oleh

Densus 88 Bekuk Tiga Aktivis Jamaah Islamiyah

SUMEKS.CO- TASIK– Tidak seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang aktif melancarkan aksi teror, Jamaah Islamiyah (JI) seakan ”tidur”. Namun, JI ternyata masih terus menghimpun kekuatan. Untungnya, aparat berhasil mengendus gerakan mereka.

Pada Selasa (19/5), tim Densus 88 Antiteror menangkap dua anggota JI di Tasikmalaya. Penangkapan tersebut merupakan hasil pengembangan dari pengakuan MR. Dia ditangkap Densus 88 Antiteror di Tasikmalaya pada 12 Mei. Dalam penggeledahan di rumah MR, ditemukan puluhan senjata tajam dan alat kelengkapan bertahan hidup.

Nah, dari hasil penelusuran lanjutan, densus akhirnya menangkap dua orang lainnya. Yakni, MT, 38, dan DA, 45. Dua terduga teroris itu dibekuk di Perum Bumi Sentra Mas, Indihiang, Tasikmalaya. ”Jadi, total ada tiga orang,” ujar sumber Jawa Pos.

Menurut dia, tiga orang tersebut merupakan aktivis JI nonstruktural. Mereka masih menghimpun kekuatan untuk mendirikan negara khilafah. ”Masih diperiksa dan didalami,” katanya.

Sementara itu, Radar Tasikmalaya melaporkan, Rabu lalu (20/5) Densus 88 menggeledah rumah terduga teroris di Perum Bumi Sentra Mas, Kecamatan Indihiang. Kemudian, kemarin penggeledahan dilakukan di rumah terduga teroris berinisial DN di Kampung Saguling Panjang, Kawalu.

Dalam penggeledahan di rumah MT, Densus mengamankan puluhan pipa, 5 handie-talkie (HT), matras, laptop, buku, alat penerangan, dan ransel. Di rumah DN, Densus mengamankan 2 pistol airgun, 2 senapan laras panjang rakitan, dan peluru berkaliber 4,5 milimeter. Selain itu, sepeda motor Honda Megapro bernopol Z 3641 NX, mobil Isuzu Panther bernopol D 1356 CS, teleskop, laptop, kartu ATM, handphone, HT, teropong malam, dan samurai.

BARANG BUKTI: Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Anom Karibianto menujukkan barang bukti milik terduga teroris di mapolres kemarin (21/5). (DENI NURDIANSYAH/RADAR TASIKMALAYA

Bebas, Napi Dsambut Haru Anak Isteri.
Di tempat terpisah  Suasana haru dan tangisan keluarga mewarnai menyambut pembebasan tiga mantan narapidana kasus terorisme di Polres Tasik Malaya, Rabu (20/5/2020). Mereka bebas murni setelah menjalani masa hukuman selama dua tahun di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur.

Ketiganya, yaitu Ag (21 tahun), An (41), dan Dn (49), tak kuasa menahan tangis haru saat bertemu anak dan istrinya di halaman belakang gedung Mapolres Tasikmalaya Kota. Mereka saling berpelukan melepaskan rasa rindu setelah berpisah selama dua tahun mejalani masa hukuman di LP Cipinang.

Sebelum bertemu keluarga, ketiganya dijemput oleh aparat kepolisian Polres Tasikmalaya Kota bersama Tim Densus 88 Mabes Polri, dari LP Cipinang menggunakan mobil polisi ke Tasikmalaya. Ketiga orang itu tiba di Polres Tasikmalaya Kota pukul 17.00 WIB dan disambut keluarga penuh suka cita yang telah menunggu di Polres Tasikmalaya Kota.

Para mantan napi teroris itu akhirnya dapat kembali berkumpul dan berbuka puasa bersama keluarganya. Bahkan mereka bertiga juga bertemu dengan para sahabat dan buka puasa bersama ditemani langsung Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Anom Karibianto dan Waka Polres Kompol Riki Arisetiawan.

Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Anom mengatakan, polisi sengaja memfasilitasi kepulangan ketiga mantan napi teroris itu ke Tasikmalaya dan dipertemukan kepada keluarga setelah dinyatakan bebas murni. “Kami harap mereka bisa kembali ke masyarakat dengan normal seperti warga normal lainnya,” katanya.

Sebelumnya diketahui, ketiganya ditahan karena kasus kerusuhan di Markas Komando (Mako) Brigadir Mobil (Brimob) Depok, Jawa Barat, pada 2018. Diduga kerusuhan itu disebabkan oleh para napi kasus terorisme.

Anom mengimbau, agar masyarakat dapat menerima para mantan napi teroris itu. Sebab, lanjut dia, ketiga orang tersebut sudah menjalani hukuman selama dua tahun dan dinyatakan bebas murni.


Polisi pun terus berusaha mendorong dan mengawal agar proses adaptasi para mantan napi teroris itu dengan masyarakat. Selain itu, menurut Anom, polisi akan memfasilitasi segala hal yang berkaitan dengan kehidupannya para mantan napi teroris itu setelah mereka bebas, terutama dalam pemenuhan kebutuhan mereka.

“Kita juga akan koordinasi dengan pihak Pemerintah Kota Tasikmalaya. Barang kali ada program tertentu untuk meningkatkan ekonomi mereka. Saya yakin mereka bisa kembali dan berbaur untuk bergabung dengan masyarakat,” kata Anom.

Sementara itu, fasilitator sekaligus sesama mantan napiter, Anton Hilman mengaku selama ini pihaknya telah mendirikan sebuah yayasan untuk memfasilitasi dan menyosialisasikan agar bisa kembali lagi ke masyarakat. Pihaknya pun selama ini bergerak dalam mengubah pemahaman radikalisme kembali ke ajaran agama yang benar.

Sementara itu salah satu mantan napiter Dn, dirinya berterima kasih pada jajaran kepolisian karena sejak awal mulai dari pembesukan untuk keluarga yang akan membesuk ke lapas cipinang dan penjemputan saat bebas terus dibantu dan difasilitasi oleh Jajaran Kepolisian, Polres Tasikmalaya Kota. (jawapos/radartasik/jpnn/ckm)

Komentar

Berita Lainnya