oleh

BSI dan Ketahanan Ekonomi

Kehadiran Bank Syariah Indonesia (BSI) membawa harapan baru bagi penguatan ekonomi melalui perbaikan perilaku ekonomi. BSI hadir dengan indikasi positif sebagai generator untuk menormalkan kembali perilaku ekonomi masyarakat yang telah lama berada di kubangan egoisme, spekulatif, dan predator ke arah ekonomi berkeadilan, berbasis riil dan bersinergi.

Tulisan berikut membentangkan sisi lain kehadiran BSI dari aspek tantangan pembentukan dan penguatan perilaku ekonomi berkeadilan, tidak spekulatif dan kebersamaan. Diharapkan perilaku ini akan menjadi power untuk ketahanan, efisiensi dan growth ekonomi yang lebih besar.

Bersaing dan Memangsa (Predator)
Jamak dipahami dan tidak menjadi rahasia lagi bahwa persaingan antar-pelaku lembaga keuangan syariah (LKS) cukup kompetitif dan berlapis. LKS selain menghadapi competitor lembaga keuangan konvensional juga berkompetisi dan bersaing antar-sesama LKS.

Di level akar ruput, LKS juga bersaing dengan “bankgelap” pengejar rente yang banyak beroperasi tanpa birokrasi panjang dan rumit dengan syarat yang longgar untuk mendapatkan dana likuid.

Semua lembaga keuangan “mengeroyok” segmen pasar yang terkonsentrasi dan dominan pada segmen perdagangan, industri, pertanian dan PNS. Khusus bagi LKS, persaingan yang ketat dan berlapis ini cenderung mendorong untuk mengabaikan aspek kepatuhan syariah dan menciptakan saling memangsa nasabah.

Komentar

Berita Lainnya