oleh

Bercocok Tanam di Atap Masjid, Ikhlas untuk Sosial Kemakmuran

Kepadatan penduduk telah melucuti ruang komunal dan lahan pertanian produktif di ibu kota. Di sisi lain, pandemi Covid-19 telah membuat perekenomian terpuruk.

Pandemi Covid-19 sejak setahun terakhir telah membuat banyak orang kehilangan mata pencaharian, termasuk Sofyan, yang bekerja di bidang jasa pembuatan paspor.

“Kan kerjaan itu bergerak di pariwisata, otomatis berdampak banget kalau pariwisata itu,” tutur Sofyan kepada BBC News Indonesia.

Sejumlah jemaah Masjid Jami Baitussalam yang berlokasi di Keagungan, Tamansari, Jakarta Barat, juga mengalami hal serupa.

Di awal pandemi, virus corona juga telah menghentikan operasional masjid – yang berdiri di sana sejak tahun 1960-an – membuatnya menjadi sepi tanpa pemasukan untuk biaya operasional.

Hingga akhirnya, salah seorang pengurus masjid mencetuskan ide memberdayakan jemaah yang kehilangan pekerjaan, dalam aktivitas bercocok tanam tanpa tanah – atau hidroponik – dengan memanfaatkan lahan seluas sekitar 200 m2 di atap masjid.

Ini sekaligus menandai dimulainya Masjid Baitussalam Farm (MB Farm). Sofyan menjadi ketua kelompok petani yang aktif di kebun hidroponik tersebut.

“Kita kan awalnya jemaah aktif di Masjid Baitussalam ini, akhirnya setiap ada kegiatan di masjid saya ikut berpartisipasi, ikut membantu.”

“Apalagi ini karena Covid-19, main hidroponik, otomatis saya langsung terjun main hidroponik ini,” ujar pria berusia 47 ini menuturkan awal mula dirinya beralih profesi menjadi petani hidroponik.

Sofyan, hidroponik, Masjid Baitussalam, Tamansari, Jakarta Barat
Pencetus ide pembuatan kebun hidroponik di atap Masjid Baitussalam adalah Dwi Sudaryono.

Pria yang menjabat sebagai Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Baitussalam ini menuturkan motivasinya mencetuskan gagasan tersebut.

“Sebenarnya ide awalnya memang selain untuk mencari kesibukan bagi para pengurus DKM dan jamaah, ada juga supaya ada sumbangsih ke masjid dan juga untuk petaninya sendiri,” jelas Dwi.

Sofyan, hidroponik, Masjid Baitussalam, Tamansari, Jakarta Barat

SUMBER GAMBAR,BBC NEWS INDONESIA/AYOMI AMINDONI

“Jadi banyak jamaah yang kena PHK, lagi kosong, bisa diberdayakan di atas. Keuntungan ini bisa menyumbang masjid, pengurus atau petaninya bisa mendapatkan hasil daripada tidak ada kegiatan, jadi ada income tambahan,” ujarnya kemudian.

Bercocok tanam dengan hidroponik dipilih karena menurutnya “sangat mudah dan tidak memerlukan lahan yang besar”. Di sisi lain, sayuran yang ditanam lebih cepat dipanen.

“Saya pikir sangat sederhana dan cepat panen, 20-25 hari sudah menghasilkan panen,” kata Dwi.

Saat ini, telah ada enam sistem hidroponik di atap masjid dengan total lebih dari 2.000 lubang yang dapat ditanami sayur caisim, pakcoy, kangkung dan selada.

MB Farm, hidroponik, Masjid Baitussalam, Tamansari, Jakarta Barat

SUMBER GAMBAR,BBC NEWS INDONESIA/AYOMI AMINDONI

Keterangan gambar,Saat ini, telah ada enam sistem hidroponik di atap masjid dengan total lebih dari 2.000 lubang yang dapat ditanami sayur caisim, pakcoy, kangkung dan selada.

Awalnya, para petani yang aktif di MB Farm tak memiliki pengetahuan sama sekali tentang hidroponik.

Ilmu tentang bercocok tanam hidroponik, kata Sofyan, didapatnya dari internet sambil langsung mempraktikannya di atap masjid.

“Ya pasti ada kegagalan lah, pas penyemaian itu kita kurang maksimal, pakai nutrisi atau pakai air,” katanya, menceritakan kegagalan yang ia alami pada awal MB Farm berdiri.

MB Farm, hidroponik, Masjid Baitussalam, Tamansari, Jakarta Barat

SUMBER GAMBAR,BBC NEWS INDONESIA/AYOMI AMINDONI

Kendati begitu, Sofyan mengatakan bahwa bercocok tanam dengan hidroponik sangat mudah. Akan tetapi, lokasi kebun hidroponik di atap masjid, menurutnya, menciptakan tantangan tersendiri.

“Sebenarnya sih gampang kalau main hidroponik. Mungkin tiap hari kita cek air, nutrisi. Mungkin kalau di atas sini kan terkendala cuaca, ada angin kenceng, hujan,” kata dia, seraya menambahkan bahwa sayuran organik dari kebun hidroponik biasanya bebas pestisida, higienis, dan aman bagi kesehatan.

Lebih lanjut Sofyan menambahkan, bibit sayuran disemai terlebih dulu selama empat hari.Setelah itu, tanaman dipindahkan ke sistem dan dipanen setelah 20 hari.

Komentar

Berita Lainnya