oleh

Dosen PTKI Harus Steril dari Radikalisme

SUMEKS.Co- Menteri Agama, Fachrul Razi menegaskan, bahwa dosen perguruan tinggi yang sudah tersertifikasi dituntut tak hanya profesional dalam pekerjaannya, namun juga bersih dari paparan radikalisme. Menurutnya, dosen adalah ujung tombak proses transfer ilmu pengetahuan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa.

“Dosen mempunyai tugas mentransformasi ilmu pengetahuan kepada mahasiswa di kampus. Untuk itu, kita tidak ingin anak didik mendapat asupan ideologi yang bertentangan dengan negara dan melakukan tindakan melawan konstitusi,” kata Fachrul.

Pernyataan Facrul tersebut, disampaikan ketika Kementerian Agama (Kemenag) mengadakan Yudisium, dalam rangka rapat pleno penetapan kelulusan sertifikasi dosen tahun 2019. Pada sertifikasi tahun ini, terdapat 1.502 peserta, lima dosen tidak lulus, sedangkan satu dosen lulus dengan catatan.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), Arskal Salim GP menjelaskan, masih ada dosen yang meminta bantu orang lain untuk mengisi portofolio dan menyontek atau menyalin deskripsi diri milik peserta lain.

“Ada celah pengisian portofolio, peserta serdos minta bantu orang lain, terutama mengisi pertanyaan tentang Wawasan Islam Kebangsaan (WIK). Hal ini menjadi perhatian, karena instrumen WIK digunakan agar penerima serdos tidak ada yang terpapar paham radikal,” kata Arskal.

Fachrul mengingatkan, semua program harus meminimalisir masuknya paham radikal berbasis agama dan menjaga instansi negara dari anasir-anasir kelompok tersebut. Menurutnya, sertifikasi dosen merupakan bukti keprofesionalan seorang dosen.

“Pada tahun ini Kemenag mendapat kuota 1.500 peserta, sedangkan tahun depan kuotanya semakin menurun yaitu hanya untuk 500 dosen,” tuturnya.

Sementara itu, Kasubdit Ketenagaan, Syafi’i menjelaskan, tes yang diujikan dalam sertifikasi dosen meliputi wawasan Islam Kebangsaan, persepsional, deskripsi diri, konsistensi persepsional-deskripsi diri, sertifikat bahasa, dan nilai gabungan PAK dengan persepsional.

“Penilaian tersebut dilakukan secara onlinedengan menggunakan ‘kriteria multi jenjang’,” ujarnya.(der/fin)

Komentar

Berita Lainnya