oleh

Dijebak Kasus Narkoba, ini Pembelaan Hafiz Quran

-Hukum-395 views

KAYUAGUNG – Sidang lanjutan perkara kasus kepemilikan narkoba jenis ekstasi, dengan terdakwa M Masagus Ahadi (23), warga Perumahan Talang Kelapa, Kecamatan Alang-Alang Lebar, Palembang kembali digelar dengan agenda pembacaan pembelaan oleh terdakwa dilakukan di Pengadilan Negeri Kayuagung, Kamis (25/7).

Didampingi kuasa hukumnya Abdul Rahman SH, terdakwa membacakan pembelaan bersumpah tidak menggunakan ekstasi sebagaimana yang dituduhkan kepadanya. “Jika saya berbohong, garansinya hilang hapalan dan laknat Allah kepadanya. Apabila mereka yang berbohong, merekalah yang menerima laknatmu,” kata Ahadi dalam pembelaannya.

Penasihat hukum terdakwa, Abdul Rahman SH membacakan pembelaan sebanyak 38 lembar. Terdakwa dijadikan korban atau tumbal karena terdakwa adalah orang yang lugu, tidak tahu dan tidak kenal dengan dunia narkotika.

“Penangkapan terdakwa murni rekayasa oleh oknum polisi Satnarkoba Polres OI (Ogan Ilir),” tegasnya.

Dimana kliennya merupakan hafiz Quran tidak pernah sama sekali menggunakan narkoba. Barang bukti yang ditemukan di dalan jaket terdakwa saat penangkapan bukan milik terdakwa. Kliennya dipaksa mengakui saat diperiksa anggota polisi di Polres Ogan Ilir, terdakwa dipaksa untuk mengakui,” tegasnya.

Barang bukti itu, sengaja dimasukkan seseorang bernama Dita, yang sebelumnya berada dalam mobil dengan terdakwa. Yakni berangkat dari Palembang menuju Indralaya Ogan Ilir atas permintaan Dita. Dita ini temannya rekan sekolah terdakwa saat SMA. Namun beberapa saat belum ditangkap, Dita keluar dari mobil dengan alasan membeli pembalut, sedangkan terdakwa dikasih uang Rp100 ribu oleh Dita untuk mengisi minyak di SPBU Romi Herton di Indralaya Utara.

Saat di SPBU inilah, sejumlah anggota Satnarkoba Polres Ogan Ilir langsung menggeledah mobil terdakwa dan langsung mencari jaket milik terdakwa yang sebelumnya ditaruh barang bukti narkoba sebanyak 19 butir. Bukti percakapan via WhatsApp antara oknum polisi bernama Jodi dengan Dita, ada. “Dalam percakapan semua rekayasa untuk penangkapan dan sudah diatur,” terangnya.

Majelis hakim diketuai Jarot Widiyatmono SH dengan anggota Resa Oktaria SH dan Irma Nasution SH, menunda sidang itu pada pekan depan dengan agenda  tanggapan dari jaksa penuntut umum.

“Kami tunda sidang dengan ada tanggapan dari jaksa,” tandasnya. (uni)

Komentar

Berita Lainnya