oleh

Covid-19, Seleksi Alam, dan Pentingnya Alat Pelindung Diri

PEMERINTAH memutuskan agar masyarakat harus bisa berkompromi, hidup berdampingan dan berdamai, dengan Covid-19 agar tetap produktif. Suatu keputusan pasti mengandung suatu risiko. Pengambilan keputusan agar masyarakat bisa beraktivitas kembali (terutama usia di bawah 45 tahun) akan berdampak besar pada sisi kesehatan. Akankah pemerintah menerapkan herd immunity?

Herd immunity atau kekebalan kelompok adalah suatu bentuk imunitas terhadap suatu penyakit menular yang dapat terjadi jika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap suatu penyakit infeksi menular, baik karena dilakukan vaksinasi maupun setelah sembuh dari infeksi alamiah sebelumnya. Makin besar proporsi individu yang mempunyai imunitas, makin kecil peluang individu yang tidak kebal untuk tertular sehingga individu tersebut akan terlindungi. Bila cakupan vaksinasi pada ambang tertentu telah tercapai (umumnya 70 persen), imunitas kelompok secara bertahap akan dapat menghilangkan penyakit infeksi menular dari suatu populasi. Bila keadaan itu meliputi seluruh dunia, tidak akan terjadi lagi penularan yang disebut sebagai keadaan eradikasi.

Hingga saat ini Indonesia menempati angka kematian tertinggi di Asia, yaitu mencapai 8–9 persen dari seluruh kasus Covid-19 yang telah tercatat. Sementara itu, kalau kita menengok ke negara tetangga seperti Singapura, angka kematiannya hanya 0,1 persen, Malaysia 1,7 persen, Jepang 2 persen, Korea Selatan 3 persen, dan Filipina 6,5 persen.

Hampir seluruh negara melaporkan, risiko kematian tertinggi karena faktor usia dan adanya penyakit-penyakit tertentu yang telah diderita sebelumnya. Untuk populasi di Indonesia, di samping faktor-faktor yang telah disebutkan tadi, adalah karena faktor merokok. Menurut data WHO pada 2015, sekitar 75 persen laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok yang merupakan tertinggi di dunia dan berakibat pada terganggunya fungsi paru. Seperti yang sudah sering kita dengar, pada Covid-19 ini, organ yang paling banyak terdampak adalah paru meski organ lain secara sistemik juga terlibat.

Data dari hampir semua negara sepakat bahwa tingkat fatalitas dan kematian yang tinggi akibat Covid-19 justru disebabkan sudah mempunyai masalah penyakit yang mendasari sebelumnya. Misalnya usia (di atas 60 tahun), obesitas alias kegemukan, kencing manis, hipertensi, jantung, asma, kanker, dan penyakit kronis lainnya. Hal yang melegakan adalah 80 persen dari orang dengan Covid-19 tidak bergejala atau menampilkan gejala yang ringan layaknya flu. Sedangkan yang 15 persen termasuk kategori berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit, sementara yang 5 persen akan menjadi kritis dan memerlukan perawatan di ruang intensif. Mereka itulah yang sebagian besar akan meninggal. Inikah bentuk seleksi alam yang dipicu Covid-19?

Immunity Passport

Ada kebijakan dari suatu kementerian yang mungkin mengundang polemik. Yaitu pengecualian bagi para pekerja untuk melakukan perjalanan dinas dengan menunjukkan surat tugas, surat bebas korona, serta keterangan lainnya yang relevan. Surat keterangan sehat itu akan sangat rawan disalahgunakan.

Bergantung metode yang digunakan, rapid test ini kurang memenuhi unsur keakuratan. Artinya, banyak terjadi false negatif. Hasil tes yang false negatif bisa berarti yang bersangkutan sedang terinfeksi, tapi hasil tes menunjukkan negatif. Kondisi itu malah meningkatkan risiko penularan karena yang bersangkutan merasa sehat dan bebas dari Covid-19. Surat bebas Covid-19 semacam itu bisa menjadi salah mengategorikan seseorang yang semestinya positif terinfeksi Covid19, menjadi tidak terinfeksi. WHO menyebutnya sebagai immunity passports atau risk free certificate.

Kalau memang hendak memberikan kelonggaran bagi pekerja di bawah 45 tahun untuk beraktivitas lagi, perlu diwaspadai, mereka yang berada dalam usia itu secara keseluruhan belum tentu sehat. Sebab, di antara mereka ada yang perokok dan mempunyai beberapa penyakit kronis. Yang sehat pun harus paham bahwa aktivitas di tempat kerja berisiko tertular Covid-19 meski sudah menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Mereka harus tetap menyadari, jika tertular, risiko penularan seisi rumah, akan makin menyulitkan keadaan.

Bagi tenaga kesehatan, sangat mungkin mereka akan kian terbebani bila kasus Covid-19 ini tidak kunjung mereda. Saat ini IDI mengimbau anggota yang berusia di atas 60 tahun sebaiknya tidak melakukan praktik, mengurangi jam praktik, dan mengurangi waktu kontak dengan pasien. Operasi yang bersifat terencana sebaiknya ditunda. Demikian juga dokter-dokter yang dalam praktiknya melakukan prosedur memeriksa mulut (misalnya dokter gigi atau spesialis THT), untuk sementara ini banyak yang tidak melakukan praktik –atau kalau tetap menjalankan praktik, harus menggunakan APD.

Seharusnya keberadaan APD yang sesuai harus dijamin terus oleh pemerintah serta tes PCR melalui swab tenggorok untuk memastikan diagnosis lebih mudah diakses di mana pun fasilitas dan tenaga kesehatan itu berada. Bila sulit terpenuhi, bisa diprediksi akan kian banyak tenaga kesehatan yang menjadi korban Covid-19.

Di sisi lain, sangat mungkin angka kematian penyakit-penyakit selain Covid-19 akan kian meningkat. Sebab, selain ada kekhawatiran takut tertular Covid-19, pasien bila datang berobat ke rumah sakit bakal mendapat perhatian yang kurang dari tenaga medis yang selama ini lebih fokus menangani Covid-19. Apa pun kebijakan yang diambil pemerintah, semoga merupakan suatu pilihan terbaik bagi semua pihak. (jawapos)


*) Ari Baskoro, Spesialis penyakit dalam, konsultan penyakit alergi dan imunologi klinis, staf Divisi Alergi-Imunologi Klinik pada Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK Unair dan RSUD dr Soetomo Surabaya

Komentar

Berita Lainnya