oleh

Bodoh Bisa Diajari Jadi Pintar, Tapi Kalau Tidak Jujur Sulit Diubah

Orang Baik. Hampir semua orang akan berkata seperti itu ketika ditanya kesan mereka terhadap Bapak Suparno Wonokromo. “Beliau itu low profil. Mungkin kekayaan dan jabatan beliau melebihi kito…tapi setiap ketemu pasti bapak tu hormat nian samo kito. Cak kito ni lebih hebat dari dio, dan yang tak bisa dilupakan bapak itu selalu tersenyum,” ucap Pak Ahmad Zaironi Pimpinan Bidang Pemasaran Bisnis BNI Cabang Palembang ketika menelpon saya waktu beliau mendengar bapak Suparno meninggal dunia.

Sungguh saat itu hati saya merasa terhibur, dia bukan ayah saya tapi dia sudah hampir 24 tahun membina dan menempa saya menjadi seperti saat ini. Teringat ketika saya memperlihatkan kepada ayah saya, foto-foto perjalanan saya dengan rombongan direksi dan manager di grup Wahana Semesta Merdeka (WSM) yang menjadi holding Sumatera Ekspres.

Ayah saya almarhum sempat bertanya. “Ini bos Warni ya?” (Sambil menunjuk foto Bapak Suparno) tanya Ayah saya. Ia sempat terkesima. “Bapak ini santai dan dak bergaya bos dak War (panggilan Warni)?” lanjutnya. Dan semua orang pasti akan berkata seperti itu.

Jika saya ditanya kesan saya terhadap beliau? Rasanya saya belum percaya dia sudah tidak bersama kita lagi. Hampir 24 tahun jika di hitung persisnya 23 tahun 112 hari saya sudah mengenal beliau. Banyak hal yang sudah beliau ajarkan kepada saya. Tidak melalui buku atau tulisan yang hanya teori. Namun perilaku dan perbuatan nyata yang melekat di pikiran dan hati kita itulah pelajaran yang saya dapatkan.

Pelajaran yang utama adalah dedikasi kerja beliau yang sangat kental. Kalau istilah anak-anak sekarang all out. Apalagi pada saat Harian Sumatera Ekspres baru berkembang maju dan melesat bersama beliau, serta jujur yang juga menjadi dasar bagi beliau untuk menerima seorang karyawan.

Bodoh bisa diajari untuk jadi pintar tapi kalau tidak jujur itu sulit untuk diubah. Karena itu adalah sifat dari seseorang. Dan sifat merupakan karakter hampir sama seperti sifat malas, itu kata beliau dulu.

Tahun 1999- 2000 kita sudah bisa membangun Graha Pena. Dan  Graha Pena inilah adalah asli karya beliau. Dari mendesain dibantu oleh Ir Muchlis yang merupakan kenalan karyawan Sumatera Ekspres saat itu , yaitu Rahman (Sekarang salah satu deputi di Radar lampung) sampai dengan bahan-bahan yang diperlukan untuk gedung ini bapak yang cari dan membelinya sendiri. Saya hanya menemani bapak dalam bernegosiasi dengan orang-orang tersebut. Tapi sebenarnya saya diperlukan bapak hanya untuk menjadi saksi bahwa biaya yang dikeluarkan itu adalah benar karena saya adalah orang keuangan.

Saya bersama bapak ke Jakarta untuk membeli bahan dan bertemu distributor langsung untuk mendapatkan harga yang murah. Seingat saya, kami keliling sampai 2 hari di daerah Fatmawati untuk mendapatkan kaca yang mengelilingi kantor ini (Graha Pena Palembang).  Serta sebuah lampu kristal yang dulu sangat dia banggakan (selain besar dan asli serta harga yang lumayan murah) pada saat itu harganya Rp18 Juta pada tahun 1999. Namun menurut orang-orang harga lampu itu mencapai Rp30 Jutaan.

Itu salah satu kehebatan bapak saat itu yang diajarkan selama di pasar bangunan tersebut , yaitu cara tawar menawar harga barang. Pada saat itu saya lagi hamil anak kedua sekitar 6 sampai 7 bulan, sehingga kalau sudah sampai di suatu toko saya pasti mencari kursi untuk duduk dan bapak selalu mengalah untuk saya untuk duduk duluan.

