oleh

BKSDA Diminta Giring Harimau ke Habitatnya

PAGARALAM – Konflik manusia dengan harimau terjadi di perkebunan kopi, Bukit Tapak Tiga Dusun Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, kemarin. Peristiwa ini mendapat perhatian serius dari Walikota Pagaralam, Alpian Maskoni SH.

Kak Pian mengatakan, akan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Ini dilakukan untuk mencari solusi supaya konflik harimau dengan manusia tak terulang lagi. “Kita minta petugas BKSDA untuk menggiring kembali harimau itu ke habitatnya,” ujar Kak Pian, ketika dihubungi koran ini, kemarin.

Kak Pian percaya dengan kapasitas petugas BKSDA yang sudah berpengalaman dalam melakukan penanggulangan konflik satwa liar dengan manusia. Ia mencontohkan dalam kasus Pulau Panas, Tanjung Sakti, BKSDA bisa menggiring kembali harimau ke dalam habitatnya. “Mereka punya cara dan alat untuk melakukan konservasi,” tutur Alpian.

Kepada petani yang berkebun di dalam kawasan hutan lindung, Kak Pian mengimbau untuk sementara waktu untuk tidak melakukan aktivitas di sana. Ini untuk memudahkan petugas BKSDA untuk melakukan penggiringan harimau ke dalam habitatnya. “Besok (hari ini, red) melalui Camat, saya akan berkomunikasi dengan masyarakat Tebat Benawa,” ujarnya.

Alpian pun meyakinkan, bahwa konflik harimau beberapa hari ini tak berefek dengan dunia pariwisata Pagaralam. Ia bilang, wisatawan tetap datang ke Pagaralam. Hal ini kata Kak Pian lagi, karena lokasi  konflik harimau ada di kawasan Hutan Lindung (HL). “Beberapa waktu lalu ada komunitas mobil yang berkunjung ke Gunung Dempo dan aman-aman saja,” ucapnya.

Itulah sebabnya Kak Pian menambahkan, untuk kawasan Tugu Rimau dan Kampung IV ada perlakuan khusus. Sebab dua lokasi ini sudah masuk dalam kawasan HL. Karenanya khusus untuk dua lokasi ini dilarang untuk melakukan camping.

Hutlin Rumah Harimau

Sementara itu, Kasie Konservasi BKSDA Lahat Martialis Puspito mengatakan, telah menerjunkan petugasnya ke lokasi. Ini dilakukan untuk memastikan kebenaran bahwa yang menyerang petani Dusun Tebat Benawa itu adalah harimau. “Kami tidak mau grusah-grusuh,” ujar Ito-sapaan Martialis Puspito-ketika dihubungi terpisah.

Pengecekan lanjut Ito, juga bertujuan untuk mengetahui lokasi penyerangan harimau. Bila ternyata lokasi yang disebut sebagai kebun itu adalah HL, maka memungkinkan ada pertemuan antara manusia dengan harimau. Sebabnya HL adalah habitatnya harimau. “Harimau itu tidak akan menganggu kalau tidak diganggu duluan,” ujarnya memberikan analogi.

Lebih lanjut Ito menjelaskan, konflik harimau di Desa Pulau Panas Tanjung Sakti yang mengakibatkan jatuhnya korban, disebabkan karena ilegal logging dalam HL. Ini diketahui setelah tim BKSDA masuk ke dalam HL untuk menggiring harimau. “Kami menemukan puluhan batang kayu yang sudah ditebang di sana,” ucap Ito. Maka Ito pun meminta petani yang berkebun di Bukit Tapak Tiga jujur dengan petugas BKSDA.

Tapak Tiga Adalah HL

TERIAKAN minta tolong terdengar di tengah area perkebunan Bukit Tapak Tiga. Perdi (34) mengenali bahwa suara itu adalah Marta (22). Sekira pukul 09.30 WIB, kemarin (2/12), itu Perdi segera bergegas menuju sumber suara.  Ican, kakak Marta turut serta. Kebetulan jarak antara Perdi dan Ican dengan Marta hanya sekira 10 meteran.

Begitu sampai di tujuan, Perdi dan Ican tarkaget-kaget. Keduanya melihat Marta berada di atas pohon sengon setinggi kurang lebih lima meter. “Di bawah pohon itu ada harimau. Warnanya kuning loreng-loreng. Besar, seperti anak sapi,” ujar Perdi, menceritakan pengalamannya itu ketika ditemui koran ini di Dusun Tebat Benawa kemarin.

Rupanya Marta berteriak tolong lantaran ada harimau. Sepenurut cerita Perdi, sebelum naik ke atas pohon sengon, kaki Marta terlebih dahulu sempat dicengkram harimau. Ini membuat  kaki dan bahu bagian belakang Marta terluka. Beruntung, Marta berhasil lolos dari cengkraman  harimau dan lalu naik ke atas pohon sengon. “Nah, harimau itu terus menunggui Marta,” cerita Ican, ketika ditemui di RSD Besemah.

Kedatangan  Perdi dan Ican membuat perhatian harimau teralih. Sang raja hutan pun mengejar Perdi dan Ican. Dua orang ini pun lari tunggang-langgang dan masuk dalam pondok. “Ketika kami masuk dalam pondok, harimau itu balik lagi ke bawah pohon, tempat Marta,” ucapnya.

Entah siapa yang memulai. Ican, Perdi, dan Marta kompak mengeluarkan suara bersahut-sahutan. Keras-keras. Rupanya ini membuat harimau tak nyaman dan berlalu, meninggalkan perkebunan itu. Perdi dan Ican kembali lagi ke tempat Marta dan membawanya pulang ke Dusun Tebat Benawa. “Sempat kami bawa ke Poskeskel tapi dirujuk ke RS Besemah,” tutur Perdi.

Gunung Patah

Bukit Tapak Tiga berjarak kurang lebih 12 Km dari Dusun Tebat Benawa.  Sepenurut cerita warga Dusun Tebat Benawa, di bukit ini ada kebun kopi. Seperti Marta juga berkebun di sana misalnya. “Dia hendak meracun rumput,” ujar Perdi. Inilah sebabnya Marta membawa tanki berisi racun. Sayangnya, sebelum racun rumput disiramkan, harimau keburu datang dan menyergap.

Lonedi SHut, Kabid Rehabilitasi UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dempo, mengatakan, dilihat dari lokasinya, Bukit Tapak Tiga masuk dalam kawasan hutan lindung (HL) Gunung Patah. Karena itulah, wilayah ini terdapat harimau. “Yang jadi persoalan adalah, mengapa harimau sampai menyerang manusia,” ujar Lonedi, ketika ditemui di Dusun Tebat Benawa.

“Selama ini tidak pernah ada kasus seperti ini. Kalau sekedar jejak sering kami temukan, tapi tidak sampai menyerang,” ujar Anto Ketua RT 08 Dusun Tebat Benawa, ketika ditemui di tempat yang sama.

Lonedi menyatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lahat. Saat ini petugas BKSDA sedang meluncur ke Pagaralam untuk melakukan pengecekan. Kepada para petani Lodeni mengimbau supaya meningkatkan kewaspadaan.  Untuk sementara ini kata Lonedi, “Jangan dulu bepergian ke kebun,” ucap Lonedi, didampingi Budi Bakti. (Ald)

Komentar

Berita Lainnya