oleh

Curah Hujan Tinggi, Petani Cabai Panen Lebih Dini

PAGARALAM – Itensitas curah hujan yang tinggi, terjadi akhir-akhir ini, membuat sejumlah petani cabai meradang. Pasalnya, kebanyakan cabai yang dipetik, mengalami pembusukan karena hujan.

Salahsatunya, dialami Soraya (42), petani cabai warga Dusun Tegur Wangi Lama. Banyak cabai yang keburu membusuk, biasa disebut dengan serangan antrax. Karena dipengaruhi curah hujan cukup tinggi. Yang terjadi di wilayah Kota Pagaralam.

Sate muter la kene, bagian buah cabai sudah mulai busuk. Kalau tidak di ambil penyakit ini, akan menyebar menggerogoti buah dan batang cabai lainnya. Makanya, sebelum cabai busuk kita petik panen lebih dini,” ujarnya.

Dalam sehari petik cabai membusuk ini, kata Soraya, bisa sampai 2 – 4 ember cabai membusuk. “Mau dijual juga tidak bisa lagi. Terlebih harga jual cabai pun ikutan anjlok. Sekarang hanya bermain dikisaran Rp10 ribu per kilogram. Biasanya, harga jual cabai merah itu, berada di kisaran Rp25 ribu – Rp30 ribu per kilogram,” ungkap Soraya.

Mengatasi permasalahan ini agar tidak terulang lagi, sambung Soraya. Pihaknya sangat berharap ada semacam penyuluhan dan pemberian bantuan racun. Sehingga penyakit antrax menyerang cabai bisa diatasi. “Kita masih bingung mengatasi penyakit antrax ini. Jadi harapan adanya penyuluhan dan bantuan racun, itu yang tengah kami butuhkan,” harapnya.

Terpisah, Tono (45) salahsatu petani cabe memiliki areal tanam 7.000 meter per segi di kawasan perbatasan Pagaralam ini. Juga mengaku tidak hanya harganya yang anjlok. Namun buntung dialami lantaran areal tanaman cabenya diserang penyakit antrax dan kuning daun.

“Sejak angkitan ke empat (panen, red) tanaman cabenya sudah mulai diserang Antrax. Buah cabe banyak yang mutung (kering, red), belum lagi daunya banyak yang kuning,” timpalnya. Saat ditemui Pagaralam Pos di areal kebunnya di Dusun Guruh Agung.

Kondisi tanaman cabe lokal miliknya saat ini kondisinya bisa dikatakan kurang perawatan. Sebab selain ditengarai harga sudah anjlok Rp10 ribuan, memang buahnya banyak kering. “Awalnya sudah kita semprot dengan fungisida. Bahkan serangan penyakit ini agar tidak menyebar ke tanaman lain terpaksa banyak yang kita cabut,” katanya lagi saat ini hasil panen cabenya tidak seperti yang diharapkan. (ald) 

Komentar

Berita Lainnya