oleh

Deklarasi Asosiai Dokumentaris Nusantara Korda Palembang

PALEMBANG-Untuk membuat Film documenter di Indonesia bisa dikatakan jarang dilirik oleh rumah rumah produksi besar, karena mungkin film documenter dianggap sangat non komersial.

Karena itulah banyak pegiat film documenter yang merasa termarjinalkan.
Yang kemudian akhirnya bergerak sendiri sendiri atas nama personal. Bekerja sendiri, berkarya meraih eksistensinya masing masing.Begitupun kondisi pegiat documenter di kota Palembang.Meskipun ada pelakunya, namun Bisa dihitung dengan 10 jari.

Untuk menyatukan para pegiat film documenter Palembang ini, maka kami para pegiat film documenter sepakat untuk membentuk wadah tempat berkumpul dan berdiskusi sekaligus berkarya, dengan mana Sriwijaya Dokumentaris (SRIDOC) di Grapari Telkomsel Workspace, jalan Perintis Kemerdekaan Palembang, Senin (11/11).

Tujuannya jelas, agar menjadi wadah diskusi, saling bertukar pengalaman dan workshop dalam pembuatan film documenter agar pegiat film documenter Palembang bisa berkarya lebih baik dan lebih bagus lagi ke depannya, sehingga mampu bersaing dalam ajang berbagai festival baik local maupun mancanegara.

Kemudian, agar para dokumenteris Palembang bisa menghidupi, mengembangkan SDM, menyeratakan kompetensi dasar bagi anggota, hingga mendorong anggota untuk mendapatkan sertifikasi profesi sebagai legitimasi profesionalisme, dan Tidak menutup kemungkinan juga dokumenteris dapat belajar manajemen, investasi dan lainnya.
Komunitas anak mudah yang bergabung membentuk Sriwijayao Dmenyatakan dalam Asosiasi Dokumenteris Nusantara yang berpusat di Jakarta. Dan secara otomatis, Sriwijaya Dokumenteris adalah pengurus Asosiasi Dokumenteris Nusantara Koordinator Daerah Palembang. Dengan susunan kepengurusan adalah:
Ketua: Ari Ibnuhajar
Wakil Ketua: Ari
Sekretaris: M. Rajab
Bendahara: Chrismadi Rahmawan
Dan Asosiasi Dokumenteris Nusantara Korda Palembang bukan sebuah asosiasi ekslusif. Bagi yang berminat untuk bergabung, pintu kami selalu terbuka.

Bergabung dengan Asosiasi DOkumenteris Nusantara menjadi sangat penting bagi para dokumenteris karena ini menjadi sebuah wadah bersama para pembuat film dokumenter Indonesia yang resmi dan memenuhi aspek legal. Tujuannya adalah agar dokumenter dapat lebih dikenal, menjadi ruang diskusi dan dapat bergerak secara leluasa serta dapat berjejaring dengan teman teman dokumenteris se Indonesia.

Sebagai wadah bersama, Asosiasi Dokumenteris Nusantara juga akan menjadi media advokasi bagi para anggotanya agar dapat nyaman bekerja dan menghasilkan karya dokumenter Indonesia tanpa dipenuhi rasa keraguan karena tidak adanya wadah yang melindungi profesinya.
Sebab selama ini dokumenteris Indonesia sering berada pada posisi sulit ketika berkarya secara mandiri tanpa latar belakang lembaga yang menaungi seperti kegiatan kerja seorang jurnalis yang dilindungi oleh undang-undang maupun latar belakang media yang menaunginya. Dalam produksi film dokumenter pun perkembangan di daerah sangat pesat sehingga diperlukannya sebuah perlindungan hukum dan undang-undang.

Menurut Ari Ibnuhajar sebagai ketua terpilih Sriwijaya Dokumentaris, di tubuh Asosiasi Dokumenteris Nusantara sudah ada 5 orang asesor film yang siap mensosialisasikan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang Film Dokumenter Indonesia, melakukan workshop persiapan sertifikasi profesi dokumenteris Indonesia hingga melakukan proses asesmen untuk memberikan sertifikasi profesi bagi para dokumenteris Indonesia.
SKKNI bidang Film Dokumenter:
1. Dokumenteris, berada di level 7 (pada KKNI), dimana pembuat film dokumenter dapat bekerja sendiri , mulai dari tahapan riset, produksi, pasca produksi hingga distribusi.
Dokumenteris berlaku sebagai sutradara film dokumenter , memiliki kompetensi dasar : Memahami manajemen produksi film dokumenter, memahami tata fotografi, tata suara, hingga memahami pola editing film dokumenter. Dokumenteris harus menguasai semua kompetensi yang ada dalam okupasi bidang film dokumenter yaitu : Produser film dokumenter, penulis naskah film dokumenter, periset film dokumenter dan menguasai pengetahuan sebagai sutradara film dokumenter (dokumenteris).
2. Produser Film Dokumenter, berada di level 6 (pada KKNI) yaitu memiliki kompetensi dasar manajemen produksi film dokumenter, dari tahap pra produksi misal : harus bisa menyiapkan proposal pada calon investor/donatur, mengelola tahapan produksi, tahapan pasca produksi hingga menjadi film dokumenter yang bisa disampaikan kepada masyarakat. Semua berdasarkan kaidah-kaidah dan etika produksi film dokumenter yang mengedepankan fakta dan realita serta kesepakan/kesepahaman semua pihak.
3. Penulis Naskah Film Dokumenter, berada di level 6 (pada KKNI) yaitu memiliki kompetensi dasar menguasai pola penulisan naskah film dokumenter. Mampu mengolah data-data faktual hasil riset hingga menjadi naskah film dokumenter.
4. Periset Film Dokumenter, berada di level 5 (pada KKNI), yaitu memiliki kompetensi dasar mampu mengumpulkan data-data faktual baik dari riset literatur maupun dari riset lapangan berkaitan dengan tema yang telah ditentukan oleh produser film dokumenter maupun oleh dokumenteris.(ril)

Komentar

Berita Lainnya