oleh

Di RUU Cipta Kerja, Syarat Pendirian Perguruan Tinggi Asing Kian Mudah

SUMEKS.CO – Rancangan undang-undang (RUU) Cipta Kerja (Ciptaker) menyerempet ranah pendidikan tinggi. Di dalam RUU yang kontroversial itu, ada ketentuan penghapusan sejumlah syarat pendirikan perguruan tinggi (PT) asing. Sehingga, pendirian kampus asing di Indonesia semakin mudah.

Dalam diskusi RUU Cipta Kerja di bidang Pendidikan Tinggi Senin (11/5), Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Hariadi Kartodiharjo menyebut ada sejumlah penghapusan syarat pendirian perguruan tinggi asing.

Dia menerangkan, di dalam RUU Ciptaker ada perubahan arti pendidikan tinggi, masalah pendirian perguruan tinggi asing, sampai prinsip nirlaba yang bersifat opsional.

Khusus soal syarat pendirikan kampus asing di Indonesia, sejumlah syarat dihapus. Seperti syarat perguruan tinggi asing yang akan mendirikan kampusnya di Indonesia harus terakreditasi di negaranya. Kemudian soal ketentuan mengenai di daerah mana perguruan tinggi asing boleh berdiri, juga dihapus.

Syarat lain yang dihapus adalah kewajiban kerja sama dengan perguruan tinggi lokal serta ketentuan harus mengutamakan dosen dan tenaga pendidikan warga negara Indonesia.

Plt Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nizam membenarkan di RUU Ciptaker ada sejumlah tema atau isu tentang pendidikan tinggi. Soal perguruan tinggi dapat tidak nirlaba itu hanya untuk PTS. “PTN tetap harus nirlaba,” katanya.

Menurut guru besar UGM Jogjakarta itu, keberadaan perguruan tinggi asing di Indonesia dapat membuka akses pendidikan berkualitas untuk masyarakat luas.

Anggota Komisi X (membidangi urusan pendidikan) DPR Ferdiansyah mengatakan, RUU Ciptaker adalah usulan dari pemerintah. “Bukan dari DPR,” tuturnya.

Dia menjelaskan kondisi di Indonesia saat ini kualitas riset dan inovasi masih rendah. Dengan demikian, melalui RUU Ciptaker diharapkan bisa mendongkrak kualitas riset dan inovasi.

Merujuk hasil penilaian Global Innovation Index (GII) 2019 di level ASEAN, posisi Indonesia berada di kelompok bawah. Posisi Indonesia kalah jauh dibandingkan Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Indonesia hanya lebih bagus dari Kamboja.

Ferdiansyah menegaskan bahwa RUU Ciptaker itu masih dalam pembahasan. Dia menyambut baik jika nanti Asosiasi Profesor Indonesia (API) bersedia melakukan aduensi dengan parlemen dan menyampaikan sejumlah masukan. Terkait perguruan tinggi boleh untuk tidak nirlaba, merupakan kondisi saat ini yang tidak bisa dielakkan.

Politisi Partai Golkar itu menjelaskan motivasi utama yang ada di RUU Ciptaker dalam bidang pendidikan tinggi. Dia mengatakan pendidikan tinggi tidak hanya bertujuan untuk mencetak pekerja. Tetapi juga harus bisa menciptakan pekerjaan melalui riset dan inovasi.

Dia mengatakan lingkungan perguruan tinggi harus maju dan tidak boleh terus berada di zona nyaman. Sebab saat ini sudah masuk dalam dunia kompetisi. Dia mengatakan perlu didorong peningkatan kualitas riset dan inovasi. Kegiatan riset dan inovasi tidak boleh berhenti pada penelitian yang hanya tercetak dan tersimpan di lemari perpustakaan.(jp/jawapos)

Komentar

Berita Lainnya