oleh

Dua Partai ini Diprediksi Gagal ke Senayan

JAKARTA – Dua partai pengusung capres nomor urut 01 Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin diprediksi gagal menempatkan kadernya ke DPR RI perioden 2019-2024. Ini karena konflik internal dan masalah hukum yang mendera dua partai tersebut menjadi penyebabnya. Hanura dan PPP diprediksi tidak mampu bersaing untuk menembus ambang batas 4 persen.

Survei Polmatrix Indonesia menunjukkan elektabilitas Hanura sebesar 1,1 persen, sedangkan PPP 2,7 persen. Dengan memperhitungkan margin of error, di atas kertas sulit bagi Hanura untuk dapat menembus ambang batas parlemen.

PPP masih berpeluang, tetapi elektabilitasnya jauh di bawah partai-partai papan tengah lainnya. “PPP dan Hanura sama-sama mengalami persoalan internal, warisan konflik yang belum terselesaikan,” ungkap Direktur Riset Polmatrix Indonesia Dendik Rulianto dalam siaran pers di Jakarta.

Dua kubu masih terbentuk di PPP, sedangkan ketua umum Hanura Osman Sapta Odang masih berjuang untuk maju lewat jalur senator. Menurut Dendik, penangkapan ketua umum Romahurmuzy oleh KPK berpotensi pula menurunkan suara PPP dalam Pileg.

Sementara itu gugatan OSO terhadap KPU supaya diperbolehkan maju sebagai caleg DPD mencerminkan apatisme di tubuh Hanura. Sebagian kader Hanura ditengarai memilih pindah ke partai lain di arena pileg.
Konflik internal, lanjut Dendik, pernah pula membayangi Golkar, tetapi dapat segera diselesaikan. Meskipun demikian perbedaan pandangan tetap mengemuka di antara kader-kader Golkar dalam menyikapi dukungan terhadap pilpres. Demokrat yang sudah relatif sepi dari konflik juga terbelah sikapnya dalam Pilpres.

Berbeda dengan Golkar dan Demokrat, posisi PPP dan Hanura adalah juru kunci pada Pemilu 2014. Elektabilitas Golkar bertengger di angka 9,6 persen, sedangkan Demokrat 5,6 persen. PPP dan Hanura juga terancam oleh kehadiran parpol-parpol baru, seperti Partai Solidaritas Indonesia (3,9 persen) dan Perindo (1,9 persen).
Dua parpol besar PDIP dan Gerindra masih unggul jauh di atas semua parpol. Elektabilitas PDIP mencapai 26,8 persen, sedangkan Gerindra 15,1 persen. Lalu PKB sebesar 8,2 persen. PDIP merupakan parpol utama pengusung paslon Jokowi-Ma’ruf, sedangkan Gerindra mengusung Prabowo-Sandi.

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mencapai 56,6 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 35,1 persen, dan sisanya 8,3 persen tidak tahu atau tidak menjawab. Jika diekstrapolasikan, Jokowi-Ma’ruf berpeluang memenangkan Pilpres dengan elektabilitas 61,7 persen. Prabowo-Sandi cukup puas dengan 35,1 persen.

Survei Polmatrix Indonesia dilakukan pada rentang waktu 1-7 April 2019, dengan jumlah responden 2.000 orang. Metode survei adalah multistage random sampling (acak bertingkat) dengan margin of error ±2,2 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. (dil/jpnn)

Komentar

Berita Lainnya