oleh

Densus Bekuk 20 Terduga Teroris yang Siap Amaliah, Berikut Jaringanya

SUMEKS.CO- Polda Jawa Timur menyatakan terdapat beberapa dugaan pelaku tindak pidana terorisme di beberapa wilayah Jawa Timur. Hal tersebut berdasar pengembangan dari penggrebekan dan penangkapan terduga teroris pada Jumat (26/2).

Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Gatot Repli Handoko membenarkan kabar tersebut. Dia menyebutkan bahwa Polda Jatim menerima informasi bahwa terdapat kegiatan terorisme di Jawa Timur.

”Informasi yang didapat bukan hanya di Surabaya, tapi juga di beberapa tempat. Yaitu di Surabaya, Malang, dan Bojonegoro,” tutur Gatot pada Selasa (2/3).

Gatot menjelaskan, petugas dari Densus 88 sedang memproses beberapa terduga teroris. Mereka diamankan dari ketiga tempat tersebut.

”Di Surabaya diamankan 2 orang terduga teroris, di Malang juga 2 orang, dan di Bojonegoro 4 orang terduga teroris,” terang Gatot.

Delapan orang itu, lanjut Gatot, masih dalam pengembangan Densus 88 Mabes Polri. Polda hanya memdukung tim Densus 88.

”Jadi dari 12 tersangka kemarin dan sekarang 8 jadi total ada 20 orang,” ucap Gatot.

Gatot menambahkan, Polda Jatim akan terus berupaya membantu Densus dalam mengusut kasus terorisme di wilayahnya.

”Informasi dari teman-teman Densus ini pengembangan dari yang sebelumnya. Jadi masih ada hubungannya dengan yang kemarin diamankan dengan yang sekarang diamankan,” ujar Gatot.

di tempat terpisah Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono menjelaskan 12 terduga teroris yang ditangkap di Provinsi Jawa Timur merupakan kelompok Fahim. Kelompok ini sangat berkaitan dengan dalang sejumlah aksi teror bom, Upik Lawangan alias Taufik Bulaga (TB).

“Kalau mendalami kelompok ini, ada keterkaitannya dengan Upik Lawanga,” jelasnya di Mabes Polri, Senin (1/3).

TB, menurut Rusdi merupakan otak di balik aksi teror bom, seperti Bom Pasar Tentena, Bom Pasar Maesa, Bom Gor Poso, Bom Pasar Sentral, Bom Termos Nasi Tengkura, Bom Senter Kawua, dan rangkaian aksi teror lainnya pada tahun 2004 hingga 2006.

TB sendiri telah ditangkap Densus 88 Antiteror pada 23 November lalu di Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi Lampung.

Dikatakannya, 12 terduga teroris ini masuk dalam kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang berafiliasi ke Al Qaeda. Di Indonesia, setiap kelompok JI saling terkoneksi antara satu kelompok dan kelompok yang lainnya.

Dalam pembiayaan aksi, kelompok JI mendapatkan sokongan dana dari iuran anggota. Setiap anggota JI menyumbangkan 5 persen gaji atau pendapatan kepada organisasi. Selain itu juga melalui ribuan kotak amal berdalih bantuan untuk kemanusiaan yang disebarkan di minimarket-minimarket di Indonesia.

“Ini salah satu dana yang digunakan oleh JI untuk tetap menjaga eksistensi organisasi mereka,” ujar Rusdi.

Dilanjutkan Rusdi, para terduga teroris tersebut telah menyiapkan sejumlah amaliah atau aksi. Hal itu bisa dilihat dari sejumlah aktivitas yang telah dilakukannya. Aktivitas tersebut di antaranya latihan beladiri, merancang bungker untuk pembuatan senjata maupun bom rakitan. Selain itu, telah mempersiapkan tempat penyimpanan senjata hingga tempat pelarian setelah melakukan aksi terorisme.

“Mereka juga telah berencana melakukan amaliah,” ujar Rusdi.

Namun, Rusdi belum mengungkapkan bentuk amaliah apa yang akan dilaksanakan kelompok itu. Saat ini sedang dilakukan pendalaman.

“Bentuknya apa dan sasarannya mana, masih pendalaman dari Densus, nanti akan kami sampaikan,” katanya.

Sebelumnya Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan 12 terduga teroris ditangkap pada Jumat (26/2) di sejumlah wilayah di Jawa Timur.

