oleh

Demokrat Sumsel Umumkan Kader Pembelot

SUMEKS.CO, PALEMBANG – DPD Partai Demokrat (PD) Sumsel akhirnya merilis 13 nama kader dan mantan kader partai yang disebut sebagai begal politik karena keikutsertaannya pada Kongres Luar Biasa (KLB) di Sibolangit Deli Serdang 5 Maret lalu.

“Berdasarkan hasil dokumentasi berita di media yang tayang live pada saat berlangsungnya KLB abal-abal di Sibolangit. Diketahui pesertanya ada yang berasal dari Sumsel jumlahnya sekitar 13 orang baik kader maupun bukan lagi kader karena sudah dipecat dan mengundurkan diri dari Partai Demokrat,” ungkap Ketua DPD Partai Demokrat Sumsel H Ishak Mekki melalui Sekretaris  MF Ridho dalam siaran persnya Selasa (30/3).

Dia menguraikan Ke-13 nama tersebut yakni GF (mantan Ketua DPC Demokrat Kota Pagaralam), AI (mantan Ketua DPC Demokrat Ogan Ilir), HI (mantan Ketua DPC Demokrat Musi Banyuasin), AHA (mantan Sekretaris DPC Demokrat Banyuasin).

Lalu, ada pula Gm (mantan Ketua DPC Demokrat OKU Timur), Sh (Ketua Bakomstra DPC Demokrat OKU Timur), Ph (kader DPC Demokrat OKU), SRU (anggota BPOKKC DPC Demokrat PALI), AH (mantan Ketua DPC Demokrat Mura), IY (mantan Plt. Ketua DPC Demokrat Mura), TY (mantan pengurus DPC Demokrat Muratara), Rd (mantan Ketua PAC Demokrat Kecamatan Ilir Timur II Palembang), dan AR (mantan Wakil Ketua DPC Demokrat PALI).

“Sebagian besar begal politik yang ikut dalam KLB abal-abal ini merupakan para caleg gagal di Pileg 2019 yang lalu. Dan mereka ini sudaj diambil tindakan tegas oleh DPP Partai Demokrat dipecat dari kepengurusan Partai Demokrat di semua tingkatan,” tegas Ridho.

Ketua FPD DPRD Sumsel ini turut menyesalkan ada dua kader senior asal Sumsel yang turut memotori GPK PD yakni, Marzuki Ali, mantan Sekjen DPP PD 2009-2014 dan Syofwatilah (Opat, Caleg DPR RI gagal 2019) yang telah memberikan contoh buruk tentang demokrasi di Sumsel.

“Mereka pernah diberi kesempatan berkiprah, besar, dan menikmati jabatan melalui Partai Demokrat karena jasa Pak SBY, namun ketika mereka gagal nyaleg, mereka berduyun-duyun ikut dalam gerombolan ‘begal politik’ yang merampok, menghina dan memfitnah SBY serta Ketum AHY,” kata Ridho sembari menegaskan bahwa mereka adalah contoh buruk bagi generasi muda Sumsel dalam berdemokrasi,” katanya.

Ridho sangat menyesalkan perilaku mereka (para ‘begal politik’ yang telah menodai citra politisi dan partai politik di mata masyarakat. Padahal, lanjutnya, masih banyak sekali politisi dan partai politik yang berjuang dengan cara yang benar, mengedapankan etika dan berjuang sungguh-sungguh demi kepentingan dan aspirasi masyarakat.

“Mari selamatkan demokrasi, cegah perbuatan melawan hukum yang merusak demokrasi kita dari para ‘begal politik’ di daerah kita ini. Jangan salahkan bila publik menghukum mereka dengan sanksi sosial,” pungkasnya.(fdl/ril)

Komentar

Berita Lainnya