oleh

Ditutup Pagi Sore Buka Lagi

YOGYAKARTA – Kurun dua tahun terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menutup sebanyak 1.800 perusahaan fintech illegal yang tidak mematuhi aturan dan persyaratan yang telah ditetapkan. Yang disayangkan, usaha fintech ilegal ini terus tumbuh lantaran tidak ada yang dapat membatasi aplikasi fintech illegal karena dapat diakses semua orang.

“Meski kita lakukan monitor setiap saat tapi saat ditutup pagi hari ternyata sudah buka lagi di sore harinya. Hanya saja jika telah terbukti melakukan proses aktivitas keuangan sudah tidak diperbolehkan lagi operasional,” ungkap Direktur Hubungan Masyakarat OJK RI, Darmansyah sebagai pembicara pelatihan dan gathering media massa Kantor Regional (Kanreg) 7 OJK Sumbagsel, di Hotel Novotel Suits Malioboro, Yogyakarta.

Sementara, sampai saat ini jumlah perusahaan fintech yang terdaftar dan memiliki izin sejumlah 164 perusahaan fintech. Pembicara lainnya, Kepala Kanreg 7 OJK Sumbagsel, Untung Nugroho memaparkan soal Regional Market Update 2019 di wilayah Sumbagsel. Dimana, untuk grafik pertumbuhan ekonomi nasional tahun lalu sebesar 5,02 persen. Dimana, laju pertumbuhan ekonomi dua provinsi yakni Sumsel dan Lampung melampaui pertumbuhan nasional masing-masing sebesar 5,71 persen dan 5,27 persen. Selain itu, untuk sektor lapangan usaha di Sumsel yang dominan memberikan kontribusi tinggi yakni pada Penyediaan Akomodasi (hotel dan penginapan), dan Makan Minum yang mencapai 13,74 persen.

“Secara umum kontribusi sektor penyedia akomodasi dan makan minum merupakan sektor utama dari 4 provinsi dari 5 provinsi di wilayah kerja OJK KR 7 Sumatera Bagian Selatan, yaitu Sumatera Selatan (13,74%), dan Kep. Bangka Belitung (10,77 persen), Bengkulu (10,10 persen) dan Lampung (10,09 persen),” ucap Untung. Kegiatan pelatihan dan gathering medis massa ini dihelat 20-23 Februari 2020 dengan melibatkan sebanyak 55 jurnalis media cetak, elektronik di wilayah Sumbagsel dan Babel.(kms)

Komentar

Berita Lainnya