oleh

Disayangkan, Tidak Bisa Sumbang PAD

PALI – Meskipun kawasan percandian Bumi Ayu sudah cukup tersohor sebagai lokasi wisatawan ditengah masyarakat luas. Namun ternyata hingga saat ini belum mampu dimafaatkan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bagi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Hal itu lantaran, kawasan percandian yang memiliki 12 candi. Yang terletak di Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang ini, belum memiliki peraturan daerah (Perda). Untuk melakukan pungutan retribusi dari para wisatawan yang hadir ratusan orang setiap harinya.

“Tidak adanya Perda tersebut, jadi kita tidak bisa menarik retribusi. Dan inilah yang sangat disayangkan karena Cagar Budaya Bumi Ayu ini bisa dikembangkan dalam hal ini memalui pemerintah . Agar bisa menjadi wisata keluarga di PALI,” ungkap Andi Fatahillah. Selaku pemantau Cagar Budaya PALI-Muara Enim, Kamis (20/6).

Lebih lanjut dikatakanya, minat pengunjung sudah banyak yang ingin berwisata ke kawasan Candi Bumi Ayu. Tentu akan bisa menambah PAD Kabupaten PALI. Untuk itu, pihaknya beserta masyarakat sekitar berharap dengan adanya Candi Bumi Ayu bisa menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Baik pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi.

“Dampaknya selain bisa menambah PAD Kabupaten PALI. Juga bisa memperbaiki perekonomian warga sekitar lantaran bisa membuka berbagai peluang usaha disekitaran komplek Candi Bumi Ayu. Untuk itu, kita bersama berharap agar lebih dikembangkan lagi. Karena Cagar Budaya Candi Ayu satu-satunya di Provinsi Sumatera Selatan. Jadi pengunjung tidak hanya melihat candi namun bisa sekaligus rekreasi,” terangnya.

Dijelaskanya, bahwa kawasan Candi Bumi Ayu sendiri berdiri diatas lahan seluas 210 hektar. Dengan dilengkapi sebanyak 12 bangunan candi. Candi Bumi Ayu sendiri di Ekskapasi Tahun 1990 berawal dari menemukan artefak. Dari 12 bangunan candi, ada lima candi yang sudah dilakukan pemugaran dan pengupasan. Sementara sisanya masih terus dilakukan pemugaran.

“Bangunan-bangunan Candi Bumi Ayu ada beberapa nama. Seperti Arca Nandi, Kepala Arca, Kepala Kala serta Makar yang berbahan Laimstone (batu kapur) atau Tufa. Dengan didominasi bangunan identik beragama Hindu. Dengan kaya akan sejarah ini Candi Bumi Ayu bisa didatangi 200-300 pengunjung perhari. Belum lagi jika hari libur yang bisa mencapai ribuan warga yang datang baik dari luar kota dan sekitaran PALI. Jadi sangat disayangkan kalau tidak bisa bermanfaat bagi PAD PALI,” tambahnya.

Sementara, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten PALI, Yunimawati mengatakan. Bahwa pihaknya belum menarik retribusi di setiap wisata yang ada di Kabupaten PALI. Lantaran belum adanya Peraturan Daerah sehingga tidak memiliki payung hukum.

“Khusus Candi Bumi Ayu, memang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Sejauh ini Candi Bumi Ayu masih dikelola swadaya dari desa dan masyarakat serta pihak BPJB Jambi,” terangnya.

Sementara ini, pihaknya sudah menyediakan panggung Pentas Seni di areal Candi. Sehingga bisa menjadi edukasi bagi pendidikan siswa. Kedepan pengembangan seputaran Bumi Ayu akan terus dilakukan. Seperti pentas seni akan terus digalakkan sehingga bisa menghibur pengunjung yang hadir,” pungkasnya. (ebi)

Komentar

Berita Lainnya