oleh

Diduga Fitnah dan Cemarkan Nama Baik, Oknum Pengacara Dilaporkan

PALEMBANG – Agustina Novitasarie SH, MH dan Rahmad Hartoyo SH, MH, melaporkan seorang oknum pengacara yang berdomisili di Kabupaten OKU berinisial Ri ke SPKT Polda Sumsel, Selasa (8/10) siang.

Oknum tersebut diduga telah melakukan fitnah dan pencemaran nama baik kliennya di salah satu media online di Kabupaten OKU, Baturaja, tanggal 2 Oktober 2019 lalu.

Menurut Agustina, saat itu Ri memberikan statement kepada media tersebut bahwa kliennya telah melakukan penipuan dan penggelapan jemaah haji.

“Intinya keterangan terlapor Ri mengatakan bahwa kliennya tertipu Rp390 juta dan selama di pesawat diberi obat tidur dan tak sadarkan diri,” terangnya.

Lalu begitu sadar langsung dikatakan telah selesai melaksanakan ibadah haji. “Itu kan keterangan tidak masuk di akal, masak ada orang pingsan berjam-jam di pesawat, maskapainya tidak tahu dan tidak ada laporan ada cerita seperti itu,” tambah Agustina lagi.

Kepada petugas, Agustina menceritakan yang sebenarnya. Dia menuturkan, klien terlapor Ri yang bernama Cik Uli mendaftar haji di travel umroh milik klien pelapor bernama Afallah Mitra untuk keberangkatan haji tahun 2020.

“Dan formulir pendaftarannya ada, tapi tahu-tahu pada tahun 2018 klien Ri memaksa klien kami minta diberangkatkan, dengan alasan kesehatan dan terlalu lama menunggu tahun 2020.

Dari tahun 2020 menjadi tahun 2018 tapi ternyata tidak bisa berangkat di tahun 2018, karena sudah terdaftar di 2020,” bebernya lagi.

Karena itulah kliennya bisa berangkat dan klinennya Ri minta dikembalikan uang yang sudah disetorkan sebesar Rp335 juta. “Dan dikembalikan dan semua uang yang sudah disetorkan, tapi klien Ri ini malah minta dilebihi Rp30 juta dari jumlah yang sudah disetorkan dengan alasan sudah banyak rugi dan lain-lain. Karena tidak mau pusing ditambahi klien kami lah Rp30 juta. Jadi total uang yg dibayarkan klien kami Rp365 juta dari Rp335 juta dan dibuatkan perdamaian,” ungkap Agustina kepada awak media usai membuat laporan.

Pihaknya juga mengumpulkan barang bukti seperti bukti transfer, berita acara serah terima dan termasuk foto-foto kesepakatan saat berdamai.

Tapi 9 hari kemudian, kliennya menerima uang pengembalian dana haji dan terlapor membuat LP penipuan pengelapan. Juga meminta uang berdamai sebesar Rp70 juta.

“Saat permintaan uang Rp70 juta sebagai syarat pencabutan laporan mereka di Polres OKU mereka berubah lagi. Syarat berdamai yakni mau minta naik haji plus untuk 2 orang dengan semua biaya harus ditangung klien kami Efallah Mitra, yang biayanya hampir Rp400 jutaan.

Karena klien kami merasa dipermainkan dan diperas akhirnya kami melaporkan klien Rumsi yaitu Cik uli ke Polres OKU dan saat ini laporan kami sedang berjalan. Itu fakta dan kita memiliki bukti-bukti atas keterangan kami ini,” tukasnya.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi membenarkan laporan bernomor LP/811/X/2019/SPKT tertanggal 8 Oktober 2019. “Laporan korban yakni UU ITE atau fitnah atau pencemaran nama baik melalui media elektronik.

Laporannya kita terima dan saat ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut,” kata Supriadi.(dho)

Komentar

Berita Lainnya