oleh

Berawal dari Hobi, Karyawan Swasta ini Jadi Juragan Murai Batu

Ternak burung berkicau Murai Batu kini menjadi peluang bisnis yang cukup menggiurkan. Dalam sebulan, seorang budidaya ternak burung murai batu bisa meraup untung mencapai puluhan juta rupiah. Hobi memelihara burung yang digemari oleh beberapa kalangan ternyata membuka peluang usaha penangkaran burung burung. Salah satu jenis burung yang populer dipelihara dan diperlombakan adalah burung murai batu, yang terkenal dengan kicauannya.

OZZY- Muara Enim

BERMULA dari hanya sekadar hobi memelihara burung bekicau, Yayan Suhendri SH (38), seorang karyawan swasta kini sukses mendulang rezeki dari beternak burung Murai Batu. Berawal dari sepasang Murai Batu yang dibelinya seharga Rp15 juta, kini ia berhasil mengembang biakkanya menjadi 50 ekor indukan, penangkaran yang ia lakukan di halaman belakang rumah yang terletak di Jl Reformasi 11 No 141 Pelitasari, Kelurahan Pasar I Muara Enim.

“Saya hobi pelihara burung Murai Batu, saya beli sepasang seharga Rp15 juta. Lalu saya coba mengembang biakkannya, Alhamdulilah ternyata berhasil,” kata Yayan kepada sumeks.co di sela-sela melihat perkembangan anakan Murai Baru, Ahad (16/6).

Yayan menuturkan, penangkaran yang ia beri nama Duta Murai Bird Farm kini dapat menghasilkan 10 sampai 15 ekor setiap bulannya. Hasilnya pun lumayan, untuk murai jantan umur 2 sampai 3 bulan dijual dengan harga Rp2 sampai Rp3 juta, sedangkan betina dihargai sebesar Rp1 juta per ekornya. Jika dirata-ratakan, dalam sebulan Yayan mampu meraup keuntungan lebih dari Rp10 hingga Rp15 juta.

“Alhamdulillah, sejak saya memulai usaha ini sekitar dua tahun lalu, akhirnya bisa mengembang biakkan Murai Batu, sehingga habitnya di luar sana tidak lagi terganggu, Murai kita memiliki ciri khas sendiri, yakni suaranya lebih keras sehingga banyak peminatnya,” ujarnya.

Penangkaran Murai Batu yang dipelajarinya secara otodidak atau hanya dengan manfaatkan sumber dari internet itupun kini kebanjiran orderan dari para penggemar keciaun merdu murai tersebut, bahkan bagi yang berminat harus antre hingga berbulan-bulan untuk bisa memilikinya.

“Kalau mau beli harus pesan dulu, sekarang saja sudah ada 20 antrian, karena memang masih terbatas,” ujarnya.

Pelanggannya pun tak hanya dari Muara Enim sekitarnya melainkan Lahat, Prabumulih, Pali, Pagaralam, Kikim dan Baturaja. Bahkan, Yayan sudah memiliki pelanggan asal Yogya dan Solo. “Murai Batu dibudidayakan ada Medan, Aceh, Nias, Jambi, dan Lampung,” jelasnya.

Dijelaskannya, kualitas anakan dapat dilihat dari kualitas indukan, terutama sang induk jantan. “Kalau induk jantannya pernah juara kontes burung berkicau, maka harga anakannya mahal,” tuturnya.

Kualitas anakan juga dapat dilihat dari postur tubuh. Kepala yang cepak, postur tubuh yang besar dan gagah, menjadi pertanda murai berkualitas prima. “Postur tubuh yang besar mencirikan sang anakan mampu bernapas panjang. Itu berarti kicauan pun bakal berdurasi panjang,” jelasnya.

Kini ia memiliki 50 pasang indukan untuk memproduksi anakan. Masing-masing pasangan induk itu menghuni kandang berdinding bata merah berukuran 1,5 m x 2 m. Di dalam kandang itu terdapat ranting pohon untuk bertengger. Yayan juga menempatkan wadah pakan di dinding depan kandang bagian dalam. Pada dinding depan kandang terdapat pintu kecil yang hanya cukup untuk memasukkan tangan saat memberi pakan.

