oleh

Blue Chlacedony, Termahal Rp500 Juta

-Unik-1 views

DEMAM batu akik boleh atau permata boleh saja hilang, tapi tidak dengan kolektornya. Pecinta batu akik masih tetap ada yang eksis dan menaruh menaruh harapan agar batu akik kembali booming. Apalagi mengingat di tangan para kolektor, harganya bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta.

Seperti batu blue chlacedony dari Baturaja, kualitas kontes bisa tembus Rp500 juta.

“Saat ini batu paling banyak dicari dan diburu para kolektor batu jenis blue chalcedony, seperti mizon, spritus, dan biru langit. Harga tertinggi batu jenis ini di kontes tembus bisa capai Rp500 juta,” ujar Ketua Panitia Kontes Permata Sriwijaya, Badaruddin Yusuf, dibincangi di sela-sela kontes di Unsilent Cafe, Sabtu (2/2) sore.

Bahkan, harganya bisa kian mahal jika makin sering memenangkan kontes. “Kalau untuk batu berkualitas, tapi bukan untuk kontes rata-rata oleh kolektor dihargai Rp5 juta per batu,” imbuhnya. Dikatakan, tingginya harga batu jenis blue chalcedony ini karena termasuk langka dan sulit didapat. Walaupun memang, beberapa penambang batu menemukan jenis blue chalcedony, kebanyakan bentuk dan kualitasnya tidak sempurna.

“Sangat sulit mendapatkan batu blue chalcedony dengan warna biru sempurna tanpa cacat,” cetusnya. Biasanya kalau sudah didapat tidak dijual lagi dan menjadi bahan koleksi. Apalagi mendapatkannya tidak mudah. Bedanya dengan bacan, walaupun mahal masih mudah didapatkan.

Selain disukai kolektor dari Nusantara, batu blue chalcedony ini juga banyak diminati pencinta batu dari mancanegara. Terkadang untuk mendapatkan batu dengan kualitas terbaik, mereka ini rela datang ke Baturaja melakukan perburuan dan membeli langsung dari masyarakat setempat. “Mereka ini rela merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan batu blue chalcedony asli Baturaja tersebut,” tegasnya.

Untuk kontes sendiri, pihaknya menargetkan seribu peserta ikut ambil bagian. Walau demikian saat ini yang terdaftar sudah ratusan orang. Selain dari 17 kabupaten/kota se-Sumsel, juga diikuti peserta dari Bengkulu, Lampung, Jambi, dan Pulau Jawa. “Walaupun saat ini sudah dikenal, harapan kami pamor batu akik dan permata bisa kembali naik seperti beberapa tahun lalu,” terangnya.

Indri, salah satu peserta kontes mengungkapkan, dirinya sengaja ikut kontes untuk melihat kualitas batu yang dimilikinya tersebut. Apalagi sekarang ini sudah sangat jarang digelar kontes seperti ini. Paling tidak, dirinya bisa belajar terkait batu akik dengan para kolektor lainnya. “Kalau targetnya sih menang. Sebab ini akan berpengaruh pada harga batu itu sendiri.

Yang penting, ini upaya kita terus melestarikan dan menjaga potensi yang ada khususnya terkait batu akik. Walaupun memang sulit untuk mengangkat pamor batu akik seperti dulu, setidaknya ini jadi ajang silaturahmi para pencinta batu akik. Syukur-syukur dari sini bisa kembali terangkat popularitasnya,” pungkasnya. (afi/fad/ce1)

Komentar

Berita Lainnya