oleh

Deru Akui Lemah di Tracing, Kasus Kematian pun Melonjak

SUMEKS.CO, PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan  Herman Deru mengakui, pihaknya cenderung lemah terhadap implementasi Testing, Tracing dan Treatment (3T). Akibatnya,  penekanan sebaran COVID-19 di Bumi Sriwijaya tidak sampai tuntas.

Khususnya, tracing atau identifikasi dini spesimen yang terlacak. Sehingga, pihaknya menyakini itulah indikator penyebab adanya lonjakan angka kematian. Betapa tidak angkanya sangat tinggi mencapai 4,7 persen diatas nasional 2,7 persen.

“Kalau kita lihat angka kematian yang diatas nasional jujur karena memang tracing kita ini rendah. Sehingga banyak didapati ketika pasien dirawat intensif kondisi nya sudah cukup parah,” ungkap Deru, pada Selasa (11/5).

Ia menjelaskan, dalam 100 kasus terkonfirmasi positif lima diantaranya meninggal dunia, lima orang tersebut akan diihitung 5 persen dalam data. Sedangkan kalau terpaparnya 200 yang meninggalnya 5 berarti tinggal 2,5 persen penambahan angka dalam data yang akan terakumulasikan.

“Masalahnya disini, 100 spesimen dari 200 kasus positif seharusnya didapat dari tracing pengambilan sampel. Itu yang kita harapkan,” Imbuhnya.

Namun faktanya, sambung Deru, sulit untuk menetapkan tracing tersebut meskipun sudah ada inovasi deteksi cepat paparan seperti antigen dan GeNose C19. Sebab, di lapangan hampir tidak ditemui masyarakat yang datang ke laboratorium atau Pusat kesehatan untuk memberikan samplenya untuk mengetahui dirinya terpapar atau tidak.

Komentar

Berita Lainnya