oleh

Dua hari bersandar di Palembang, Petani Korban Konflik Agraria Sumatera Utara Lanjut long march Menuju Istana Negara

SUMEKS.CO – Palembang – Selama dua hari satu malam bersandar di Sekretariat Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan jl Sekip Jaya, Palembang. Rombongan petani mengatas namakan Serikat Petani Sei Mencirim dan Simalingkar Bersatu asal Sumatera Utara melanjutkan kembali perjalanan panjang (long march) untuk bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, guna meminta keadilan atas lahan mereka. Senin (27/7) siang.
Para petani yang tersandung permasalahan lahan itu memulai perjalanan sejak 17 Juni lalu, lebih kurang sejauh 1.812 KM Jarak tempuh yang mereka lalui dengan berjalan kaki. Sebanyak 170 petani ini, nekat melakukan aksi jalan kaki demi bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara untuk mengadukan terkait dugaan penggusuran lahan yang dilakukan PTPN II Tanjung Morawa.
Para petani menganggap perusahaan plat merah PTPN II Tanjung Morawa telah menyerobot dengan melakukan penggusuran atas lahan seluas 854 Ha tepatnya di wilayah Desa Simalingkar, Desa durin tunggal, Desa Namu Bintang, Kecamatan Pancur Batu, Deli Serdang Sumatera Utara.
Koordinator aksi perjalanan, Widy Wahyudi (53) menjelaskan, lahan tersebut sudah mereka tinggali sejak tahun 1950 dan sudah bersertifat hak milik.
“Kami hendak meminta keadilan kepada Presiden, dimana kami merasa terjajah di tanah sendiri, tempat tinggal kami telah dirampas oleh korporasi besar yaitu PTPN II,” ujarnya.

Menurut Widy, pihaknya telah melakukan upaya jalur hukum terkait tanah tersebut kepada pemerintah Sumut namun diabaikan. menaruh dugaan yang serius bahwa pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tidak berpihak kepada rakyatnya, termasuk pada para petani yang menjadi korban penggusuran paksa oleh PTPN II Tanjung Morawa.
“Berbagai cara sudah kami tempuh mungkin ini dapat disebut aksi gila. Harapan terakhir bagi kami kaum petani agar Presiden Jokowi bisa memberikan kembali hak – hak kami yang telah di rampas paksa”, cetus Widy.

Sambungnya Widy menegaskan, aksi yang dilakukan ini bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk 2 Ribu KK yang terancam kehilangan tempat tinggal, peternakan, kebun milik mereka, tentu berdampak buruk terhadap masa depan anak-anak.

Selaku ketua koordinator Serikat Petani Simalingkar Bersatu longmarch, Awan Purba (50) sebelum memulai kembali perjalanan menyampaikan, terima kasih kepada masyarakat kota Palembang yang sudah menerima dan melayani kami rombongan petani dengan sangat baik dan antusias tinggi khususnya untuk Walhi Sumsel dan Solidaritas Rakyat Sumsel. Ia menganggap pertemuan dengan masyarakat di Palembang dengan sendirinya telah memberi semangat moril untuk tetap berjuang atas nama keadilan, di tengah kesewenangan pajabat publik terhadap petani.

“Saya mewakili 170 orang petani lainnya, menyampaikan ribuan terima kasih kepada masyarakat kota Palembang sudah menyambut kami dengan antusias tinggi. Terkhusus bagi Walhi Sumsel dan Solidaritas Rakyat Sumsel sudah menyukupi kebutuhan makan dan minum dengan dapur darurat. Mohon doa agar kami di berikan kesehatan dan keselamatan. Sampai mendapatkan hasil sebagaimana yang di harapkan, kembalinya hak-hak atas lahan kami,” ucapnya kepada SUMEKS.CO.(bima/mg1)

Komentar

Berita Lainnya