oleh

Didi Kempot, sang Duta Bangsa

PADA Oktober 2018, ia kembali mengantongi penghargaan dari Presiden Suriname Desiré Delano Bouterse. Dia pernah pula dinobatkan sebagai Gold Man dan Artis Teladan Pop Jawa berkat tembang Layang Kangen, Sewu Kutho, Stasiun Balapan, Sri Minggat, dan lainnya yang kerap diputar di Radio Bangsa Jawa di Suriname. Kendati bergelimang harta dan berada di puncak karir, dia tetaplah seperti manusia prasaja (sederhana). Tak malu menceritakan awal karirnya dari bawah menjadi pengamen jalanan. Dari situlah Didi, yang dijemput dewa kahyangan ke surga pada Selasa (5/5) pagi, memperoleh julukan Kempot, singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar.

Didi Kempot sejatinya tidak berhenti sebagai musisi dan penghibur publik. Buah hati seniman Ranto Edi Gudel tersebut melebihi perannya sebagai pelantun tembang Jawa di panggung. Lelaki bertanggal lahir 31 Desember 1966 itu adalah sang duta bangsa dan simbol harmoni bangsa! Fakta tersebut sukar disangkal tatkala melihat kiprah kali pertama di Suriname, jauh sebelum menjadi penyanyi kondang di negerinya sendiri. Tercatat, adik pelawak Mamiek Prakoso itu budal menghibur masyarakat Suriname kali pertama tahun 1993. Hingga detik ini, ”priayi Sala” tersebut sudah bermusik di Suriname sebanyak 11 kali dan di Belanda 2 kali.

Didi Kempot cerdas dan sanggup merespons balik masyarakat Suriname dengan menciptakan lagu di Suriname. Kangen Nickerie (suatu distrik di Suriname), Joget Sikep (joget berangkulan yang terinspirasi budaya Belanda), dan Kowe Isih neng Kene merupakan judul lagu yang ditelurkan Didi Kempot untuk menghormati publik Suriname. Di sinilah Didi Kempot juga penjaga ingatan.

Tempo doeloe, orang Jawa yang dipindahkan ke Suriname oleh pemerintah Belanda sebagai buruh murah atau kuli kontrak di perkebunan-perkebunan gula ataupun kayu yang ada di Suriname ini kebanyakan berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tidak heran jika bahasa sehari-hari kaum buruh Jawa di Suriname adalah bahasa Jawa agak kasar (ngoko). Pasalnya, daerah asal imigran dalam konsep batas geografis kerajaan tradisional Mataram Islam masuk dalam kategori negaragung (misalnya Purworejo dan Madiun), yang sedikit banyak tidak terkekang oleh bahasa Jawa kromo. Barangkali pula dalam struktur buruh tempo dulu tidak ada jenjang yang berarti dan tak menumbuhkan budaya berbahasa Jawa kromo. Sehingga sesama buruh dalam bercakap-cakap memakai bahasa Jawa ngoko tanpa memedulikan sekat (pangkat, umur, dan kelas) dan apalagi bahasa Jawa ngoko sifatnya lebih cair untuk pergaulan sosial.

Meski wilayah Jawa Indonesia-Suriname terpisahkan oleh jarak bermil-mil, dalam momentum itu Didi Kempot mampu merasakan bahwa masyarakat Suriname yang menikmati lagu seolah-olah dekat dengan tanah nenek moyangnya atau area tempat lahirnya budaya Jawa. Juga seakan mereka cedak tanpa wates (dekat tanpa batas). Dalam konteks ini, dapat dimengerti jika sebuah lagu Jawa merupakan salah satu alat ampuh untuk menerbangkan ingatan kolektif penduduk Jawa Suriname terhadap tempat di mana budaya asli Jawa berasal, sekaligus berfungsi untuk menjaga agar ora lali oyote (tidak lupa asal usulnya). Dengan dielu-elukannya lagu Didi Kempot, tampak sekali orang Jawa di Suriname masih punya ikatan batin yang kuat terhadap budaya asalnya.

Boleh dibilang, Didi Kempot di Suriname seperti manggung di Indonesia (Jawa) dan juga menyapa saudaranya sendiri yang notabene berkultur Jawa itu. Menyusup keyakinan dalam diri Didi Kempot bahwa tidak akan mungkin orang Jawa di Suriname menyukai tembang Jawa (campursari) bila tanpa memiliki ikatan batin dengan Indonesia, wabilkhusus Jawa. Sebab, ikatan/rasa itulah yang menjadi faktor utamanya. Tidak hanya digemari kalangan sepuh yang barangkali bisa dipastikan masih kental dengan memori sejarah leluhur Jawa yang berimigrasi ke Suriname, kala itu kaum muda juga senang menyaksikan dan mendengarkan lagu-lagu Jawa.

Ditinjau dari aspek komunikasi (bahasa) lagu, juga tidak menimbulkan problem lantaran mereka (penikmat) memahami bahasa Jawa ngoko. Didi Kempot justru memaknai panggung gandang di Suriname sebagai sebuah ruang transmisi nilai-nilai Jawa kepada masyarakat setempat. Aspek rasa, budi pekerti, cerita asmara, dan ajaran Jawa serta kondisi pedesaan khas Jawa yang termaktub dalam langgam Jawa setidaknya dapat diterima dan secara tidak langsung dipelajari para pendengar. Sehingga mengajak mereka untuk makin melek (paham) Jawa dan tidak kepedhotan Jawane. Dalam kaitan itu pulalah, lagu Jawa pada masyarakat Suriname berhasil melintasi sekat umur dan sekat sosial serta kehadiran lagu Jawa dianggap mampu mengingatkan siapa sebenarnya mereka (jati diri).

Sekeping fakta tersebut merupakan sebuah –meminjam istilah sejarawan Kuntowijoyo– fenomena sensibilitas Jawa. Dalam banyak kamus, sensibilitas disamakan dengan sentimen, yang kurang lebih diartikan sebagai situasi emosional dan rasa. Juga perasaan tentang kesedihan, kegembiraan, dan cinta. Sensibilitas diperoleh dengan belajar. Sebab, orang Jawa yang berdiam di luar Pulau Jawa tidak sanggup menangkap sensibilitas kejawaannya tanpa ada aspek belajar.

Bahkan, wong Jawa tidak akan menjadi Jawa tanpa mempelajari atau mewarisi khazanah sensibilitas Jawa yang termuat dalam lagu tradisional, karya sastra, dongeng rakyat, kebajikan, dan ungkapan. Sekalipun yang pantas mengantongi sensibilitas Jawa adalah orang Jawa, bukan tidak mungkin orang luar Jawa bisa memiliki kualitas kejawen. Jadi, sensibilitas Jawa merupakan kualitas terbuka, yang tidak terbatas pada orang Jawa saja, tak terkecuali sedulur (saudara) yang tinggal di Suriname.

Demikianlah, kehebatan pria yang bernama asli Dionisius Prasetyo itu. Tidak hanya berkontribusi di lapangan musik, ia juga berjasa besar bagi bangsa Indonesia dan masyarakat Jawa yang tersebar di dunia internasional. Tak hanya menghibur hati yang sedang patah untuk bergoyang, ia juga meyakinkan generasi kontemporer untuk tidak malu berbicara (bernyanyi) bahasa Jawa dan mencintai lagu lokal. Berkat kehadirannya, regenerasi penutur bahasa Jawa terjaga. Dia milik semua orang. Selamat terbang ke suwarga, Mas Didi Kempot. (*)


*) Heri Priyatmoko, Dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, founder Solo Societeit

Komentar

Berita Lainnya