Setiap pasang induk, kata dia, mampu memproduksi anakan sepanjang tahun. Seekor induk betina mampu bertelur hingga 8 kali atau lebih dalam setahun. Namun, Yayan menuturkan sang induk betina sebaiknya diistirahatkan setelah 3-4 kali produksi.

Tujuannya untuk menjaga kondisi fisik, kesehatan dan kesuburan induk betina. Jika induk betina terus-menerus dipacu untuk berproduksi, maka dapat menyebabkan induk mati mendadak atau anakannya menjadi banyak yang cacat dan hidupnya tak mampu bertahan lama. Dengan demikian pentingnya memisahkan induk dan jantan sementara.

Misalnya dengan memasukkan induk jantan ke dalam sangkar. Namun, letakkan sangkar itu dalam kandang ternak agar tidak susah lagi menjodohkannya. “Lama istirahat bervariasi antara dua hingga 4 minggu,” ujarnya.

Yayan menuturkan, telur menetas setelah dieram sekitar 15 hari. Ciri telur sudah menetas terdapat cangkang telur yang berserakan di lantai kandang. “Saat menetas induk biasanya membuang cangkang telur ke luar sarang,” tuturnya.

Ketika sudah menetas, sang induk memberi makanan anakan sendiri dengan pakan yang disediakan, berupa ulat atau kroto. Lanjutnya, saat berumur 7-10 hari setelah menetas baru bisa memanen anakan bersama sarangnya lalu disimpan di sangkar berbeda. Ketika itulah, Yayan dibantu sang istri mengambil alih tugas sang induk untuk memberi makan. “Tahap inilah masa yang paling riskan. Harus telaten merawatnya,” ujarnya.

Soalnya, kata Yayan, pada umur hitungan hari anakan mudah sekali merasa lapar. Bila merasa lapar anakan biasanya membuka mulut sambil terus-menerus bercericit. Itulah sebabnya sang istri membantu merawat anakan.

Sebagai sumber nutrisi, Yayan memberikan pakan jangkrik yang telah dipotong kepala dan kakinya pada pagi dan sore hari masing-masing 4 ekor. Ia juga memberi pakan tambahan lain seperti kroto atau ulat, tapi tidak setiap hari. “Pakan kroto atau ulat cuma tiga kali seminggu,” katanya.

Lanjutnya, sejak pemisahan anakan dari induk, ia juga mulai melakukan pengisian suara kicauan. “Isian suara itu seperti mengajari anak kecil. Jadi harus dilakukan sejak dini,” ujarnya.

Ada juga anakan jantan yang berkualitas ia besarkan hingga dewasa dan siap tampil dalam kontes. “Kalau sudah ikut kontes dan juara harga jual bisa lebih mahal,” kata Yayan sembari menyeruput kopi.

Prinsip dalam berternak burung berkicau, kata dia, indukan juara ibarat jaminan mutu keturunan yang dihasilkan. Oleh sebab itu, anakan yang dibesarkan hingga dewasa dan tampil juara kontes bias dijadikan indukan. “Anakan dari indukan premium (Juara kontes) pasti laris manis,” ujar Yayan tertawa lepas seraya membayangkan pundi-pundi rupiah masuk ke kantongnya.

Yayan menuturkan, tak ada kiat khusus untuk memasarkan murai hasil tangkarannya. “Hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut,” tambahnya. Kisah sukses Yayan menangkarkan murai batu bukan berarti tanpa kendala. “Kondisi cuaca menjadi kendala,” tuturnya.

Menurutnya, saat musim hujan kualitas telur jelek sehingga gagal menetas. Kondisi udara yang lembap juga membuat indukan enggan untuk kawin. Kendala lain adalah ancaman hama tikus. Yayan pernah kehilangan induk berharga Rp12 juta gara-gara digigit tikus. Oleh sebab itu ia membuat kandang dari dinding triplek dengan kontruksi rangka baja. “Kandang indukan harus diperhatikan untuk melindungi para indukan murai yang menjadi tumpuan pendapatan,” tutupnya.(*)

Komentar

Berita Lainnya