oleh

Benny Wicaksono, Seniman Media Baru yang Bikin Karya dari DNA Covid-19

Pandemi Covid-19 memengaruhi segala aspek kehidupan. Kebiasaan hidup baru dilakukan di segala lini. Sebagai seniman, Benny Wicaksono penasaran apa yang bisa dibuat di tengah pandemi ini. Lahirlah karya Rekombinan.

RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya

Garis-garis beragam warna berhubungan satu sama lain. Ada bunyi aneh. Semacam dengungan yang diiringi suara klik-klik. Mirip suara ketikan tombol ponsel zaman dulu. Jika didiamkan, garis-garis itu semakin tebal. Seakan susunan DNA yang bereplikasi terus-menerus.

Karya tersebut adalah Rekombinan. Seni media baru yang melibatkan visualisasi itu terinspirasi rangkaian DNA dan suara yang tidak biasa. Siapa pun bisa mengaksesnya lewat ponsel atau komputer di link sequencer.rf.gd. Garis warna-warni itu bukan tanpa penjelasan. Benny membuatnya dari data yang didapatkan dari NCBI (National Center for Biotechnology Information). ”Saya pikir pandemi sudah memengaruhi semua aspek. Lalu, seniman bisa bikin apa nih?” ucapnya.

Sejak Covid-19 menyerang beberapa negara, lalu lintas data di internet juga ramai membahas berbagai peristiwa terkait penyakit tersebut. Seperti kata penganut dataisme, alam semesta terdiri atas aliran data.

Jadi, data itu seharusnya bisa jadi karya!

”Dan ilmuwan juga memetakan terus protein DNA virus SARS-CoV-2 ini. Beberapa negara sudah mengunggah data virus mereka,” jelasnya.

Indonesia sendiri punya data DNA virus yang dikeluarkan ITD (Institute of Tropical Disesase) Unair bersama Eijkman Institute di Jakarta. Data tersebut disimpan di GISAID Initiative, lembaga bank data virus influenza dari seluruh dunia yang berlokasi di Jerman.

Tak bisa serta-merta Benny mendapatkan data tersebut. Benny harus mengajukan proposal dan menunggu beberapa waktu. ”Tapi, ternyata mereka hanya mau memberikan data ke organisasi kredibel terkait,” jelasnya.

Karya seni Rekombinan bisa dinikmati di ponsel maupun laptop selama 24 jam nonstop. (Avos Purwoaji for Jawa Pos)

Jadi, Benny hanya bisa mengakses data yang sudah diunggah secara publik di NCBI. Salah satunya adalah data dari virus yang berkembang di Wuhan, lokasi pandemi Covid-19 berawal. Benny memutuskan untuk menggunakan data virus dari Wuhan saja.

Data virus DNA terbentuk dari empat huruf yang berulang, yaitu A, C, G, dan T. Huruf-huruf itu tersusun acak. Jumlahnya? Hampir 30.000 huruf. Benny menggunakan sebuah program khusus untuk membaca pola acak tersebut. Tiap huruf pada kode DNA dikaitkan dengan program yang berbeda. Oleh karena itu, warnanya bisa jadi sangat beragam.

Tidak hanya mengubahnya jadi warna berbeda, Benny juga membuat garis-garis tersebut seperti bermutasi dengan jutaan kemungkinan. Sehingga saat layar ponsel atau komputer didiamkan, garisnya semakin lama semakin tebal. Tidak butuh dua detik untuk menunggu layar hitam berubah jadi penuh pola garis warna-warni.

Garis-garis yang terhubung juga membentuk sudut tertentu. Membuatnya terlihat geometris dan mirip dengan labirin yang terus bertambah. ”Itu terinspirasi dari hasil foto pertama DNA dulu. Waktu ilmuwan biologi molekuler berhasil memotret DNA pakai kamera,” jawabnya.

Saat itu, ilmuwan menggunakan bantuan kristalografi sinar X. Corak yang muncul akibat pantulan sinar X pada struktur dimensi molekul itulah yang kemudian dapat direkam oleh film atau foto. Berbentuk geometris dengan pilinan rangkap yang kelak dikenal sebagai untaian DNA atau lebih dikenal sebagai double helix.

Data virus yang dimiliki ”diinfeksikan’’ pada program yang sudah dibuat. Hasilnya, jutaan kemungkinan visual yang tak terbatas. Bergantung pada interaktivitas pengguna saat membuka laman tersebut. Meski hampir serupa, ternyata setiap orang bisa mendengar suara yang berbeda. ”Tergantung setiap perubahan interaktivitas yang dilakukan audiens, entah itu saat menggerakkan mouse atau menyentuh layar HP,” jelasnya. Program membaca pola yang berbeda dari setiap interaksi tersebut dan memainkan bunyi yang berbeda.

Karya yang hadir di tengah pandemi itu memang cukup berbeda. Saat muncul pandemi, banyak perubahan perilaku yang berusaha ditangkap dalam karya. Banyak karya seni yang lahir dengan embel-embel masker, jaga jarak, dan isolasi. ”Sempat ada sindiran yang disampaikan oleh pengkaji seni media baru Lev Manovich di Facebook soal itu. Dan beneran kejadian kan,” ujar Ayos Purwoaji, juru bicara Oknum Media Kolektif yang mendampingi Benny menghasilkan Rekombinan.

Tentu, apa yang dibuat Benny di tengah pandemi punya rasa yang berbeda. Meski sebagai seniman media baru, Benny dan Oknum Media Kolektif sudah biasa memainkan program komputer dalam menghasilkan karya. ”Benny merancang program dan menyiapkan platform saja. Selebihnya, proses mutasi artistik dikerjakan mesin dan algoritma,” jelas Ayos. Prototipe karya tersebut mulai didiskusikan Benny dengan Oknum Media Kolektif sejak pertengahan Juni lalu.

Rasa berbeda itu memberikan ruang bagi Rekombinan untuk ikut ke ajang biennale beberapa kota. Jakarta Biennale, Biennale Jogja, dan Makassar Biennale bergabung melakukan panggilan terbuka. ”Dan sekarang sudah masuk dengan 29 seniman digital lainnya,” jelas Benny.

Pria yang aktif berkarya selama dua dekade itu senang bisa tetap produktif di tengah pandemi. ”Karya ini jadi monumental. Di satu sisi, ilmuwan berpacu menemukan serum dan seniman juga berpacu memanfaatkan data virus untuk jadi karya,” ucapnya. Terlebih, karya tersebut lahir di Surabaya. Benny mengakui, Surabaya bukan kota dengan basis seni kontemporer sekuat Jogjakarta atau Bandung.

Benny memastikan karya tersebut bukan yang terakhir. Benny masih ingin menghasilkan karya dengan permainan data sekuen virus dari Indonesia sendiri. ”Gosipnya nanti diunggah oleh LIPI. Jadi, ditunggu saja,” ucapnya, kemudian tersenyum. Bentuknya seperti apa, penikmat seni harus sabar menunggu. (*/c6/git/jawapos.com)

 

 

Komentar

Berita Lainnya