Terkadang saya tak enak hati juga karena saya kan bawahannya. Bapak selalu bilang “kamu duluan duduk!’ saya tahu sebenarnya bapak juga ndak enak ajak saya keliling tersebut. Namun di situ saya merasa bahwa beliau mengajarkan kepada saya bahwa saya harus mengerti dan bertanggung jawab sebagai orang keuangan mengenai pengeluaran di perusahaan, apalagi ini merupakan pengeluaran terbesar perusahaan untuk pertama kali.

Untuk administrasi beliau sangat disiplin. Walau hanya karcis parkir sekalipun kalau tidak ada nota resminya maka tidak bisa di klaim apalagi yang nilainya besar. ‘Semua harus ada nota kalau ingin klaim ke kantor . Namun jika tidak ada maka harus di tangung sendiri,’’ kata beliau. Perilaku seperti itu saya terapkan ke semua karyawan dan jajaran manager dan direksi sekalipun.

Sampai-sampai saya dibilang terlalu saklek. Tapi sebenarnya itu adalah bentuk pertanggung jawaban kita terhadap biaya yang kita keluarkan. Dan disiplin diri untuk dapat membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan perusahaan. Bapak sangat membedakan itu.

Terkadang jika dalam satu perjalanan kantor sehingga dia harus mengajak keluarga maka biaya yang dikeluarkan untuk keluarganya digantinya padahal saya sudah bilang tidak usah diganti. “Jangan itu digunakan untuk keluarga saya tidak ada hubungan dengan perusahaan,” jelas Pak Suparno.

Beliau juga mengajarkan kepada saya bagaimana membuat suatu keputusan. Bapak juga pernah memarahi saya karena lalai dalam pengawasan di keuangan. Marahnya bapak kalau dilihat memang mengerikan namun saya paham karena saya memang melakukan kesalahan dan setelah beberapa lama dia akan memberikan alasan dan berdiskusi kembali mengenai mengatasi masalah tersebut.

Satu lagi beliau sangat menghormati bos-bosnya terutama Pak Dahlan Iskan. Saya dan teman-teman yang lain suka bilang dulu Pak Dahlan itu dewanya Pak Parno dan bapak biasanya senyum-senyum kalo kita ledek seperti itu.

Satu lagi yang saya sangat berkesan kepada bapak adalah bagaimana dia menghormati kedua orang tuanya terutama ibunya. Sepengetahuan saya bapak tidak pernah memarahi atau berbicara keras terhadap orang tuanya. Itu membuat saya berpikir apakah ini yang membawa berkah untuk bapak? Dan selama orang tuanya masih hidup bapak selalu pulang ke Jawa jika ada kesempatan terutama lebaran.

Satu lagi bapak paling tidak suka sikap nepotisme. Dulu ada salah satu keponakannya dari Solo yang mau kerja di kantor Sumeks Group kalau tidak salah anak itu dimasukkan bapak ke Koran Palembang Pos bagian Pemasaran. Namun hanya beberapa bulan bapak tidak enak hati makanya akhirnya keponakannya tersebut dikeluarkannya dari Palembang Pos, lalu menjadi supir pribadinya dan ia menggaji anak itu sendiri dengan gaji yang lebih besar dari yang ia dapat kalau tetap menjadi karyawan Sumeks Group.

Dan Bapak orangnya legowo tidak pendendam dan mau menerima masukan dari karyawan bahkan karyawan rendah sekalipun. Seperti supir atau cleaning service. Dia tidak pernah membedakan status orang. Bahkan dulu ketika dia masih sering ikut di lapangan mengurus koran dapat dikatakan tidak ada pengecer koran yang tidak mengenalnya, bapak tidak merokok tapi di mobil sedan merah dulu selalu ada rokok yang akan dia bagikan ke pengcer-pengecer lampu merah yang mengenalnya.

Semoga husnul khotimah. Sebagian kecil dari kenangan bersama bapak. Tapi sangat berharga bagi saya dan para karyawan.  (Hj Muwarni, Manager Keuangan Sumeks)

Komentar

Berita Lainnya