salat jika sudah waktunya. Setiap belajar mengaji di Jl Gersik, dia dan rekan-rekannya selalu melaksanakan Salat Jumat di Masjid Nurul Iman di kawasan Jl Gersik yang tidak jauh dari rumah dermawan tersebut.

“Lemak (enak) masjidnyo, bersih. Make AC, kipas angin. Kami mandi dulu sebelum Salat Jumat,” ujarnya.

Menarik becak saat ini, sudah kalah saingan dengan ojek, becak motor,  dan taksi online. Sebelum ada becak motor dan taksi online, bekerja sebagai penarik becak, pendapatan bisa di atas Rp50 ribu per hari. Penumpang akan banjir saat musim hujan. Mereka yang berteduh di pertokoan akan memanggil tukang becak untuk diantar ke angkutan umum terdekat.

“Sekarang dak lagi, penumpang berteduh sebentar di pertokoan, Go Car akan langsung menghampiri,” jelasnya.

Sejak banyaknya moda angkutan, penghasilannya sebagai penarik becak, tidak lebih dari Rp50 ribu per hari. Tidak jarang, mangkal hampir dua jam belum dapat penumpang. “Kalu dak dapet duit siang, malam aku narik lagi (becak),” tukasnya. (*)

 

 

Komentar

Berita Lainnya