oleh

Bos Piawai, Punya Insting dan Jeli

Almarhum Bos Parno merupakan pemimpin yang jujur. Juga pekerja keras, tegas, sederhana dan memiliki integritas. Dan satu kelebihan beliau, jeli dan memiliki insting yang sangat baik untuk menilai anak buahnya.
—————-

Gambaran singkat sosok CEO Sumatera Ekspres Group (SEG) dan Dirut WSM, H Suparno Wonokromo, yang meninggal dunia 9 Desember 2020 lalu itu mengawali curhat (curahan hati, red) Bang Aca (H Ardiansyah SH), chairman Radar Lampung Group.

Pria bertubuh tinggi besar ini mengenal almarhum sekitar tahun 1994. Saat itu Bos Parno menjadi bos barunya yang sudah hampir enam bulan bekerja di Harian Semarak Bengkulu. Saat itu, manajemen Harian Semarak Bengkulu di bawah SPS. Dan Pak Tjuk Suwarsono sebagai pemimpin redaksi (pemred).

“Sejak manajemen beralih ke Jawa Pos Group, maka saat itulah saya mulai mengenal Bos Parno yang ditunjuk sebagai pemimpin baru,” kata Bang Aca, kemarin (12/12). Cukup 1996, Bos Parno sempat mengatakan kalau dia dan Muslimin (Dirut Sumatera Ekspres saat ini) akan jadi pemimpin media penerusnya. Waktu itu, mereka berdua masih menjadi reporter pemula. Tergolong junior dibandingkan dengan yang lain.

Tapi, almarhum sudah meyakini itu. “Ternyata apa yang dikatakannya itu terbukti. Saya akhirnya dipercaya memegang wilayah Lampung dan rekan saya Muslimin memegang wilayah Bengkulu dan Sumatera Selatan,” bebernya. Bang Aca juga banyak belajar tentang kegigihan dari seorang Bos Parno. Ketika mulai membangun Radar Lampung, almarhum memberikan arahan yang detail. Tidak hanya arahan tapi juga mempraktikkannya.
“Sebelum Radar Lampung terbit, kami mendatangi para agen koran di Lampung. Saat itu memang tidak banyak agen besar. Seingat saya hanya ada tiga agen besar. Parno ikut. Kegigihan beliau luar biasa,” imbuhnya,

Ada yang lucu saat mempresentasikan soal Radar Lampung ke seorang agen besar. Panjang kali lebar dijelaskan soal Radar Lampung, namun jawaban sang agen singkat sekali. “Mas, dek.. gini saja. Terbitkan dulu korannya, baru nanti ke sini lagi,” tutur Bang Aca mengingat saat itu.

Hal itu tak membuat Bos Parno menyerah. Almarhum seorang bos yang sangat lihai memotivasi anak buahnya. Caranya memotivasi tidak hanya dengan rangkaian kata. Tapi dengan perbuatan yang ia langsung contohkan.
Saat di Bengkulu, Bos Parno sering sekali tidur di kantor. Baru pulang ke rumah setelah subuh. Dan kembali lagi ke kantor pukul 9 pagi. Itu sangat sering beliau lakukan. Sehingga kebiasaan tidur di kantor akhirnya juga menular ke saya.

Tak Usah Bicara soal Materi
“Secara finansial Bos Parno pada saat awal menjadi pimpinan di Bengkulu sebenarnya masih relatif kekurangan. Sering saya lihat dia berjalan kaki dari rumahnya menuju kantor. Jaraknya cukup jauh sekitar 5 km,” beber Bang Aca.

Rumah almarhum saat itu pun sangat sederhana. Tidak ada perabotan apapun yang mewah di dalamnya.
Bahkan tidak ada kursi tamu. Di dalam kamarnya hanya memiliki sofa yang sudah butut. Rupanya itu sofa yang dibawa dari Jakarta tempat dia tinggal sebelumnya. Bang Aca bahkan mengungkapkan ada yang lebih mengejutkan dari perjuangan almarhum.

“Saya baru tahu lima tahun lalu dari cerita Pak Dahlan, bahwa Bos Parno tidak mendapatkan gaji sedikitpun saat dia ditugaskan di Bengkulu. Alasan almarhum pun membuat saya geleng-geleng kepala. Karena dia tidak mendapat pesan apapun dari Pak Dahlan sebagai bosnya untuk mendapatkan gaji di Bengkulu.”

Berarti selama di Bengkulu, Bos Parno hanya mengandalkan gajinya sebagi reporter Jawa Pos. Dan itu juga tidak seberapa. Sebab yang diberikan hanya dibuat gaji pokok. Praktis beliau tidak mendapatkan tunjangan berita karena memang sudah tidak lagi menulis berita untuk Jawa Pos.

Bos Parno juga orang yang jujur dan terbuka. Orang yang bicara dan bersikap apa adanya. Selaras antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Beliau sangat tidak suka pada orang yang bertele-tele. Apalagi orang yang dinilainya tidak sesuai antara perbuatan dan ucapan. Banyak sekali yang bisa dicontoh dari sosok almarhum.
Kejujuran, integritas, kerja keras dan optimistis. Namun sesekali ada gurauan atau mungkin nasihat yang keluar dari lubuk hatinya.

“Dek, silakan contoh semua apa yang ada pada diri saya. Tapi satu itu, kalau bisa jangan. Kalimat ini sering kali beliau lontarkan ke kami”. Kami pun pasti tertawa kalau mendengar wejangan ini. Karena kami mengerti apa yang beliau maksud ‘kalau bisa jangan ditiru itu’,” beber Bang Aca tersenyum mengenang kata-kata almarhum.
Secara pribadi, Bang Aca menilai kalau cara kepemimpinan Bos Parno biasa-biasa saja.

