oleh

Bentuk ITIK KECIL, Jangkau Wilayah Terpencil

SUMEKS.CO – Salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Sumsel, Aldiwan Haira Putra, ASN dari Kabupaten Empat Lawang, masuk lima besar ajang Anugerah ASN 2019 yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB). Ia tergabung dalam kategori The Future Leader dari dua kategori lain yang diselenggarakan, PNS Inspiratif dan Pejabat Pimpinan Tinggi (PPT) Pratama Teladan. Pesaingnya mencapai ribuan orang untuk memperebutkan titel juara. Sumatera Ekspres berbincang dengannya terkait keikutsertaannya di ajang ini. Seperti apa ?
——-
A Reiza Pahlevi – Jakarta
——
DUA pria menuju pintu keluar salah satu Gedung di Kementerian PAN-RB. Salah satu diantaranya adalah Diwan-panggilan akrab Aldiwan Haira Putra. “Peserta (Anugerah ASN) asal Sumsel ya mas?,” tanya koran ini kepada salah satu diantaranya. “Iya mas, saya,” jawab Diwan santai. Usai mengenalkan diri, koran ini menyampaikan maksud kedatangan ke Kementerian PAN-RB yang terletak di Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.

Raut wajahnya terlihat lega paska mengikuti ujian akhir atau tahap wawancara bersama empat peserta lain. Ia tinggal menunggu pengumuman 27 November nanti, siapa yang bakal meraih gelar tertinggi di kategori The Future Leader. “Perwakilan Sumatera tinggal satu dari semua kategori. Sebelumnya wakil Sumsel juga ada yang masuk 10 besar untuk kategori PPT Pratama Teladan, Sekda OKU, tapi tak masuk lima besar,” ujar lulusan IPDN XXIV tahun 2017 yang meraih cumlaude dan meraih Sapta Abdi Praja.

Karena menjadi satu-satunya perwakilan dari Sumatera dan Sumsel khususnya, ia pun optimis bisa jadi yang terbaik dalam ajang tersebut . Saat awal seleksi, peserta yang ikut ajang ini mencapai 1.051 ASN tersaring. Saat seleksi, ia masuk dalam dua kategori The Future Leader dan PNS Inspiratif. Barulah saat tahap II yang menjaring 10 peserta tiap kategori, ia masuk The Future Leader. Sebelum masuk lima besar, tim dari Kementerian PAN-RB melakukan survei lokasi ke Empat Lawang. Melihat apa yang ia kerjakan sehingga masuk dalam kompetisi ini.

“Tanggal 28 Oktober mereka ke Empat Lawang, memverifikasi apa yang kita kerjakan dengan menghadirkan jaringan internet di komplek perkantoran Pemda Empat Lawang. Yang sebelumnya tak ada jaringan internet, kini sudah baik dan lancar,” terang PNS dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Empat Lawang ini. Ia menyebut, dulunya lokasi perkantoran ini susah sinyal, termasuk di wilayah lain di Empat Lawang.

Hal tersebut ia usahakan melalui sistem kerjasama dengan STI (Sampoerna Telekomunikasi Indonesia) yang mulai berjalan per Januari 2019 di komplek perkantoran tersebut. “Awalnya saat kunjungan ke Palembang dan menemui pimpinan STI, menyampaikan maksud dan keinginan untuk pemasangan jaringan internet di Empat Lawang dan mereka setuju langsung survei ke lokasi,” kata suami dari Irda Mutiari Dinita yang baru dikaruniai satu anak usia sebulan, Ahmad Habibie Alditia.

Ia pun ditarget harus bisa memenuhi kuota 50 pemasangan jaringan internet di bulan pertama. “Dan tercapai,” tambahnya seraya mengatakan saat ini ia juga diberi kepercayaan sebagai distributor untuk Net1 (produk dari STI) di 10 kabupaten/kota di Sumsel seperti Muratara, Prabumulih, Mura, Lubuk Linggau, Lahat, Pagar Alam, Muara Enim, Pali dan lainnya. Lanjutnya, kerjasama dengan STI ini jauh lebih murah dan efisien 20 kali lipat dibandingkan penawaran kerjasama yang pernah ia coba ke salah satu perusahaan penyedia jaringan internet. Untuk membangun tower saja, katanya harus mengeluarkan biaya Rp40 juta, dan bulanannya Rp9,5 juta.

