oleh

“Beli Mahal Jual Murah”, Mengenal Fenomena Pompom Saham

Ditulis Oleh : Iqma Ocifomuro, Mahasiswa PKN STAN

SUMEKS.CO – Fenomena rekomendasi saham sudah menjadi hal yang lumrah. Kemudahan transaksi jual beli saham dengan hanya menggunakan aplikasi di smartphone membuat berbagai kalangan sering membagikan portofolio saham melalui akun media sosial mereka. Akhir-akhir ini kita sering mendengar pemberitaan mengenai Raffi Ahmad dan Ari Lasso yang merekomendasikan saham PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) melalui akun instagram mereka. Harga saham MCAS naik 8%  menjadi Rp4.550 satu hari setelah rekomendasi tersebut.

Menurut Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, fenomena yang terjadi belakangan ini berpotensi memenuhi unsur penipuan dan manipulasi pasar. Hal ini biasa dikenal dengan istilah pompom saham. Pompom saham berasal dari kata pump and dumb yang menurut investopedia adalah skema yang mencoba untuk mendongkrak harga saham melalui rekomendasi berdasarkan pernyataan yang salah, menyesatkan, atau sangat dibesar-besarkan. Praktik pompom saham akan membuat  demand naik secara signifikan sehingga harga saham akan melonjak naik. Pelaku skema ini sudah memiliki saham di harga yang rendah dan akan menjual saham tersebut ketika harga menjadi lebih tinggi.  Tujuannya adalah untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

Korban pompom saham masuk ke dalam pasar dan membeli di harga tinggi. Namun demand yang tinggi ini tidak berlangsung lama karena dana dari investor baru biasanya terbatas. Akibatnya harga menjadi turun. Korban pompom saham terpaksa menjual di harga rendah untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Bahkan beberapa ada yang mengalami saham nyangkut, yaitu posisi ketika tidak ada demand sama sekali sehingga saham tidak bisa dijual.

Korban pompom saham biasanya adalah investor pemula. Mereka mudah tergiur melihat portofolio saham yang menunjukkan nilai profit yang tinggi. Sebagian dari investor pemula ini menganggap investasi saham sebagai cara instan untuk mendapatkan uang dan menjadi kaya. Padahal untuk bisa menghasilkan profit ada proses panjang yang harus dilalui terlebih dahulu, termasuk mengalami kerugian.

Tragisnya para investor pemula ini tidak menggunakan idle cash atau uang nganggur untuk berinvestasi. Beberapa pihak malah melakukan pinjaman dengan menjaminkan Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) sebagai modal untuk berinvestasi. Bahkan ada yang menggunakan  Uang Kuliah Tunggal (UKT). Hal inilah yang menyebabkan mereka gigit jari ketika mengalami kerugian.

Di sisi lain fenomena ini menjadi indikator rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai dunia pasar modal. Mereka hanya mengikuti tren dan mengandalkan kepercayaan terhadap influencer yang diidolakan. Padahal investasi pertama yang harus dilakukan adalah investasi leher ke atas, yaitu ilmu. Para investor harus memahami risk profile masing-masing, mengerti risiko investasi saham, dan mempunyai kemampuan analisis fundamental maupun teknikal ketika akan terjun ke dunia pasar modal. Tanpa ilmu yang memadai, investor pemula ini hanya akan menjadi korban manipulasi pasar.

Praktik pompom saham adalah ilegal. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal tepatnya pada bab XI mengenai Penipuan, Manipulasi Pasar, dan Perdagangan Orang. Menurut bab XV pelakunya dapat diancam dengan pidana penjara dan denda.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal hadir sebagai landasan hukum untuk menjamin kepastian hukum bagi pihak-pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal serta melindungi kepentingan masyarakat pemodal dari praktik yang merugikan. Landasan hukum ini sangat penting mengingat pasar modal mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan nasional sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha dan wahana investasi bagi masyarakat.(*)

Komentar

Berita Lainnya