Tapi intinya adalah keteladanan. Pemimpin tidak hanya bisa memerintah, tapi juga melaksanakannya. Pemimpin tidak hanya bisa menasihati dan memotivasi, tapi juga mencontohkannya. Itu saja intinya.

Soal kesederhanaan, Bos Parno lebih tepat dikatakan hidup apa adanya. Tidak memaksakan diri. Dan nikmati apa yang ada. “Dulu saat kami susah, kami jalan-jalan sekadar piknik ke tempat wisata lokal pun jarang sekali. Namun setelah perusahaan kami maju, uang ada dan gaji kami sudah besar, kami malah dianjurkan sering sering ke luar negeri. Saya pun saking seringnya sampai sampai bosan pergi ke luar negeri. Ke Eropa saja, seingat saya sudah 4 kali melakukan tur. Itu semua dibiayai perusahaan,” bebernya.

Semua apa yang pernah dialami bersama Bos Parno meninggalkan kesan yang indah. Almahum sangat piawai memainkan peran. Beliau bisa berperan sebagai bapak, pemimpin, kakak bahkan sebagai kawan yang sangat istimewa.

Sayangnya, Bang Aca mengaku sudah lama sekali tidak berjumpa langsung dengan Pak Parno karena kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Saat beliau sakit, ingin sekali Bang Aca jenguk beliau. “Tapi selalu saya tunda sampai situasi pandemi ini membaik. Saya khawatir saya malah menularkan penyakit ke beliau. Saat beliau ‘meninggalkan’ saya, ingin sekali ke Ngawi, melihatnya untuk yang terakhir kali. Namun saya dilarang oleh istri karena memang saat lagi menjalani isolasi mandiri. Kondisi badan saya yang lagi kurang baik. Hanya doa yang bisa dipanjatkan untuk beliau. Selamat jalan Bos Parno.”

Kehilangan yang mendalam juga dirasakan H Dulmukti Djaja, mantan fotografer Sumatera Ekspres. Dengan jarak yang memisahkan, karena almarhum Pak Parno dikebumikan di Ngawi, Jawa Timur, Kakek Dul, begitu beliau disapa, hanya bisa mendoakan dari jauh. “Kami sekeluarga turut berduka cita atas wafatnya Pak Parno. Semoga almarhum husnul khotimah dan mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah swt,” katanya.

Meski secara usia kakek lebih tua, namun dia tetap menganggap almarhum sosok guru yang penuh teladan, jadi panutan. Sosok pemimpin yang baik, pandai bergaul kepada semua kalangan, termasuk para bawahannya sekaligus mengayomi.

Di mata rekan bisnisnya, almarhum Bos Parno juga dikenal sangat baik. Salah seorang sahabat Pak Parno di Palembang adalah Alex Suherman. Dia merupakan pengusaha yang memiliki beberapa hotel serta tempat kebugaran. Selama mengenal Pak Parno. Alex menyebut almarhum sosok yang supel .

“Yang saya lihat dari Pak Parno itu orangnya sangat supel dan cepat bergaul dengan siapa saja,” katanya. Alex bercerita, dia mengenal Pak Parno karena sering memasang iklan di Sumatera Ekspres. Dalam beberapa momen. Tak jarang Alex ngobrol dengan almarhum.

Mereka selalu menyempatkan untuk berbincang. Bahkan, saling sharing mengenai segala hal. Yang Alex ingat, terakhir kali bertemu Pak Parno pada awal 2020 lalu. Dia sempat berbincang untuk jalan-jalan bersama ke Tiongkok. Namun, itu belum terwujud. Rencana tertunda karena Covid-19 menyebar. “Belum sempat berangkat tapi pandemi sudah menyebar,” katanya.

Dalam beberapa bulan lalu, Alex juga mengetahui kabar Pak Parno sakit. Namun, akhirnya dia mendengar kabar almarhum sudah pergi. Hal ini membuatnya merasa kehilangan. Sebab, Pak Parno sudah menjadi sosok teman yang baik, sederhana, dan ramah. “Kehilangan itu pasti, ya kami hanya bisa berdoa semoga amal beliau diterima tuhan YME,” ujarnya.

Sahabat Pak Parno lainnya adalah Ko Afen. Dia merupakan owner Afen Image Foto Studio. Sama seperti Alex. Ko Afen juga sangat kehilangan sosok Pak Parno. Dia menganggap, almarhum merupakan sosok yang sangat bersahabat dan ramah. “Beliau itu lincah dan luwes dalam bergaul utamanya dengan mitra,” katanya.

Ko Afen memiliki kenangan tersendiri dengan Pak Parno. Beberapa tahun silam, Afen Foto Studio ikut berpartisipasi dalam suatu event. Acara itu dihadiri Gubernur dan seluruh Bupati dan Walikota se-Sumsel. Berkat bantuan almarhum, acara berjalan dengan baik. “Itu berkat support penuh dari almarhum sehingga acara tersebut sukses,” kenang Ko Afen.

Ko Afen mengaku pertama kali mendengar kabar duka kepergian almarhum menghadap yang Maha Kuasa ini dari putranya, Mulyadi Efendi. “Atas nama Afen Image Foto Studio beserta karyawan/wati saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Dan kepada keluarga yang ditinggal agar diberikan ketabahan,” pungkasnya.(*/kms/cj15)

Komentar

Berita Lainnya