“Dalam operasi penangkapan di Jawa Timur, tim Densus 88 menangkap 12 orang terduga teroris,” katanya.

Para terduga teroris tersebut berinisial UBS alias F, TS, AS, AIH alias AP, BR, RBM, Y, F, ME, AYR, RAS, dan MI. Dalam beraksi mereka memiliki peran yang berbeda-beda dalam jaringan terorisme.

“Delapan orang ditangkap di Sidoarjo, dua di Surabaya, seorang di Mojokerto, dan seorang lagi di Malang,” ungkapnya.

Dalam penangkapan tersebut, Polri mengamankan sejumlah barang bukti berupa 50 butir peluru 9 mm, satu pistol rakitan jenis FN, empat bendera daulat warna hitam dan putih, delapan bilah pisau, dua bilah samurai, golok, hingga senjata tajam berbentuk busur.

Sebelumnya Analis Utama Intelijen Densus 88 Antiteror Polri Brigjen Pol Ibnu Suhendra menyebut kelompok-kelompok teroris memanfaatkan kondisi pandemi COVID-19 untuk melakukan rekruitmen dan aksi teror atau serangan.

“Kelompok teroris melihat krisis pandemi sebagai peluang untuk lebih banyak perekrutan, dukungan, simpatisan untuk menyerang lebih keras,” katanya dalam sebuah diskusi pekan lalu.

Analisis tersebut menurutnya sesuai dengan perintah pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Ibrahim al-Hashimi al-Quraishi. Dia meminta pengikutnya melakukan serangan lebih keras di penjuru dunia selama pandemi. Demikian juga dengan jaringan teroris lainnya.

Dicontohkannya, kegiatan pengajian kelompok teror Jama’ah Ansharut Khilafah yang tetap berlangsung meskipun seluruh siswanya sempat terpapar COVID-19.

“Kini pengajian dilakukan dengan platform zoom sembari menyebarkan ajaran-ajaran,” ungkapnya.

Lalu jaringan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Jaringan ini masih eksis di tengah pandemi dengan menyebarkan video berisi pemenggalan korban melalui media sosial. Aksi ini mencontek kelompok ISIS di Timur Tengah guna menunjukkan kekuatan mereka.

Sedangkan jaringan JI menggunakan jejaring sosial. JI juga didapati memiliki pedoman dan strategi intelijen dengan nama Pedoman Umum Pergerakan Jama’ah Islamiyah (PUPJI) dan Total Amniyah System Total of Solution (TASTOS).

Sementara jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) didapati melakukan aktivitas dengan pola pergerakan jangka pendek dan berskala kecil. Seperti melakukan serangan kecil, pelatihan militer, dan melakukan penguasaan wilayah. Kegiatan tidak terorganisasi dan dilakukan dengan bantuan media sosial.

Dia mengatakan mengatakan kegiatan-kegiatan seperti itu perlu diperhatikan. Terlebih, diia menilai aktivitas terorisme di Indonesia terbilang meningkat seiring waktu. Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Vision of Humanity, Indonesia menempati posisi ke-35 negara terdampak terorisme pada 2019, naik dari posisi ke-42 pada 2017.

“Harapan kita semua harus menjauh dari angka kecil, jangan mendekat. Harapannya kita harus lebih dari (peringkat) 50. Ironisnya sekarang kita malah mendekat ke arah kecil,” katanya.

Sementara Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan untuk mencegah menyebarnya paham radikal terorisme harus melibatkan semua pihak.

“Harus melibatkan unsur pemuda, akademisi, paguyuban kesukuan, dan forum masyarakat untuk umat beragama. Melalui itu narasi kebangsaan ini akan semakin baik diterima masyarakat, terutama generasi muda,” katanya.

Dijelaskannya, paham radikal dapat dicegah dengan langkah literasi dan edukasi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Agar lahir sebuah pemahaman yang sama dalam menyikapi fenomena pengaruh paham ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.

Sebab itu, lanjut dia, diperlukan adanya sinergi dan dukungan pemerintah daerah, tokoh agama, serta tokoh adat dalam memperkuat sikap masyarakat dari propaganda radikal.

“Karena kita harus menyelamatkan generasi muda kita ini dari pengaruh paham radikal intoleran, yang dewasa ini secara masif menggunakan media sosial dalam menyebarkan paham dan ideologinya. Ini yang harus bersama-sama kita mencegahnya,” tegasnya.(gw/fin/jpg/jawapos)

Komentar

Berita Lainnya