“Kalau dikalikan bisa sampai Rp4 miliar,” cetusnya. Dengan STI, pemasangnya cukup membayar biaya bulanan sesuai paket yang dipilih. Peralatan seperti router Wifi sudah disediakan dari STI. Ia menyebut, tak baiknya jaringan internet di wilayah Empat Lawang berimplikasi pada seluruh pekerjaan di pemerintahan yang berbasis online. Seperti pada bidang pekerjaan yang ia lakoni di bidang aset, dimana berkas yang masuk harus kelar dalam dua hari, namun karena terkendala jaringan yang buruk banyak komplain yang masuk karena kerja tak terselesaikan. Akibat buruknya jaringan ini, ketika akan melakukan komunikasi harus mencari lokasi sinyal yang baik.

Setelah itu, ia mendapat apresiasi berupa royalti dari STI yang kemudian dipakai untuk mengembangkan jaringan melalui program ITIK KECIL (Internet Gratis untuk Masyarakat Terpencil) di Desa Pancur Mas, Kecamatan Tebing Tinggi. “Dan yang kedua di Panti Asuhan Duafa, SMA Muhammadiyah dan SMP Muhammadiyah di Desa Talang Gunung, Tebing Tinggi,” kata pria kelahiran Kabupaten Kerinci, Jambi 5 April 1995 lalu ini. Ia menyebut, program ITIK KECIL yang dibuat ini tanpa sepengetahuan STI. Untuk masalah dana yang ia keluarkan meng-cover kebutuhan di dua desa tersebut. Ia ingin yang masuk dalam program yang dikerjakan ini bisa merasakan manfaat dari jaringan internet yang ada, sehingga bisa mendapat dan merasakan berbagai kemudahan.

“Satu tempat biayanya sekitar Rp2 jutaan, pembayarannya melalui royalti yang diberikan STI,” jelasnya tanpa mau menyebut berapa dana yang ia terima dari STI. Lanjutnya, upaya yang dilakukan ini sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Sebab, saat masuk IPDN lalu, ia mendapat beasiswa dari pemerintah. “Bisa dikatakan sebagai bentuk balas jasa, karena orientasi saya sebagai ASN adalah memberikan pelayanan bukan cari keuntungan. Jadi sistem kerjasama dengan STI ini menghadirkan layanan dengan kita memfasilitasi, baik dari segi keamaman, penggunaan dan maintenance,” bebernya.

Namun, diakuinya, hanya bisa meng-cover sebulan dalam penyediaan jaringan internet melalui program ITIK KECIL tersebut. Jika nantinya mereka yang ikut program ini merasakan manfaat dari masuknya jaringan internet yang baik ini, bisa secara mandiri meneruskan. Paket yang ditawarkan mulai dari 6GB sebulan dengan Rp30 ribu. Ia menyebut, jaringan internet di Empat Lawang masih perlu ditingkatkan, masih banyak blind spot dan jaringan masih rendah. “Jika program pemerintah melalui Palapa Ring yang diresmikan Presiden belum lama ini sudah masuk, kedepannya bisa bagus dan murah,” katanya. Ia menyebut program tersebut masih sebatas peresmian, infrastruktur masih belum terlaksana.

“Sekarang kebutuhan internet jadi yang utama, orang lebih memilih ketinggalan dompet daripada Hp. Makanya, nanti jika Palapa Ring masuk, bisa lebih baik,” jelasnya. Menurutnya, dengan masuknya internet ke semua daerah bisa mendukung program-program pemerintah. Seperti yang diupayakan Pemda Empat Lawang melalui aplikasi Siap Pol PP Desa. Dengan begitu, siapa saja bisa mengakses keadaan keamanan di Empat Lawang sehingga memgurangi kriminalitas yang masih tinggi di wilayah tersebut. Hal serupa lainnya terkait laporan sistem keuangan desa berbasis online, sehingga dengan adanya internet yang baik membuat waktu lebih cepat dan data akurat.

“Pak Bupati sudah support terkait hal ini dan beliau mengungkapkan akan membantu dengan penganggaran APBD. Masih pembahasan anggaran, nanti jika ada sistem e-goverment bisa jalan,” jelasnya. Ia pun berharap, pertengahan tahun nanti mayoritas wilayah di Empat Lawang sudah tercover internet. “Mudah-mudahan bisa 100 persen,” tukasnya.(*)

Komentar

Berita Lainnya