oleh

COVID-19 tak Teratasi, Epidemolog ini Geram

SUMEKS.CO, PALEMBANG – Ahli Epidemologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Dr Iche Andriany Liberty berang atas tindakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) yang lamban atau cenderung tidak serius untuk memutus mata rantai persebaran Corona Virus Disease (COVID-19) di Bumi Sriwijaya.

Menurutnya seharusnya COVID-19 dapat signifikan teratasi selama masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro pada 6-19 April kemarin. Rabu (21/4), di Fakultas Kedokteran Unsri, Kampus Madang, Palembang.

Bila merujuk dari hasil evaluasi PPKM skala mikro yang berlaku 6 April – 19 April kemarin. Iche menjabarkan, ada lima indikator yang menyebabkan PPKM berbasis mikro tidak efektif di Sumsel. Sekaligus menandakan kurang sekali inisiasi dari pemerintah.

Kasus kematian Sumsel 4,80 persen sementara nasional 2,7 persen padahal pada tanggal 4 April 2021 hanya 4,75 persen. Indikator lainnya Positivity rate atau kasus positif pada 4 April 2021 sebesar 28,61 persen dan meningkat hingga 29,49 persen per 19 April 2021.

Kasus sembuh di Sumsel 89,19 persen masih di bawah nasional 90,8 persen. Bahkan kapasitas tempat tidur perawatan (BOR) terpakai 51 persen pada 19 April 2021 dan pada 4 April hanya 30 persen.

“Walaupun memang kasus aktif kita lebih rendah dari nasional terpaut beberapa persen di bawah nasional 6,5 persen,” cetusnya.

Iche menilai konsep PPKM berbasis mikro sudah sangat baik. Hanya saja sebetulnya, pemerintah belum optimal melakukan 3T (Testing, Tracking, Treatment) sehingga mengalami kesulitan untuk menekan kasus ini. Maka, Ia betul-betul berharap seluruh kabupaten-kota untuk mengoptimalkan 3T. “Kalau bisa sesuai dengan target WHO, testing 1/1.000 penduduk perminggu, kan segala sesuatunya sudah diatur termasuk anggaranya juga ada,” beber Iche.

Sekaligus menyarankan PPKM mikro di Sumsel diperpanjang. Agar kedepan mampu lebih menekan kasus persebaran lebih fragmatis.

Dia menjabarkan, bila menggunakan rumus dari WHO tersebut pemerintah melakukan testing rata-rata perhari, 8.579.23 total penduduk dibagi 1.000. maka keluar hasilnya, seharunya satu minggu ada 8.500 orang yang dites. Ia menyarankan Pemerintah dalam hal ini Dinkes Sumsel dan stageholder terakit mesti mengejar suspek, ketika ada satu kasus ditracing habis-habisan ditangani.

“Kita selalu menuntut masyarakat patuhi protokol kesehatan, larang mudik tapi pemerintah untuk penguatan 3T mana bentuknya. Mana mungkin mengandalkan laporan warga saja. pasif itu Namanya seharusnya survailence aktif. Kalau saya ditanya sudah sebel, Sudah dong nuntut masyarakat buktikan pemerintah ini tiga impementasi 3T nya mana,” tandasnya (bim)

Komentar

Berita Lainnya